Jumat, 9 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Tantangan Muhammadiyah Masa Depan: Kebodohan Digital di Tengah Banjir Informasi

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Tantangan Muhammadiyah Masa Depan: Kebodohan Digital di Tengah Banjir Informasi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG – Tantangan Muhammadiyah dulu dan kini berbeda, jika dulu kemiskinan dan kebodohan fisik. Kini berubah jadi kemiskinan makna di tengah kelimpahan materi, dan kebodohan digital di tengah banjir informasi.

Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad pada Jum’at (9/10) dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” yang diselenggarakan PWA Jawa Barat.

Sebagai Guru Besar Sosiologi Agama, Dadang melihat kemajuan teknologi tidak akan menghapus kebutuhan manusia terhadap makna. Sebaliknya, bisa jadi kecanggihan teknologi tidak serta merta dapat memberikan makna.

“Bahkan mungkin sebaliknya, semakin canggih teknologi, semakin manusia membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan algoritma,” tutur Dadang.

Meskipun demikian, menurutnya jika agama ingin tetap eksis di masa depan tidak boleh menolak kemajuan teknologi– termasuk Artificial Intelligence (AI), serta anti dengan sains.

“Agama masa depan adalah agama yang mampu memberikan arah moral kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memberikan kedalaman spiritual kepada kehidupan manusia,” ungkapnya.

Bagi Dadang, ke depan agama tidak boleh dikotomis melainkan harus memiliki kecakapan untuk menjaga wahyu, menghidupkan akal, membangun akhlak, menghargai ilmu, merawat bumi, dan menghadirkan kemaslahatan untuk alam.

Berdamai dan Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Muhammadiyah sejak awal telah memperjelas posisi antara agama dengan ilmu pengetahuan itu tidak diametral, melainkan saling sinergis dan harmonis. Sehingga memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memperluas dakwah dan menebar manfaat.

Salah satu langkah Muhammadiyah memanfaatkan teknologi ialah dengan membangun sebuah sistem digital untuk menyatukan dan harmonisasi Satu Data Muhammadiyah (SATUMU).

Dadang juga menjelaskan, saat ini Muhammadiyah juga mengembangkan aplikasi MASA sebagai pintu gerbang mendaftar keanggotaan Muhammadiyah– melalui pembuatan elektronik Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (e-KTAM).

Selain itu, dirinya juga mendorong kader maupun simpatisan untuk ikut menyemarakkan narasi positif tentang Muhammadiyah di berbagai platform media sosial. Langkah itu perlu dilakukan untuk promosi praktik baik Muhammadiyah.

Pada masa kini, berbagai negara Islam, ormas keagamaan Islam dunia menjadikan Muhammadiyah sebagai representasi wajah kemajuan Islam. Islam tidak lagi hanya identik dengan Timur Tengah.

“Kita saat ini menjadi kebanggaan orang-orang, bagaimana kita bisa membuat sekolah (islam modern), rumah sakit, panti asuhan, dan lain sebagainya. Itu jarang dimiliki oleh organisasi Islam,” katanya.

Namun demikian, dengan berbagai catatan kemajuan Muhammadiyah sekarang tidak boleh merasa cukup. Sebab terobosan dan inovasi Muhammadiyah di abad kedua hingga kini masih ditunggu oleh dunia.

Tinggalkan Balasan