Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Tantangan Orang Berpuasa Bukan Hanya yang Masuk ke Mulut, tapi Juga yang Keluar Darinya

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Tantangan Orang Berpuasa Bukan Hanya yang Masuk ke Mulut, tapi Juga yang Keluar Darinya

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Tantangan terberat bagi seorang yang berpuasa bukan menahan lapar dan dahaga, namun menahan hasrat dan kecenderungan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya.

Tantangan itu menurut Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal acapkali menjadikan seorang berpuasa, namun telah membatalkan puasa itu bahkan sebelum orang itu sempat memasuki waktu puasa.

“Sebagian saudara-saudara kita justru membatalkan ibadah puasa, bahkan sebelum puasa itu ditunaikan, dengan apa?. Dengan saling merendahkan, menghujat, saling mencela dan seterusnya,” kata Fathurrahman pada (18/2) di Masjid Gedhe Kauman.

Kepada jemaah di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta itu Fathurrahman menyebut, situasi umat manusia sekarang sedang terjebak untuk menuhankan akal – bahkan tak jarang ada yang menyebut akal sebagai tempat kebenaran mutlak.

Pemuja akal ini dalam kehidupannya kerap mengabaikan posisi wahyu dari Allah SWT, sehingga menimbulkan kegamangan untuk mengukur kebahagiaan. Bahagia bagi mereka merupakan hasil konstruksi materialisme.

Pada tahap selanjutnya, pemujaan dan menjadikan akal sebagai kebenaran mutlak menggiring kehidupan ini ke arah antroposentris, dimana manusia sebagai pusat segalanya. Kehidupan hanya bertumpu pada kesenangan fisik.

Oleh karena itu, perintah Puasa Ramadan untuk mengajak kembali pada hakikat sebagai hamba Allah. Puasa Ramadan mengajak manusia kembali menuju kepada Tuhan yang benar, bukan tuhan imitasi.

“Ucapan sederhana ‘asal bapak senang’ yang kita kenal di dunia birokrasi kita, sebetulnya awal dari tradisi mempertuhankan atasan, tradisi mempertuhankan jabatan,” ungkapnya.

Maka perintah Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 183, kata Fathur, hakikat puasa bukan pada urusan tahan makan dan minum. Sebab jika itu yang menjadi tujuan hewan yang tidak berakal tentu lebih kuat dan gagah untuk puasa.

Melainkan kata kunci yang harus dikenali oleh muslim yang menjalankan perintah puasa adalah kata takwa dalam surat tersebut. Fathur menjelaskan, takwa adalah penghancuran atau peminimalan kekuatan syahwat yang ada pada diri manusia.

Merujuk pada Hadis Nabi Muhammad SAW, orang yang bisa menjamin dari di antara kedua bibirnya akan terjamin surga baginya. Imam Al Ghazali menyebut di antara dua bibir itu adalah ucapan dan/serta asupan yang masuk ke dalamnya.

Tinggalkan Balasan