Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Pakar dari UNISA Yogyakarta Ajak Masyarakat Waspadai Kanker Payudara Lewat Deteksi Dini

Oleh admin • • 3 Menit Min
Pakar dari UNISA Yogyakarta Ajak Masyarakat Waspadai Kanker Payudara Lewat Deteksi Dini

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara, Fitnaningsih Endang Cahyawati, dosen dari Universitas Aisyiyah Yogyakarta, memberikan ceramah informatif di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Jumat (10/10).

Fitnaningsih mengupas tuntas gejala, faktor risiko, tahapan, hingga langkah pencegahan kanker payudara, yang menjadi salah satu penyakit mematikan di kalangan perempuan. Dalam pemaparannya, Fitnaningsih menjelaskan ciri-ciri kanker payudara yang dapat dikenali secara visual sebelum dilakukan pemeriksaan fisik.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi adanya benjolan pada payudara yang terlihat menonjol, permukaan payudara yang tertarik ke dalam (terutama di area areola), permukaan kulit yang cekung, keluarnya cairan dari puting (bisa bening, putih seperti ASI, atau lainnya, meski bukan ASI), perubahan warna kulit payudara menjadi merah, hingga tekstur kulit yang berkerut menyerupai kulit jeruk purut.

“Gejala ini bisa dilihat dengan kasat mata, bahkan sebelum kita meraba payudara,” ujarnya.

Fitnaningsih juga memaparkan faktor risiko kanker payudara, yang mencakup usia, riwayat genetik, usia menstruasi dini (kurang dari 12 tahun), menopause terlambat (di atas 55 tahun), riwayat tumor jinak, serta gaya hidup seperti obesitas, konsumsi alkohol, merokok, dan paparan makanan cepat saji yang tinggi lemak jenuh, gula, dan natrium, namun rendah nutrisi.

Ia menekankan bahwa paparan hormon estrogen yang lama, misalnya akibat menstruasi dini dan menopause terlambat, dapat meningkatkan risiko kanker payudara karena hormon ini memengaruhi pertumbuhan sel abnormal.

Menariknya, Fitnaningsih menyoroti manfaat menyusui dalam mengurangi risiko kanker payudara.

“Menyusui secara eksklusif selama enam bulan dapat menekan kadar hormon estrogen dan progesteron, yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker. Selain itu, menyusui membantu ‘detoksifikasi’ sel-sel rusak di jaringan payudara dan mengurangi siklus menstruasi, sehingga menurunkan risiko kanker,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa risiko kanker payudara pada ibu menyusui hanya sekitar 3%, jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak menyusui.

Terkait tahapan kanker payudara, Fitnaningsih menjelaskan bahwa pada stadium awal, sel kanker masih terbatas di kelenjar payudara tanpa menyebar. Pada stadium 1, tumor berukuran kurang dari 2 cm dengan batas yang kurang jelas, sedangkan stadium 2 dan 3 memiliki tingkat penyebaran yang lebih luas. Pada stadium 4, kanker telah menyebar ke organ lain (metastasis), seperti paru-paru, yang ditandai dengan gangguan pernapasan.

“Untuk menentukan stadium, diperlukan biopsi dan pemeriksaan laboratorium klinik patologi anatomi,” tambahnya.

Pencegahan menjadi fokus utama dalam ceramah ini, dengan penekanan pada pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis (SADANIS).

SADARI dianjurkan dilakukan setiap bulan pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama menstruasi bagi perempuan yang masih menstruasi, atau pada tanggal tertentu setiap bulan bagi perempuan menopause dan pria—karena pria juga berisiko terkena kanker payudara.

“SADARI dilakukan dengan melihat dan meraba payudara di depan cermin, menggunakan tiga jari dengan gerakan memutar, zig-zag, atau menuju puting untuk mendeteksi benjolan atau cairan abnormal,” paparnya.

SADANIS, yang dilakukan oleh tenaga medis, dianjurkan setiap tiga tahun untuk usia 20-39 tahun, dan setiap tahun untuk usia di atas 40 tahun, disertai mamografi sesuai saran dokter.

Mamografi, USG, dan MRI menjadi alat penting untuk skrining kanker payudara, terutama pada perempuan berisiko tinggi. Mamografi, meski kadang menyebabkan sedikit rasa sakit, efektif mendeteksi kanker pada stadium awal, sedangkan USG lebih cocok untuk payudara padat pada perempuan muda. MRI digunakan untuk mengevaluasi penyebaran kanker.

“Deteksi dini sangat penting karena 50-57% kasus kanker payudara pertama kali ditemukan melalui SADARI,” tegas Fitnaningsih.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya apakah air susu yang tidak keluar dapat menyebabkan kanker payudara, merujuk pada perbedaan zaman dulu dan sekarang.

Fitnaningsih, yang menegaskan bahwa dirinya adalah bidan, bukan dokter, menjelaskan bahwa air susu yang tidak keluar tidak menyebabkan kanker payudara, tetapi dapat menyebabkan bendungan ASI, yang jika tidak ditangani bisa memicu mastitis (infeksi payudara).

“Dulu mungkin gaya hidup lebih sehat, makanan alami tanpa pestisida, dan tabu membicarakan kanker payudara, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi. Sekarang, kesadaran harus ditingkatkan,” ujarnya.

Fitnaningsih menutup ceramahnya dengan pesan kuat: “Jangan sampai terlambat. Mari lakukan deteksi dini.” Ia juga mendorong gaya hidup sehat, seperti berolahraga, menjaga pola makan seimbang, istirahat cukup, dan menghindari rokok serta alkohol.

Acara ini ditutup dengan apresiasi dari panitia atas ilmu berharga yang disampaikan, yang disebut sebagai “ilmu mahal” yang jarang ditemui di tempat lain.

Ceramah ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan, untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara melalui deteksi dini dan gaya hidup sehat, demi mencegah dampak buruk kanker payudara.

Tinggalkan Balasan