Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Membangun Kembali Kaʿbah yang Sempat Hancur | Serial Sirah Nabawi 15

Oleh admin • • 5 Menit Min
Membangun Kembali Kaʿbah yang Sempat Hancur | Serial Sirah Nabawi 15

Pada usia 35 tahun, Nabi Muhammad menyaksikan bagaimana bangunan Kaʿbah nyaris runtuh. Rumah ibadah peninggalan Nabi Ibrahim itu pernah dilalap api. Bara kecil dari wajan seorang perempuan menyambar kain kiswah, penutup Kaʿbah, lalu menjalar ke dinding batu hingga menghanguskan sebagian tembok dan melemahkan pondasinya.

Beberapa bulan kemudian, banjir besar menyapu lembah Makkah. Air bah dari gunung-gunung di sekeliling kota menumpuk di dataran rendah, merobohkan atap dan meretakkan dinding Kaʿbah. Rumah suci yang mereka agungkan kini tinggal puing basah yang bercampur lumpur.

Kebakaran dan banjir itu meninggalkan Kaʿbah dalam keadaan berserakan. Batu-batunya terlepas dari susunan, sebagian dindingnya miring, dan atapnya ambruk. Air bercampur lumpur memenuhi lantai di sekelilingnya, sementara kain kiswah yang hangus menempel di batu-batu yang menghitam.

Meski hidup di zaman penyembahan berhala, Quraisy masih mewarisi sebagian ajaran Ibrahim, terutama tentang kesucian Kaʿbah. Karena itu, mereka sepakat untuk membangun kembali rumah suci itu. Namun keputusan itu disertai rasa gentar. Mereka takut azab akan turun jika tangan-tangan manusia berani meruntuhkan sesuatu yang dianggap sakral.

Hingga akhirnya al-Walid bin al-Mughirah, seorang tua dari Bani Makhzum, maju memecah kebekuan. Ia mengayunkan palu ke dinding pertama. Tidak ada petir yang menyambar, tidak ada suara murka dari langit.

Namun pada saat itu, tak seorang pun berani membantu al-Walid. Mereka menunggu hingga satu malam untuk memastikan al-Walid selamat dari kutukan yang mereka bayangkan. Ketika al-Walid masih hidup dan sehat keesokan harinya, barulah orang-orang Quraisy berani bergabung. Maka dimulailah pembangunan besar-besaran itu.

Pada waktu yang sama, dunia di luar Makkah sedang bergolak. Kekaisaran Romawi dan Persia saling menghancurkan. Sebuah gereja di Yaman hancur dalam perang, dan Kaisar Romawi mengirim kapal berisi marmer serta kayu terbaik untuk membangunnya kembali. Namun badai besar memaksa kapal itu kandas di pelabuhan Jeddah.

Para awak kapal pasukan Romawi akhirnya menjual muatan berharga itu sebelum pulang ke negerinya. Kabar tentang penjualan marmer dan kayu terbaik itu sampai ke telinga Quraisy. Mereka segera mengumpulkan dana, membeli semua bahan, dan bahkan menyewa seorang tukang ahli dari Romawi. Dengan semangat baru, mereka mulai membangun Kaʿbah yang lama terbengkalai.

Namun proyek besar sering membawa pertengkaran besar. Ketika pembangunan hampir selesai, muncul persoalan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi simbol kesucian Kaʿbah. Dua klan paling berpengaruh, Bani Abd Manaf dan Bani Makhzum, bersitegang. Sumpah darah diucapkan, pisau hampir dihunus. Lima hari mereka berhenti bekerja, lebih dekat pada perang saudara daripada ibadah.

Sampai akhirnya, kebijaksanaan datang dari arah yang tak disangka. Abu Umayyah, tetua Mekkah, mengusulkan agar keputusan diserahkan pada orang pertama yang masuk ke Masjidil Haram pagi itu. Semua menunggu, dan yang pertama muncul adalah Muhammad bin Abdullah. Saat itu, belum ada wahyu. Muhammad adalah al-Amin, orang yang dipercaya. Namun reputasi moralnya membuat semua pihak lega.

Dengan ketenangan yang kelak menjadi ciri kenabiannya, Muhammad membentangkan selembar kain. Hajar Aswad diletakkan di tengahnya. Setiap kepala kabilah memegang satu ujung kain, lalu mereka mengangkatnya bersama. Muhammad mengambil batu itu dan menempatkannya di sudut Kaʿbah dengan tangannya sendiri.

Bangunan Ka’bah baru itu tidak sepenuhnya sama dengan rancangan Ibrahim. Quraisy membuatnya berbentuk persegi, bukan persegi panjang, karena bahan yang mereka miliki tidak cukup. Mereka juga meninggikan pintu Kaʿbah agar tidak semua orang dapat masuk dengan mudah. Di atasnya mereka pasang talang air agar banjir tak lagi merusak dindingnya.

Sejak saat itu, bentuk Kaʿbah tidak lagi berubah. Selama masa Nabi Muhammad hingga Khulafaur Rasyidin, bangunan itu tetap seperti rancangan Quraisy. Padahal Nabi sendiri ketika penaklukkan Mekkah pernah menyampaikan kepada ‘Aisyah keinginannya untuk mengembalikan Kaʿbah ke pondasi Ibrahim. Namun beliau tidak melakukannya karena khawatir menimbulkan kegaduhan di kalangan orang yang baru meninggalkan jahiliah.

Setelah wafatnya Nabi, dunia Islam memasuki masa pergolakan politik. Di Makkah, Abdullah bin Zubair memimpin perlawanan terhadap Dinasti Umayyah. Ia menjadikan Mekkah sebagai pusat kekuasaannya, semacam mini khilafah di tengah kekaisaran besar. Ketika mendengar sabda Nabi tersebut, ia mewujudkannya secara harfiah. Kaʿbah pun dirombak menjadi persegi panjang seperti rancangan aslinya, dan pintunya diturunkan agar siapa pun dapat masuk.

Saat Dinasti Umayyah dipimpin al-Hajjaj bin Yusuf, ia menaklukkan Makkah. Batu-batu besar dari manjaniq (katepel) menghujani Kaʿbah. Rumah suci itu kembali runtuh, kali ini bukan oleh banjir atau api, melainkan oleh sesama Muslim. Setelah menguasai kota, al-Hajjaj membangunnya kembali seperti bentuk Quraisy dulu, persegi dengan pintu yang tinggi.

Beberapa waktu kemudian di era Imam Malik, seorang khalifah bertanya kepadanya apakah Kaʿbah sebaiknya dikembalikan lagi ke bentuk Nabi Ibrahim. Sang Imam menjawab dengan bijak, “Jangan. Aku tidak ingin Kaʿbah menjadi mainan para penguasa.” Sejak saat itu bentuknya tetap seperti yang kita lihat hari ini.

Bayangkan kamu akhirnya mendapat rezeki untuk berangkat umrah atau haji. Setelah menabung bertahun-tahun dan menunggu giliran yang terasa tak kunjung tiba, kini kamu berdiri di pelataran Masjidil Haram. Di hadapanmu, Kaʿbah menjulang dalam cahaya lampu abad ke-21. Marmer putih berkilau, kiswah hitam berganti setiap tahun, dan manusia dari segala bahasa bergerak dalam putaran yang sama.

Refleks pertamamu mungkin mengeluarkan ponsel. Kamera dibuka, posisi dibenahi, dan jari siap menekan tombol. Semua orang melakukannya, karena pemandangan itu memang terlalu megah untuk tidak diabadikan. Tapi setelah itu, cobalah diam sejenak. Turunkan ponselmu, dan tatap Kaʿbah tanpa layar.

Bangunan di depanmu itu bukan sekadar dinding hitam yang anggun. Ka’bah adalah sisa dari perjalanan panjang sejarah manusia. Dibangun oleh Ibrahim dan Ismail, pernah dijadikan tempat pemujaan berhala, hampir dihancurkan oleh pasukan Abrahah, lalu rusak karena kebakaran dan banjir. Setelah itu, Ka’bah dibangun kembali, diubah oleh para penguasa dari masa ke masa, namun tetap menjadi pusat arah sujud manusia.

Tapi yang suci bukan batu, bukan kayu, bukan juga marmernya. Yang suci adalah tempatnya itu sendiri, titik yang sama yang membuat jutaan orang menunduk dalam arah yang serupa dari segala penjuru dunia. Saat kamu berdiri di sana, kamu akan sadar bahwa tubuhmu kecil sekali, tapi doamu sedang ikut berputar dalam arus sejarah yang tak pernah berhenti.

Referensi:

Ibn Hajar al-ʿAsqalani, Fatḥ al-Bārī: Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, vol. 3, p. 524.

Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Beirut: Dār Ibn Katsir, 1423/2002.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Tinggalkan Balasan