Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Agama Mengajarkan Harmoni Keluarga dan Lingkungan Hidup

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Agama Mengajarkan Harmoni Keluarga dan Lingkungan Hidup

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Di tengah tekanan kehidupan kota metropolitan yang kian kompleks, keluarga kembali ditegaskan sebagai fondasi utama ketahanan sosial, spiritual, dan kemanusiaan.

Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah, Hening Parlan menyebut, keluarga tidak dapat dipisahkan dari relasinya dengan lingkungan hidup. Ekologi, menurut dia, bukan isu tambahan, melainkan bagian dari cara hidup manusia.

“Bangun tidur kita menghirup oksigen, minum air, dan hidup dari sumber daya alam. Lingkungan hidup melekat dalam diri manusia,” ujar Hening pada Sabtu (3/1) dalam Seminar Natal Nasional bertajuk Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan, di Jakarta.

Hening menolak pandangan yang memisahkan manusia dari alam. Menurutnya, manusia yang utuh adalah manusia yang menyadari keterkaitan ekologis dalam kehidupannya. Dalam tradisi keagamaan, relasi ini tercermin dalam nilai kasih dan tanggung jawab.

“Doa pernikahan dalam Islam berbicara tentang mawaddah wa rahmah. Itu bukan hanya relasi antarmanusia, tetapi juga dengan seluruh ciptaan,” katanya.

Menurut Hening, rusaknya relasi manusia dengan alam akan berimbas pada rusaknya relasi sosial dan spiritual. Ketika lingkungan dieksploitasi, ketidakadilan tumbuh, dan keluarga menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya—melalui bencana, krisis air, maupun trauma sosial.

“Agama-agama hadir bukan pada situasi yang baik-baik saja, tetapi justru ketika ada kerusakan dan luka yang membutuhkan pemulihan,” ujarnya.

Ia juga menekankan peran agama dalam penyembuhan pascabencana dan krisis sosial. Di ruang-ruang bencana, kata Hening, semua agama hadir melalui dukungan psikososial: mengajak berdoa, memberi ruang berserah, dan membantu manusia membaca realitas dengan jernih.

“Tuhan menggerakkan kita ketika kita bergerak. Jalan pulang itu adalah kembali ke agama masing-masing, memperdalam relasi dengan Tuhan, agar trauma sosial tidak diwariskan dan keluarga tetap menjadi ruang penyembuhan,” katanya.

Sementara itu, Menag RI, Nazaruddin Umar dalam pembukaan seminar ini menjelaskan, keluarga adalah inti dari bangunan peradaban. Menurut dia, tidak mungkin membangun negara yang kuat jika fondasi keluarganya rapuh.

“Norma tentang keluarga jauh lebih banyak dibahas dalam Alkitab dan Alquran dibandingkan soal negara. Ini menandakan betapa sentralnya keluarga dalam kehidupan berbangsa,” katanya.

Ia menyoroti perceraian sebagai tantangan serius yang berdampak luas, terutama bagi anak-anak. Menurutnya, yang paling merasakan luka perceraian adalah anak. Maka dia meminta ikatan emosional dalam keluarga harus diperkuat. Jika keluarga rusak, masyarakat ikut rusak, dan negara menjadi lemah.

Pada kesempatan ini Nasaruddin Umar juga mengingatkan pentingnya melihat agama sebagai sumber persaudaraan, bukan perpecahan. Sebab menurutnya, jika seorang beragama semakin dalam memahami kitab suci, semakin dekat dia dengan yang lain.

Tinggalkan Balasan