MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dunia anak muda dalam zaman kontemporer ini begitu beragam. Tidak hanya berkutat pada ruang diskusi, akademik, bisnis, politik, atau gagasan-gagasan mengenai agenda perubahan, pemuda juga dituntut untuk terjun langsung kedalam luasnya lapangan pekerjaan, mengambil risiko, hingga turut serta berkontribusi menciptakan kemandirian ekonomi.
Dalam konteks Sumpah Pemuda, tantangan tersebut seakan menjadi pesan yang begitu relevan untuk direnungkan. Merespon hal ini, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy memberikan pesan, dorongan, dan semangat agar para generasi muda dapat terus produktif dalam melahirkan gagasan, dan kreatif dalam membangun kemandirian ekonomi.
Bagi Muhadjir, jalan pengabdian para pemuda itu soal pilihan. “Misalnya, kita tidak bisa memaksa semua pemuda untuk beramai-ramai terjun ke dunia ekonomi. Pilihan itu juga berkaitan dengan appetite atau selera, serta minat,” jelasnya ketika ditemui media pada Ahad (25/10) dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory.
Selanjutnya, Muhadjir memandang bahwa persoalan di atas bukan sekadar pilihan profesi, kontribusi, dan pengabdian. Ia juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang kekuasaan dan kepentingan.
Dalam konteks ini, Muhadjir memberikan peringatan bahwa sesuatu hal dapat kehilangan orientasi pengabdiannya apabila dijadikan jalan untuk memperoleh kekayaan pribadi.
“Nah inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya banyak korupsi,” tegasnya.
Muhadjir kemudian melihat bahwa usaha untuk bekerja keras dan membangun kemandirian ekonomi memang tidak serta merta menjamin seseorang dapat terbebas dari korupsi. Namun, membangun etos kerja, kemandirian, dan kemampuan dalam menghasilkan pendapatan dapat menjadi bagian dari upaya menanamkan orientasi hidup yang tidak bergantung pada kekuasaan dan kepentingan pribadi.
“Berduyun-duyunlah. Anak muda ini harus mencoba adu untung, berjuang keras,” ajaknya.
Lebih lanjut, sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi sektor perekonomian dan bisnis, Muhadjir turut mendorong positif para pemuda yang memilih untuk terjun ke dunia perekonomian dan bisnis.
Mengutip pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ia menyoroti pentingnya menghasilkan pendapatan bukan sekadar memperbanyak pendapat.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan terhadap kebiasaan berdiskusi tanpa tindak lanjut yang jelas. Muhadjir mengatakan bahwa ajang pertemuan, perencanaan, dan pertukaran gagasan memang tetap diperlukan. Namun, semuanya harus bermuara kepada kerja-kerja dan hasil nyata yang dapat dirasakan.
“Forum-forum pertemuan, bertukar gagasan itu sekali setahun saja, setelah itu kita harus fokus mencari pendapatan. Itulah yang juga menjadi prinsip Muhammadiyah, tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja,” pungkasnya.
Semangat ini sejalan dengan pesan Sumpah Pemuda bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bangsa. Dengan keberanian berusaha, etos kerja, dan orientasi pada hasil nyata, pemuda diharapkan mampu mengambil bagian dalam memperkuat perekonomian sekaligus mendorong kemajuan Indonesia. (Bhisma)






