Selasa, 29 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Jelang Idulfitri 1447 H, Umat Islam Dianjurkan untuk Memperbanyak Takbir

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Jelang Idulfitri 1447 H, Umat Islam Dianjurkan untuk Memperbanyak Takbir

Berdasarkan keputusan Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Syawal 1447 H ditetapkan jatuh pada 20 Maret 2026. Penetapan ini menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadan sekaligus awal memasuki hari raya Idulfitri.

Menjelang momentum tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak takbir sebagai bagian dari syiar dan ungkapan syukur kepada Allah Swt.

Anjuran memperbanyak takbir pada malam Idulfitri memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة (2): 185]

“… dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. al-Baqarah [2]: 185).

Ayat ini menunjukkan bahwa takbir merupakan bagian dari penyempurnaan ibadah Ramadan. Setelah menunaikan puasa sebulan penuh, umat Islam diarahkan untuk mengagungkan Allah sebagai bentuk rasa syukur atas petunjuk dan kekuatan yang telah diberikan.

Dalam praktiknya, memperbanyak takbir dilakukan sejak terbenamnya matahari pada akhir Ramadan hingga pagi hari ketika salat Idulfitri akan dilaksanakan. Hal ini juga dicontohkan oleh para sahabat Nabi. Di antaranya adalah riwayat tentang Abdullah bin Umar:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا غَدَا إِلَى الْمُصَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ كَبَّرَ فَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرِ، وَفِي رِوَايَةٍ كَانَ يَغْدُو إِلَى الْمُصَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى، ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالْمُصَلَّى حَتَّى إِذَا جَلَسَ الإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيرَ [رواه الشافعي في مسنده]

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa apabila ia pergi ke tempat salat pada pagi hari Id, ia bertakbir dengan mengeraskan suaranya. Dalam riwayat lain disebutkan: ia bertakbir sejak keluar menuju tempat salat hingga tiba di sana, dan terus bertakbir sampai imam datang, kemudian ia berhenti bertakbir.” (HR. asy-Syafi‘i dalam al-Musnad).

Riwayat ini menunjukkan bahwa takbir tidak hanya dilakukan secara pribadi, tetapi juga ditampakkan sebagai syiar di ruang publik. Takbir dikumandangkan di masjid, rumah, dan sepanjang perjalanan menuju tempat salat Id, baik oleh yang mukim maupun musafir.

Secara makna, takbir adalah pernyataan pengagungan terhadap Allah Swt. Kalimat Allahu akbar menegaskan bahwa Allah Maha Besar, sementara manusia berada dalam posisi yang lemah dan terbatas. Oleh karena itu, takbir juga menjadi bentuk kesadaran spiritual sekaligus ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan, khususnya setelah menjalani ibadah Ramadan.

Adapun lafaz takbir yang umum dibaca adalah:

اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”

Lafaz ini juga memiliki dasar dari riwayat sahabat, sebagaimana disebutkan dari Salman al-Farisi serta riwayat dari Umar bin Khattab dan Abdullah bin Mas’ud:

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: كَبِّرُوا اللَّهَ أَكْبَرُ اللَّهَ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَجَاءَ عَنْ عُمَرَ وَابْنِ مَسْعُودٍ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ [رواه عبد الرزاق بسند صحيح]

“Dari Salman, ia berkata: Bertakbirlah, “Allahu akbar, Allahu akbar kabiran.” Dan dari Umar serta Ibnu Mas‘ud: “Allaahu akbar Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.” (HR. ‘Abdur Razzaq dengan sanad sahih).

Dengan demikian, memperbanyak takbir menjelang Idulfitri merupakan tuntunan syariat yang memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan sunnah. Pelaksanaannya hendaknya tetap memperhatikan ketertiban dan tidak menimbulkan gangguan di tengah masyarakat.

Referensi:

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tuntunan Idain dan Qurban, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan