MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Program iklim dan kemanusiaan yang dilakukan Muhammadiyah disampaikan di hadapan Royal College of Defence Studies (RCDS) Inggris dalam forum strategis bertema Interfaith Engagement, Climate Resilience, and Humanitarian Collaboration di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (19/5).
Salah satu sesi utama menampilkan presentasi Program 1000 Cahaya Muhammadiyah yang disampaikan oleh Hening Parlan, Direktur program tersebut sekaligus Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan masa depan generasi muda.
“Daripada hanya mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin yang memberi cahaya,” ujarnya.
Program 1000 Cahaya Muhammadiyah mendorong efisiensi dan transisi energi bersih melalui sekolah, pesantren, masjid, cabang dan ranting Muhammadiyah, serta komunitas akar rumput, serta menghadirkan solusi konkret berbasis masyarakat dalam menghadapi krisis iklim.
Muhammadiyah memandang transisi energi tidak semata sebagai perpindahan menuju energi baru atau energi hijau, tetapi sebagai bagian dari amanah keagamaan untuk menjaga bumi berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalam kerangka ini, Muhammadiyah memperkenalkan konsep “energy from heaven” atau energi dari surga, yang menekankan bahwa energi merupakan anugerah Tuhan yang harus dikelola secara adil, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.
Untuk memperkuat landasan etis dan keagamaan dalam isu ini, Muhammadiyah juga mengembangkan pendekatan fikih transisi energi yang berkeadilan, yang menjadi panduan dalam memahami perubahan energi tidak hanya sebagai isu teknis, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Menurutnya, transisi energi tidak boleh menjadi isu elite semata, tetapi harus dapat diimplementasikan hingga tingkat komunitas.
Melalui pendekatan Eco Bhinneka Muhammadiyah, generasi muda lintas iman dan masyarakat adat juga dilibatkan dalam aksi lingkungan bersama.
“Salah satu contohnya di Ternate – Maluku Utara, di mana pemuda lintas iman bekerja bersama dalam aksi lingkungan bersih pantai. Perdamaian tidak cukup hanya melalui dialog, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata bersama,” ujarnya.
Muhammadiyah juga memandang transisi energi sebagai bagian dari amanah keagamaan untuk menjaga bumi berdasarkan nilai Al-Qur’an dan Sunnah, dengan menekankan prinsip keadilan dan keberlanjutan.
Sementara itu, Abdoel Malik dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memaparkan pengalaman Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana dan operasi kemanusiaan.
“Dalam setiap operasi kemanusiaan, MDMC melayani siapa pun tanpa memandang agama, etnis, atau latar belakang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman tsunami Aceh 2004 dan gempa Yogyakarta 2006 menjadi titik penting lahirnya MDMC pada 2007 sebagai lembaga kebencanaan modern Muhammadiyah.






