MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Pengalaman kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menjadi ruang belajar tentang toleransi, penerimaan, dan penghargaan terhadap perbedaan bagi mahasiswa nonmuslim.
Hal ini terungkap dalam Lensamu Podcast yang tayang pada Rabu (28/10), menghadirkan Dwi Darma Puspitasari, mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (UAD), serta Suster Sebastiana Bwarleling, mahasiswi D3 Radiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA).
Keduanya menceritakan pengalaman berkuliah di lingkungan perguruan tinggi yang mayoritas mahasiswanya muslim. Pengalaman tersebut mengubah pandangan awal mereka tentang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, sekaligus memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat tumbuh melalui interaksi sehari-hari.
Dwi mengaku tertarik masuk UAD setelah melihat informasi penerimaan mahasiswa baru di media sosial. Keputusan itu juga dipengaruhi pengalaman keluarganya, terutama sang kakak yang pernah kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah. Meski sempat mendapat pertanyaan dari teman-temannya mengenai pilihannya, Dwi bertekad membangun pengalaman pendidikan dengan jalannya sendiri.
Sebelum kuliah, Dwi mengira Muhammadiyah merupakan lingkungan keagamaan yang cukup ketat. Namun, setelah menjalani perkuliahan selama sekitar 3 tahun, pandangan tersebut berubah. Ia merasakan penerimaan dari dosen, tenaga kependidikan, dan teman-teman kuliahnya.
“Saya juga mendapatkan hak saya sebagai seorang mahasiswa nonmuslim. Saya mendapatkan hak yang sama, tidak dibeda-bedakan,” ungkapnya.
Dwi bahkan menjadi mahasiswa nonmuslim pertama di Program Studi Bimbingan dan Konseling UAD pada angkatan 2023 setelah cukup lama tidak ada mahasiswa nonmuslim di program studi tersebut. Menurutnya, pengalaman itu menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi mahasiswa untuk memperoleh kesempatan belajar dan membangun pertemanan.
Salah satu pengalaman yang berkesan baginya ialah ketika berdiskusi dengan teman-teman mengenai pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Mereka saling bertanya tentang ajaran agama masing-masing. Dari percakapan tersebut, Dwi merasakan hubungan yang terbuka dan timbal balik.
Ia juga menceritakan pengalamannya ketika mengurus rencana studi pada awal semester 7. Pihak program studi memberikan penjelasan terperinci mengenai mata kuliah AIK yang perlu diselesaikan dan mata kuliah yang dapat dikonversi. Pelayanan tersebut membuatnya merasa yakin telah memilih kampus yang tepat.
“Di sini saya juga banyak belajar bagaimana kita menjadi manusia,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Suster Sebastiana, yang baru sekitar 3 bulan tinggal di Yogyakarta ketika mengikuti podcast tersebut. Sebelumnya, ia bertugas selama 5 tahun di Ternate dan telah terbiasa hidup berdampingan dengan umat Islam. Ia memilih UNISA Yogyakarta karena program D3 Radiologi yang dituju memiliki akreditasi unggul. Meski demikian, ia sempat khawatir dapat menyesuaikan diri di lingkungan kampus yang mayoritas muslim.
Kekhawatiran itu perlahan menghilang setelah ia merasakan penerimaan dari dosen dan teman-temannya. Sebagai seorang biarawati Katolik, ia sempat menarik perhatian ketika datang mengurus berkas pendaftaran. Namun, respons yang diterimanya justru membuatnya merasa diterima sebagai bagian dari lingkungan kampus.
Suster Sebastiana juga merasakan kedekatan dengan teman-teman kuliahnya melalui kegiatan sederhana. Ia pernah menemani teman-temannya menuju Masjid Walidah Dahlan ketika mereka hendak salat. Ia tidak mengikuti ibadah tersebut, tetapi memilih menunggu sambil mengamati kegiatan di sekitarnya.
Baginya, pengalaman itu menjadi kesempatan untuk mengenal kehidupan teman-temannya sekaligus membangun hubungan yang saling membutuhkan.
“Saya merasa bahwa mereka membutuhkan saya dan saya membutuhkan mereka,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi kebiasaan berdoa sebelum dan sesudah perkuliahan. Beberapa dosen memberinya ruang untuk berdoa sesuai dengan keyakinannya sendiri. Pengalaman tersebut membuatnya merasa bahwa kehidupan beragama di kampus tetap memberi tempat bagi perbedaan iman.
“Bagi saya, tidak ada perbedaan. Bagaimana kita mengimani iman kita masing-masing,” ujarnya.
Keberagaman Perlu Dibangun dengan Ketulusan
Bagi kedua mahasiswi tersebut, keberagaman membutuhkan sikap saling menerima dan menghargai. Dwi menekankan pentingnya keterbukaan dalam menghadapi perbedaan, sedangkan Suster Sebastiana mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menghakimi sesuatu yang belum dipahami akar persoalannya.
Keduanya juga menyoroti tantangan anak muda dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial. Menurut Suster Sebastiana, kebiasaan membagikan berita tanpa memeriksa sumber dapat memperbesar kesalahpahaman. Ia mengajak generasi muda untuk berpikir kritis dan memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
Dwi menyampaikan hal senada. Menurutnya, setiap informasi perlu diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui apakah memiliki dasar faktual atau sekadar opini yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Ia menilai media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi dan menggerakkan kegiatan positif. Salah satunya melalui gerakan Batara Berseri, singkatan dari Batik Muda Bersama Sari, yang ia gagas untuk mengajak anak muda mengenakan batik dan mengenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui media sosial.
Sementara itu, Suster Sebastiana menekankan pentingnya menghidupkan kembali penghargaan terhadap sesama melalui kebiasaan sederhana, seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan meminta tolong. Baginya, kebiasaan tersebut merupakan bagian mendasar dari upaya menjaga persatuan.
Keduanya memandang semangat Sumpah Pemuda tetap relevan dalam kehidupan sekarang. Persatuan Indonesia perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, keterbukaan, dan kesediaan bekerja sama meskipun berbeda agama maupun latar belakang.






