Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kepergian Hamim Ilyas, Syamsul Anwar: Muhammadiyah Kehilangan Tokoh Tafsir yang Tenang

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Kepergian Hamim Ilyas, Syamsul Anwar: Muhammadiyah Kehilangan Tokoh Tafsir yang Tenang

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kepergian Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, pada Sabtu (23/05) meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah.

Dalam Takziyah Virtual yang digelar Ahad (24/05), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar menyebut almarhum sebagai sosok tenang yang sulit digantikan, terutama dalam bidang tafsir Al-Qur’an dan pengembangan pemikiran Islam di lingkungan Muhammadiyah.

Syamsul membuka tausiyahnya dengan ungkapan belasungkawa dan doa bagi almarhum. “Mudah-mudahan Bapak Haji Hamim Ilyas dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosa, dan dilipatgandakan pahala atas amal baiknya,” ujarnya.

Menurutnya, Muhammadiyah kehilangan seorang tokoh yang tidak banyak menonjolkan diri, tetapi mampu menghadirkan wawasan-wawasan baru melalui ilmu yang diajarkannya. Sosok Hamim Ilyas, kata dia, dikenal tenang, tidak emosional, dan tidak pernah berkata kasar selama berinteraksi dalam organisasi.

“Beliau adalah partner kerja yang tidak emosional, selalu tenang. Tidak pernah berkata kasar. Ini saya rasa menjadi bekal beliau menghadapi hari akhirat kelak,” katanya.

Dalam tausiyah itu, Syamsul menekankan pentingnya sabar bagi keluarga yang ditinggalkan maupun seluruh warga Muhammadiyah. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 45: “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.”

Ia juga mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155–156: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’”

Menurut Syamsul, sabar bukan berarti diam dan pasrah tanpa tindakan. Sabar justru merupakan kemampuan mengelola batin dalam berbagai keadaan, baik ketika menghadapi kesenangan maupun kesusahan.

“Sabar itu bukan kemalasan, tidak bergerak dan tidak berbuat apa-apa, tetapi bagaimana mengelola batin kita dalam segala hal,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam keadaan sulit, sabar berarti kemampuan menahan tekanan, baik yang datang dari dalam diri maupun dari luar. Kehilangan orang yang dicintai dan dihormati seperti Hamim Ilyas, lanjutnya, membutuhkan kekuatan internal agar seseorang tidak jatuh dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Syamsul juga menyinggung Surah Ali Imran ayat 200: “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu…”

Menurut penafsiran dalam Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah, ayat tersebut merupakan kunci kemenangan, baik secara batin maupun fisik. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh merasa telah kehabisan kesabaran.

“Dalam hidup seorang mukmin itu tidak ada kata ‘saya sudah habis kesabarannya’. Sabar harus terus-menerus ditingkatkan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Syamsul juga menyoroti tantangan yang kini dihadapi Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah setelah wafatnya Hamim Ilyas. Ia mengakui bahwa almarhum sulit digantikan, terutama dalam bidang tafsir Al-Qur’an.

“Majelis Tarjih juga harus bersabar, siap-siap mencari tokoh baru yang bisa menggantikan Pak Hamim Ilyas,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa selama berada di bawah kepemimpinan Hamim Ilyas, aktivitas Majelis Tarjih menjadi salah satu yang paling tinggi di Muhammadiyah. Karena itu, dibutuhkan figur yang mampu melanjutkan tugas-tugas besar majelis pada periode kepemimpinan saat ini.

Meski demikian, Syamsul meyakini bahwa perbedaan kemampuan dan keilmuan antaranggota justru dapat diintegrasikan menjadi kekuatan bersama untuk menghadapi berbagai persoalan umat.

Dalam penutup tausiyahnya, ia mengingatkan hadis Nabi Muhammad saw. tentang tiga amal yang pahalanya tidak terputus bagi orang yang telah wafat, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Menurut Syamsul, Hamim Ilyas telah meninggalkan warisan penting berupa ilmu dan pemikiran yang harus terus dikembangkan. Salah satu gagasan yang disinggungnya ialah konsep “Fikih Akbar” yang selama ini diperkenalkan almarhum.

“Menurut beliau, fikih itu seluruh aspek ajaran Islam, bukan hanya aspek hukum-hukum konkret,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh keluarga, murid, dan warga Muhammadiyah untuk terus mendoakan almarhum sekaligus memanfaatkan serta mengembangkan ilmu yang telah diwariskannya.

Tinggalkan Balasan