Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Tiga Mitos Kesehatan Mental di Kalangan Muslim yang Membuat Ragu Minta Bantuan Profesional

Oleh admin • • 4 Menit Min
Tiga Mitos Kesehatan Mental di Kalangan Muslim yang Membuat Ragu Minta Bantuan Profesional

Kesehatan mental masih sering dianggap tabu di sebagian komunitas Muslim. Tidak sedikit orang merasa malu atau takut dihakimi bila diketahui mendatangi psikolog atau psikiater. Akibatnya, banyak yang memilih memendam masalah sendiri.

Padahal, gejala ringan bisa berkembang lebih serius jika dibiarkan.

Beberapa peneliti muslim seperti Rania Awaad, Khalid Elzamzamy, dan lain-lain pernah meneliti warisan Islam terkait kesehatan mental. Dalam penelitian mereka, terlihat jelas bahwa umat Islam sejak dulu memiliki perhatian besar pada isu mental health.

Bahkan, sejarah mencatat berdirinya bīmāristān (rumah sakit) di Baghdad pada abad ke-8 yang sudah menangani pasien dengan pendekatan medis, musik, hingga konseling. Semua dibiayai dengan dana zakat, dan pasien tidak diasingkan dari masyarakat.

Kajian mutakhir juga menunjukkan bahwa literatur klasik Islam sangat kaya dalam menjelaskan penyakit mental. Misalnya, karya Abu Zayd al-Balkhi berjudul Maṣāliḥ al-Abdān wa al-Anfus yang menekankan keseimbangan tubuh dan jiwa, serta membahas kondisi yang kini mirip dengan depresi atau gangguan kecemasan.

Namun, banyak penelitian modern masih berhenti pada apresiasi sejarah, belum cukup jauh menghubungkan teori klasik itu dengan praktik klinis saat ini.

Sayangnya, di tengah warisan kaya itu, mitos-mitos masih beredar di masyarakat. Dan mitos inilah yang sering membuat orang ragu mencari pertolongan profesional. Apa saja ketiga mitos tersebut?

  1. “Muslim Itu Kebal dari Masalah Mental”

Sebagian orang beranggapan Muslim tidak mungkin depresi atau cemas. Faktanya, data berkata lain.

Studi di Amerika menunjukkan 15–25% Muslim mengalami gangguan kecemasan, dan 9–30% mengalami gangguan suasana hati. Di Indonesia, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (2022) menemukan satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun memiliki masalah kesehatan mental. Angka ini diprediksi meningkat 20–30% pada 2025.

Menjadi Muslim memang memberi pegangan spiritual, tetapi bukan berarti kebal dari tantangan psikologis. Justru dalam kondisi berat, iman bisa menjadi kekuatan. Allah adalah Ar-Raqīb, Sang Maha Mengawasi; dan Al-Jabbār, Sang Maha Memperbaiki hati yang patah.

Rasulullah SAW sendiri meneladankan sikap mendengar tanpa menghakimi. Inilah yang membuat orang merasa aman di dekat beliau, bahkan dalam kondisi paling rapuh.

  1. “Gangguan Mental itu Katanya Karena Kurang Iman”

Mitos lain yang cukup kuat beredar di masyarakat adalah anggapan bahwa gangguan mental berarti imannya lemah. Orang yang depresi sering dicap kurang dzikir, tidak pasrah atau bahkan jauh dari Allah. Pandangan seperti ini keliru dan bisa sangat berbahaya.

Kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor: ada aspek biologis seperti ketidakseimbangan kimia otak, ada faktor trauma masa lalu, tekanan sosial, atau kombinasi dari semuanya.

Abu Zayd al-Balkhi dalam Maṣāliḥ al-Abdān wa al-Anfus sudah menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasad dan jiwa. Keduanya bisa sehat, dan keduanya juga bisa sakit. Sama seperti tubuh bisa demam atau terluka, jiwa pun bisa mengalami sedih, panik, depresi, atau ketakutan yang dalam.

Sejarah para nabi juga memperlihatkan bahwa kesedihan mendalam bukan tanda lemahnya iman. Rasulullah SAW melewati ‘Ām al-Ḥuzn atau Tahun Kesedihan ketika kehilangan Khadijah dan Abu Thalib serta ditolak keras oleh masyarakat Tha’if. Nabi Ya‘qub AS pun pernah kehilangan penglihatannya karena terlalu lama menangisi putranya yang ia sayang, Yusuf.

Apakah itu tanda iman mereka lemah? Justru sebaliknya. Imanlah yang menjadi sumber daya tahan (resilience) untuk tetap bangkit menghadapi cobaan. Dengan kata lain, sakit mental tidak boleh dipandang sebagai dosa atau kelemahan iman.

  1. “Kesehatan Mental Itu Gagasan Barat, Bukan Bagian dari Tradisi Islam”

Ada anggapan bahwa kesehatan mental hanyalah produk Barat modern. Padahal, ulama Muslim sejak abad pertengahan sudah menulis panjang lebar soal jiwa, emosi, dan gangguan psikologis.

Selain al-Balkhi, ada juga Ibn Sina yang dalam al-Qānūn fī al-Ṭibb membahas detail gangguan pikiran dan suasana hati (mood). Zakaria al-Razi menggambarkan pasien dengan halusinasi yang mirip dengan gejala skizofrenia. Sementara al-Ghazālī menekankan pentingnya tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) sebagai bentuk terapi spiritual.

Dari gagasan mereka lahirlah rumah sakit jiwa di Baghdad dan Kairo. Pasien dirawat dengan kasih sayang, bukan diasingkan. Mereka mendapatkan obat, olahraga, musik, bahkan terapi cerita.

Penelitian kontemporer menegaskan bahwa warisan klasik ini tidak hanya kaya teori, tetapi juga memiliki kemiripan dengan pendekatan psikologi modern, termasuk terapi kognitif-perilaku. Tantangan kita kini adalah menjembatani tradisi dan praktik modern agar benar-benar membantu orang yang sedang membutuhkan.

Karenanya, menganggap Muslim kebal dari masalah mental, menyamakan depresi dengan lemahnya iman, atau mengira kesehatan mental hanya milik Barat, ingat semua itu cuman mitos. Dan mitos-mitos inilah yang membuat banyak orang ragu mencari bantuan profesional.

Padahal, Nabi SAW sendiri mengajarkan doa untuk memohon perlindungan dari kondisi psikologis yang melemahkan. Dalam sebuah hadis doa tersebut disebutkan:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih, aku berlindung kepada-Mu dari rasa tak berdaya dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan dikuasai manusia.” (HR. Abu Dawud).

Referensi:

“3 Muslim Mental Health Myths that Might be Holding You Back”, https://thefyi.org/3-muslim-mental-health-myths-that-might-be-holding-you-back/, diakses pada Rabu, 10 September 2025.

“Kesehatan mental anak – ‘Kondisi anak dan remaja di Indonesia tidak baik-baik saja'”, https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2481zd7exo, diakses pada Rabu, 10 September 2025.

Abu Zayd al-Balkhi, Maṣāliḥ al-Abdān wa al-Anfus, Kairo: Ma‘had al-Makhtūṭāt al-Arabiyyah, 2005.

Awais Aftab dan Chandan Khandai, Mental Health Facts for Muslim Americans, Washington, DC: APA Division of Diversity and Health Equity, 2018.

Rania Awaad, Alaa Mohammad, Khalid Elzamzamy, Soraya Fereydooni, Maryam Gamar, “Mental Health in the Islamic Golden Era: The Historical Roots of Modern Psychiatry”, dalam H. Moffic, J. Petet, A. Hankir, R. Awaad (Eds.), Islamophobia and psychiatry: Recognition, prevention, and treatment, Switzerland: Springer, 2019. DOI: https://doi.org/10.1007/978-3-030-00512-2_1.

Tinggalkan Balasan