MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Pendidikan iman dan pembentukan karakter anak perlu dimulai dari rumah melalui kehadiran, keteladanan, dan kebiasaan spiritual dalam keluarga. Peran ayah menjadi penting karena anak membutuhkan pendampingan emosional sekaligus bimbingan untuk mengenal dan mengamalkan nilai-nilai agama.
Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Lailan Arqam, dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Jumat (9/10).
Lailan menyampaikan tiga langkah konkret yang dapat dilakukan ayah untuk membangun iman dan karakter anak. Ketiganya meliputi menyediakan waktu khusus bersama anak tanpa gangguan layar digital, mengutamakan keteladanan daripada instruksi, serta menjadikan rumah sebagai benteng spiritual.
Langkah pertama adalah menyediakan waktu khusus bersama anak tanpa gawai. Menurut Lailan, anak membutuhkan kehadiran ayah yang dapat mendengarkan cerita, keluh kesah, dan persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, ayah perlu meluangkan waktu setiap hari untuk berbincang, bercanda, dan berdiskusi bersama anak tanpa terdistraksi telepon genggam.
“Anak-anak kita tidak hanya membutuhkan hadiah, jemaah. Mereka merindukan kehadiran ayahnya,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa kedekatan orang tua dengan anak perlu dibangun melalui kebiasaan sehari-hari. Ayah perlu menjadi tempat pertama bagi anak untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Hubungan yang hangat akan membantu anak merasa aman untuk bercerita dan memperoleh bimbingan.
Langkah kedua adalah mengutamakan keteladanan daripada instruksi. Lailan menegaskan bahwa anak merupakan peniru yang ulung. Apa yang dilakukan orang tua di rumah akan menjadi salah satu rujukan anak dalam membentuk perilaku dan kebiasaannya.
“Tidak ada metode paling ampuh, paling efektif selain keteladanan,” tegasnya.
Ia mencontohkan, apabila ayah menginginkan anak rajin ke masjid, ayah perlu lebih dahulu memperlihatkan kebiasaan pergi ke masjid. Demikian pula ketika mengajarkan kesantunan berbicara dan menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang agama, orang tua perlu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nasihatnya.
Menurutnya, pendidikan agama akan lebih mudah dipahami anak ketika mereka menyaksikan penerapannya secara langsung dalam kehidupan keluarga.
“Keteladanan ayah adalah kurikulum terbaik dalam kehidupan ananda,” ujarnya.
Langkah ketiga adalah menjadikan rumah sebagai benteng spiritual. Lailan mengajak para ayah untuk menghidupkan kembali dialog keimanan, doa bersama, dan percakapan keluarga di meja makan. Kebiasaan tersebut dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan sekaligus menanamkan nilai-nilai agama secara alami.
Ia menjelaskan bahwa percakapan keluarga yang tampak sederhana dapat memberikan dampak mendalam bagi anak. Melalui dialog, orang tua dapat berbagi nasihat, mendengarkan pandangan anak, serta membicarakan berbagai persoalan kehidupan dengan landasan nilai Islam.
Kebiasaan ini, lanjutnya, tetap penting ketika anak telah dewasa, bahkan setelah mereka memiliki keluarga sendiri. Kehadiran orang tua dan komunikasi yang terjaga tetap menjadi bagian berharga dalam hubungan keluarga.
Selain ketiga langkah tersebut, Lailan mengingatkan para ayah agar senantiasa mendoakan anak-anaknya, terutama pada waktu-waktu yang utama untuk berdoa. Menurutnya, ikhtiar mendidik anak perlu berjalan bersama doa dan kesungguhan orang tua dalam menjaga keimanan diri sendiri.
Ia juga menekankan bahwa pembentukan generasi saleh dan salehah perlu dipersiapkan sejak sebelum pernikahan. Para calon ayah perlu melatih kedisiplinan, mengelola waktu, serta menjaga dan memperkuat keimanan agar siap menjalankan tanggung jawab dalam keluarga.
Lailan mengingatkan bahwa tanggung jawab ayah melampaui pemenuhan kebutuhan materi. Anak juga membutuhkan bimbingan keagamaan, kasih sayang, dan contoh nyata dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, ia mengajak para jemaah untuk memulai perubahan dari rumah masing-masing. Ayah perlu menyediakan waktu untuk anak, menunjukkan perilaku yang patut diteladani, serta membangun suasana keluarga yang mendukung pertumbuhan iman dan akhlak.






