MUHAMMADIYAH.OR.ID YOGYAKARTA – Masjid tidak lagi cukup dipandang sebagai tempat ibadah semata. Dengan layanan yang ramah bagi musafir, masjid dapat menjadi simpul pergerakan ekonomi umat, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga usaha milik masjid.
Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi panel Masjid Ramah Musafir pada Silaturahmi Nasional (Silatnas) Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Muhammadiyah, di Dormitory UMY pada Ahad (25/10).
Sesi ini menghadirkan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Jamaluddin Ahmad, Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah Syauqi Soeratno, Bendahara Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur drh. Zainul Muslimin, dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Arif Sulfiantono.
Jamaluddin menjelaskan, pembinaan masjid di Muhammadiyah dikelola bersama Majelis Tabligh, sedangkan LPCR-PM berfokus merintis masjid percontohan dan unggulan. Untuk itu, LPCR-PM menyusun Sistem Informasi Masjid Muhammadiyah (SIMASMU) karena selama ini Persyarikatan belum memiliki basis data masjid yang memadai.
Dari sekitar 4.600 masjid yang telah terdata, rata-rata jamaah baru berjumlah 30 orang pada setiap waktu salat. Menurutnya, temuan itu menjadi dasar penting dalam menyusun program.
“Kalau kita bekerja tanpa data biasanya masalah,” tegas Jamaluddin.
Di tengah rata-rata tersebut, ia memaparkan sejumlah masjid percontohan yang telah menggerakkan ekonomi di sekitarnya. Salah satunya Masjid Baitul Mukhlisin di Ponorog, masjid tingkat ranting yang menjadi juara satu nasional.
Masjid ini membantu 13 RT di lingkungannya masing-masing Rp11 juta, yakni Rp1 juta untuk ketua RT dan Rp10 juta untuk program menggerakkan warga salat berjamaah. Masjid ini juga memiliki Badan Usaha Milik Masjid berupa laundry, minimarket Suryamart yang membukukan laba bersih Rp20 juta hingga Rp25 juta per bulan, serta restoran yang mampu melayani 500 hingga 1.000 orang dalam sekali makan.
Jamaluddin menambahkan, LPCR-PM juga tengah menyiapkan masjid ramah musafir, di antaranya masjid dengan 100 tempat tidur bagi rombongan. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gunungkidul pun sedang membangun masjid ramah musafir di jalur wisata dan jalan nasional yang ditargetkan rampung Januari mendatang.
Sementara itu, Arif yang juga aktif di pemberdayaan Masjid Jogokariyan Yogyakarta memaparkan standar layanan masjid ramah musafir, antara lain WiFi dan minuman gratis, colokan listrik, kuliner halal, imam yang hafiz, hingga layanan bagi penyandang disabilitas.
Dari sisi ekonomi, ia mengutip riset sektor pariwisata 2025 yang menyebutkan belanja wisatawan terbesar tersedot ke akomodasi, disusul makanan dan minuman atau oleh-oleh.
“Ini sebagai peluang untuk mengembangkan masjid sebagai bisnis wisata,” ujar Arif.
Ia mencontohkan Masjid Jogokariyan yang kini memiliki hotel masjid dengan 11 kamar dan tingkat hunian hampir 100 persen. Pada Januari hingga September tahun ini, masjid tersebut menerima 228 rombongan, terbanyak dari lembaga pendidikan sebanyak 80 rombongan, disusul takmir dan DKM sebanyak 56 rombongan. Pengunjung paling padat datang pada akhir pekan.
Dari sisi kebijakan, Syauqi menyebut Rencana Induk Pariwisata Nasional dan Rencana Induk Ekonomi Kreatif Nasional membuka ruang diskusi bagi Muhammadiyah. Karena itu, ia berharap forum ini menghasilkan rekomendasi dan position paper tentang pandangan Muhammadiyah terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif, baik untuk internal Persyarikatan maupun pemerintah.
Syauqi juga menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki landasan konstitusional untuk berusaha, yakni melalui badan usaha milik Muhammadiyah yang berbentuk perseroan terbatas. Ia mengaitkannya dengan teladan KH Ahmad Dahlan yang berdagang batik sembari berdakwah.
“Bangunlah entrepreneurship itu dari dalam diri,” tutur Syauqi.
Terkait masjid ramah musafir, Syauqi menilai pengelola perlu menentukan arah, apakah masjid menjadi tempat singgah atau destinasi, sebab keduanya memiliki pola pengelolaan yang berbeda.
Ia juga mengusulkan pusat pertumbuhan ekonomi kreatif dan pariwisata Muhammadiyah di sekitar 12 titik di seluruh Indonesia. Menurutnya, kunci keberhasilannya adalah bekerja secara berjamaah.
Adapun drh. Zainul menegaskan bahwa pelaku usaha dapat meneladani Rasulullah yang juga seorang pebisnis. Ia mengingatkan agar lembaga usaha dikelola sebagai milik Persyarikatan yang menghasilkan keuntungan memadai dan berdampak bagi Persyarikatan.
Menurutnya, kunci pengelolaan masjid ramah musafir terletak pada layanan, dan kunci layanan adalah memanusiakan manusia.
Zainul juga mendorong pengelola masjid aktif membagikan praktik baik melalui media sosial. Ia mencontohkan sebuah masjid ramah musafir juara nasional yang pengikut TikTok-nya naik dari sekitar 19 ribu menjadi 40 ribu.
Di akhir pemaparannya, Jamaluddin kembali menegaskan tiga gerakan yang diusung LPCR-PM dalam membina masjid. “Masjid makmur memakmurkan, dari masjid kita bangkit, apa pun masalahnya masjid solusinya,” pungkas Jamaluddin. (Bhisma)






