Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

AI Bukan Sekadar Teknologi, tapi Tantangan Kebudayaan Bangsa

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
AI Bukan Sekadar Teknologi, tapi Tantangan Kebudayaan Bangsa

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) mengubah dan mengancam sistem kebudayaan manusia, mulai dari sistem kebudayaan pertanian, keluarga, sampai budaya baca.

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Gunawan Budiyanto pada Selasa (3/3) dalam Kuliah Ramadan 1447 H di Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Menjelaskan tantangan dan masalah sistem pangan dalam hal ini pertanian terkini, Gunawan menyebut, masalah serius di bidang ini adalah berkurangnya tenaga kerja produktif yang sudah tidak lagi tertarik untuk bertani.

Mengakali masalah itu, di beberapa negara saat ini sudah menerapkan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu mengelola lahan pertanian. Intervensi AI di pertanian saat ini sudah sangat dalam, manusia hanya jadi operator.

Di sisi lain membantu memaksimalkan lahan pertanian dan mengganti tenaga manusia dalam proses produksi, teknologi AI juga memberikan dampak lain yakni semakin alpa nya generasi penerus tentang pernak-pernik tanaman pertanian.

Sebab bergantung terlalu kuat pada teknologi, dan enggan untuk kembali ke sawah. Generasi penerus mengalami keterputusan pengetahuan adiluhung, salah satunya yang paling nampak adalah pudarnya pengetahuan titi mangsa tanam.

Selain itu, akibat terlalu bergantung pada teknologi dan pengetahuan yang dangkal, Pengetahuan generasi Z dan Alpha tentang makanan-makanan khas suatu daerah, maupun pengetahuan umum tentang daerah juga sangat buruk.

“Ini luar biasa terjadi pembodohan. Jadi kecerdasan itu dibunuh oleh teknologi yang diciptakan oleh manusia,” katanya.

Pada titik yang lain, kemajuan kecerdasan buatan juga mengancam struktur keluarga. Anak-anak yang awalnya diasuh oleh orang tua atau pengasuh manusia, di masa depan – bahkan sekarang – anak-anak sudah diasuh oleh robot AI.

“Suatu saat kita akan melihat seorang bayi yang dia lapar, dia tidak minta tetak ibunya, dia minta tetak robot artificial. Sehingga bayi-bayi yang kita lihat itu penuh dengan instrumen elektronik,’ ungkapnya.

Gunawan menambahkan, kecerdasan buatan juga mengancam budaya baca generasi penerus. Persoalan ini harus direspon dengan serius oleh pemangku kebijakan di Indonesia, jika tidak ingin terjadi adanya fenomena lost generation.

“Kita harus merenung dan kita harus melihat kenapa Swedia dan Jerman sudah mulai muncul larangan, anak di bawah 16 tahun tidak boleh pegang handphone. Di Swedia itu kalau ketahuan anaknya pegang handphone di bawah umur, itu yang kena denda orang tuanya. Lain dengan di Indonesia. Kalau gurunya mara, yang ditangkap gurunya, orang tuanya lapor polisi,” tutur Gunawan.

Meski ada pengaruh baiknya, namun Gunawan mengajak kepada orang tua untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi situasi ini. Sebab kemajuan teknologi dan AI yang begitu pesat, tanpa disertai literasi yang kuat, nilai-nilai kemanusiaan akan hilang, termasuk di bidang pertanian.

Tinggalkan Balasan