Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Mukmin yang Kuat Iman Lebih Dicintai Allah Daripada…

Oleh admin • • 2 Menit Min
Mukmin yang Kuat Iman Lebih Dicintai Allah Daripada…

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Dalam ceramahnya di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Kamis (23/10), Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Royan Utsany, menyampaikan pesan tentang pentingnya bersungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal.

Mengutip hadis dari sahabat Abu Hurairah, Royan menyampaikan sabda Rasulullah SAW: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dalam urusanmu, dan janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.”

Ia menjelaskan bahwa kekuatan yang dimaksud bukan hanya fisik, melainkan kekuatan iman yang tertanam dalam hati.

“Orang yang kuat fisiknya tetapi lemah imannya cenderung mudah terjerumus ke dalam maksiat. Sebaliknya, kekuatan fisik yang digunakan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat menjadi terpuji,” ujar Royan.

Ia menegaskan bahwa kekuatan fisik tidak tercela, tetapi hanya bernilai jika diarahkan untuk kebaikan, seperti menjalankan ibadah atau membantu sesama.

Royan juga menekankan pentingnya bersungguh-sungguh (ikhris ala ma yanfauk) dalam meraih hal-hal yang bermanfaat. Ia mengilustrasikan bahwa kesuksesan duniawi, seperti dalam studi atau karier, hanya dapat diraih melalui usaha yang sungguh-sungguh.

Ia menyebutkan contoh para ulama besar seperti Ibnu Hajar al-Haitami dan Syekh Zakaria Al-Anshari, yang dengan ketekunan luar biasa menuntut ilmu meski menghadapi keterbatasan, bahkan hingga rela makan kulit semangka demi menyambung hidup.

Cerita inspiratif lainnya datang dari Abdullah bin Mubarak, yang rela meninggalkan keluarganya selama 17 tahun untuk menuntut ilmu bersama Imam Malik di Madinah.

“Kisah ini menunjukkan betapa besar pengorbanan para ulama demi ilmu, yang menjadi teladan bagi kita untuk bersungguh-sungguh,” ungkap Royan.

Lebih lanjut, Royan mengingatkan untuk selalu memohon pertolongan Allah (wastain billah) dalam setiap langkah kehidupan. “Bahkan dalam hal kecil seperti memilih garam untuk masakan atau memakai sandal, kita diajarkan untuk berdoa kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus selalu bergantung pada Allah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kesuksesan tanpa melibatkan Allah sering kali berakhir tragis, sementara ikhtiar yang disertai tawakal akan membawa keberkahan.

Royan juga memperingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap putus asa atau kalimat “seandainya” (law), seperti “Seandainya saya melakukan ini, pasti tidak begini.”

Menurutnya, ucapan ini membuka pintu perbuatan setan dan menunjukkan ketidakpuasan terhadap takdir Allah. “Katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.’ Jangan menyesali takdir, tetapi teruslah beramal dan berusaha,” tegasnya.

Dalam sesi tanya jawab, Royan menjelaskan perbedaan antara takdir muqayyad (takdir yang tidak dapat diubah, seperti asal-usul kelahiran) dan takdir mubram (takdir yang dapat diubah melalui usaha, seperti kesuksesan atau kesehatan).

“Allah telah menetapkan ukuran untuk setiap takdir, tetapi manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan terbaik melalui ikhtiar,” paparnya.

Ceramah ini ditutup dengan pesan bahwa seorang muslim sejati harus memiliki mental kuat, percaya diri, dan tidak putus asa dari rahmat Allah.

Royan mengajak jamaah untuk meneladani para nabi, seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW, yang sukses di mana pun mereka berada karena kekuatan iman dan keteguhan hati mereka.

 

Tinggalkan Balasan