MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Saad Ibrahim, mengajak seluruh kader dan penggerak persyarikatan untuk senantiasa menjadikan prinsip puasa dan hari raya sebagai paradigma dan refleksi dalam menggerakkan organisasi dan pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah.
Dalam konteks ini, Saad mengartikan puasa dan idul fitri bukanlah sekadar ritual ibadah tahunan, melainkan dapat di implementasikan kedalam amal nyata, dimana didalamnya mengandung pelajaran tentang perjuangan, proses, dan buah kesungguhan.
“Puasa dimaknai sebagai proses membangun, merintis, dan mengembangkan Amal Usaha dengan penuh kesungguhan pengorbanan, dan kerja keras. Sementara harin raya merupakan simbol dari keberhasilan itu setelah melalui proses yang panjang,” ujar Saad menjelaskan relevansi gerakan Muhammadiyah dengan paradigma puasa dan hari raya dalam siaran Youtube TVMu Channel, Selasa, (3/3).
Kini hasil itu satu persatu dapat dipanen. Maka dari itu, dalam konteks kekinian dan masa depan, Saad mengingatkan generasi Muhammadiyah agar jangan lelah membangun dan menggerakkan Muhammadiyah.
“Boleh jadi, generasi berikutnya akan menikmati hari raya itu bahkan tanpa puasa. Semoga hal yang seperti ini dapat dijadikan pelajaran kedepan bahwa Muhammadiyah harus tetap melakukan prosesnya, berusaha keras seperti kita berusaha untuk berpuasa hingga nanti datang hari raya,” tuturnya.
Lebih jauh, Saad turut menyoroti fenomena pembangunan Muhammadiyah di berbagai daerah. Dalam konteks ini, Saad menyebut masih banyak wilayah Muhammadiyah yang hanya mengharapkan hasil yang instan tanpa melakukan proses yang sungguh-sungguh.
Kenikmatan seperti itulah yang menurutnya bukanlah merupakan kenikmatan yang autentik, melainkan kenikmatan artificial.
“Kawasan-kawasan yang tidak mau melakukan puasa, terkadang berfikir untuk mendapatkan hari raya dari yang lain tanpa melakukan puasa. Yang seperti itu, nikmatnya adalah artificial bukan yang sesungguh-sungguhnya,” jelasnya.
“Kita berhasil dari perjuangan yang keras, itu jauh lebih nikmat. Daripada tanpa perjuangan tiba-tiba kemudian hasil itu sampai kepada kita,” tambah Saad.
Diakhir Saad berharap sekaligus mengajak warga persyarikatan untuk kembali kepada poin awal penyampaiannya.
Bahwa pada prinsipnya, dimanapun warga persyarikatan mengelola dan berkhidmat di Muhammadiyah, prinsip puasa dan hari raya harus dijadikan paradigma dan harapan masa depan bahwa Muhammadiyah akan terus berjuang sekaligus berhari raya melalui berbagai Amal Usahanya.
“Mari kita ambil sebanyak-banyaknya pelajaran dari berbagai sisi, hikmah, kemanfaatan, proyeksi dengan menggunakan syariat tentang puasa ini. Mudah-mudahan kita ditolong oleh Allah,” pungkas Saad. (Bhisma)






