Kamis, 15 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Tauhid Harus Menjadi Fondasi Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Tauhid Harus Menjadi Fondasi Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Tauhid perlu menjadi landasan dalam seluruh aspek kehidupan seorang muslim, termasuk ketika menghadapi persoalan rumah tangga, mendidik anak, bekerja, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Keyakinan kepada Allah harus tercermin dalam sikap dan keputusan sehari-hari, bukan sebatas pembicaraan dalam kajian keagamaan.

Hal tersebut disampaikan dalam kajian Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM) di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Kamis (08/10). Dalam kajian tersebut, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto menjelaskan bahwa tauhid merupakan fondasi kehidupan manusia yang perlu dibawa ke berbagai ruang kehidupan.

Menurutnya, harta benda dan jabatan memiliki batas waktu, sedangkan pengabdian kepada Allah berlangsung sepanjang hidup. Karena itu, kesibukan bekerja, mengurus keluarga, maupun menjalankan organisasi perlu disertai upaya menjaga keikhlasan.

“Jangan sampai kita sibuk mengurus organisasi namun lupa mengurus keikhlasan,” pesannya.

Prinsip tersebut juga berlaku dalam kehidupan keluarga. Orang tua, misalnya, perlu memikirkan nilai yang ingin diwariskan kepada anak-anaknya. Membangun rumah dan memenuhi kebutuhan keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab, tetapi rumah juga perlu dihidupkan dengan ibadah dan pendidikan agama.

“Tidak hanya memberi rumah, ‘Nak, nanti kamu tinggal di rumah ini.’ Ya, tidak hanya seperti itu. Tidak hanya meninggalkan ini, dirawat dijaga. Tidak hanya seperti itu, tapi kemudian terangilah rumah ini dengan tilawah dan salatmu dan keluargamu,” tuturnya.

Ia mengajak orang tua membangun suasana religius di rumah melalui kebiasaan sederhana, seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, mengadakan pengajian, dan menyelenggarakan kegiatan keagamaan bersama keluarga. Dengan cara itu, rumah menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai Islam sekaligus ruang dakwah bagi anggota keluarga.

Mengelola Amarah dengan Nilai Tauhid

Penerapan tauhid, lanjutnya, dapat terlihat ketika seseorang menghadapi persoalan rumah tangga. Kehidupan keluarga memiliki beragam ujian, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, pekerjaan, hingga perbedaan sikap antara suami, istri, dan anak.

Ketika menghadapi kemarahan, seseorang perlu mengingat Allah dan menahan diri agar tidak menyakiti orang lain. Kemarahan yang tidak terkendali dapat memperburuk persoalan dan menimbulkan dampak bagi anggota keluarga, terutama anak-anak.

Ia mengingatkan bahwa mendidik anak juga membutuhkan kebijaksanaan. Orang tua perlu menghindari tindakan yang didorong oleh emosi, termasuk ketika anak melakukan kesalahan atau terjadi persoalan di rumah.

Talqis mencontohkan situasi ketika orang tua kehilangan uang lalu langsung menuduh anak sebagai pelakunya. Jika anak terus-menerus menghadapi intimidasi verbal maupun fisik, anak dapat menjadi tertutup dan enggan berbicara jujur kepada orang tuanya.

“Maka respons tauhid adalah mendidik dengan hikmah, bukan melampiaskan emosi,” ujarnya.

Menurutnya, orang tua perlu membangun komunikasi yang memungkinkan anak menyampaikan keadaan sebenarnya tanpa merasa terancam. Ketegasan dalam mendidik tetap diperlukan, tetapi harus disertai pertimbangan yang bijaksana dan tidak berubah menjadi kekerasan.

Menghadapi Kesulitan dengan Ikhtiar dan Kejujuran

Tauhid juga menjadi pedoman ketika keluarga menghadapi kesulitan ekonomi. Kebutuhan membayar biaya sekolah, membeli seragam, dan memenuhi keperluan rumah tangga dapat menjadi tekanan tersendiri. Namun, kesulitan tersebut tidak boleh mendorong seseorang mencari jalan keluar melalui praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Talqis mengingatkan agar umat Islam menghindari kesyirikan dan cara-cara yang dilarang agama dalam mencari rezeki. Keyakinan kepada Allah semestinya mendorong seseorang untuk berusaha dengan cara yang benar.

Ia menjelaskan bahwa orang yang bertauhid tetap dapat menghadapi berbagai persoalan. Perbedaannya terletak pada cara menyikapi masalah tersebut, yakni dengan tetap berpegang pada ajaran agama ketika mencari jalan keluar.

Dalam persoalan kesehatan, misalnya, seseorang perlu bersyukur atas nikmat yang masih dimiliki sekaligus berikhtiar untuk mendapatkan pengobatan. Sikap bersyukur tidak berarti mengabaikan masalah, tetapi membantu seseorang menghadapi musibah tanpa kehilangan harapan.

Dalam pekerjaan, Talqis juga menegaskan bahwa bekerja merupakan bagian dari ikhtiar menjemput rezeki, sedangkan Allah menentukan hasilnya. Manusia perlu bersungguh-sungguh berusaha, tetapi tidak boleh menggunakan cara yang mengundang murka Allah, seperti korupsi, penipuan, riba, dan sumpah palsu.

“Pekerjaan adalah ikhtiar. Allah adalah pemberi rezekinya. Kita berusaha, Allah menentukan hasilnya,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa rezeki memiliki bentuk yang beragam. Selain harta dan makanan, kesehatan, ketenangan, kerukunan, kenyamanan, dan rasa aman juga merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Tauhid perlu hadir dalam seluruh aktivitas manusia. Keyakinan kepada Allah harus mengarahkan cara seseorang bekerja, mendidik anak, memperlakukan pasangan, dan menghadapi kesulitan.

“Apapun aktivitas kita jangan tinggalkan Allah. Ikut sertakan Allah dalam kegiatan kita,” pesannya.

Tinggalkan Balasan