Sabtu, 10 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Seabad Suara ‘Aisyiyah, Dari Gagasan Perempuan Menuju Gerakan Peradaban

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Seabad Suara ‘Aisyiyah, Dari Gagasan Perempuan Menuju Gerakan Peradaban

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Majalah Suara ‘Aisyiyah memperingati milad satu abad dengan mengusung tema “Literasi Perempuan, Peradaban Berkemajuan” di SM Tower Yogyakarta, Sabtu (10/10).

Momentum ini menjadi penguat komitmen Suara ‘Aisyiyah dalam mengembangkan literasi, dakwah, serta ruang pengembangan pemikiran perempuan berkemajuan.

Dalam sambutannya Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengulas perjalanan panjang Suara ‘Aisyiyah beserta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan eksistensinya. Ia mendorong agar momentum satu abad ini dimanfaatkan untuk merumuskan visi pengembangan media yang lebih maju dan profesional.

Menurut Haedar, pengembangan tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kualitas konten dan daya tarik majalah agar mampu menjangkau pembaca yang lebih luas, khususnya warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Dengan demikian, Suara ‘Aisyiyah dapat terus memperkuat perannya sebagai media literasi dan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sementara Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengajak hadirin merefleksikan perjuangan para pendahulu Suara ‘Aisyiyah yang telah meletakkan dasar pemikiran tentang pentingnya pengetahuan bagi perempuan.

Salmah, yang juga Dosen Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyebut para tokoh terdahulu memiliki pandangan visioner karena menyadari bahwa perempuan harus memiliki pengetahuan dan akses terhadap informasi. Dalam konteks tersebut, media menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan sekaligus mendorong kemajuan perempuan.

“Suara ‘Aisyiyah merupakan sejarah panjang pemikiran para tokoh-tokoh ‘Aisyiyah,” ujarnya.

Salmah menegaskan, warisan pemikiran tersebut perlu terus dirawat agar Suara ‘Aisyiyah mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Media ini diharapkan tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga memperkuat perannya sebagai ruang pengembangan pengetahuan bagi perempuan.

“Suara ‘Aisyiyah harus menjadi salah satu pusat literasi perempuan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Salmah berharap Suara ‘Aisyiyah terus memperluas kontribusinya dalam menyampaikan dakwah yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, media ini perlu menjadi sarana penyebaran nilai-nilai Islam yang berorientasi pada kemanusiaan.

Direktur Suara ‘Aisyiyah, Khusnul Hidayah, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis. Literasi menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan dan mampu menyikapi berbagai persoalan secara bijaksana.

“Literasi bukan hanya membaca dan menulis, tapi kemampuan untuk berpikir kritis,” ujarnya.

Khusnul juga menyoroti pentingnya dukungan berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan Suara ‘Aisyiyah. Menurutnya, media ini tidak hanya perlu memiliki idealisme yang kuat, tetapi juga dukungan ekonomi yang memadai agar dapat terus menjalankan perannya dalam merawat dan menyebarluaskan warisan intelektual ‘Aisyiyah.

“Kami ingin Suara ‘Aisyiyah tidak hanya kuat secara idealisme, tetapi juga secara ekonomi. Pada kesempatan ini, kami ingin memohon dukungan seluruh AUM dan amal usaha ‘Aisyiyah agar tetap berlangganan Suara ‘Aisyiyah untuk menjaga warisan intelektual,” tuturnya.

Sementara Pimpinan Redaksi Suara ‘Aisyiyah, Hajar Nur Setyowati, mengingatkan bahwa sejak awal kehadirannya, Suara ‘Aisyiyah telah membawa gagasan tentang kesetaraan perempuan di tengah konstruksi sosial yang membatasi ruang gerak mereka. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam memberikan ruang bagi pemikiran perempuan agar berkembang dan diwujudkan dalam gerakan nyata.

Hajar menegaskan bahwa gagasan tidak cukup berhenti pada tataran pemikiran, tetapi perlu dipertemukan dan diterjemahkan menjadi aksi bersama.

Rangkaian peringatan Milad Seabad Suara ‘Aisyiyah turut diisi dengan pemberian Lifetime Achievement Award kepada Siti Hayina dan Siti Chamamah Soeratno atas kiprah keduanya sebagai tokoh pers perempuan. Penghargaan tersebut diterima oleh perwakilan keluarga masing-masing tokoh.

Panitia juga memberikan penghargaan kepada penulis dan kontributor produktif, yakni Kusnita dan Suko Wahyudi. Sementara itu, penghargaan bagi agen dengan capaian terbanyak dan berkelanjutan diberikan kepada Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Jakarta Pusat dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Blora.

Acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba menulis artikel dan TikTok Challenge. Rangkaian peringatan satu abad Suara ‘Aisyiyah ditutup dengan penampilan stand-up comedy oleh Chairul Mukmin. (Andiva)

Tinggalkan Balasan