Senin, 19 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Perkuat Kesehatan Mental dengan Membiasakan Diri Bersyukur

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Perkuat Kesehatan Mental dengan Membiasakan Diri Bersyukur

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul, Syahrul, mengajak umat Islam menjadikan rasa syukur sebagai gaya hidup untuk memperkuat kesehatan mental sekaligus membentuk kepribadian yang lebih baik.

Menurutnya, syukur perlu diwujudkan dalam cara seseorang menyikapi persoalan hidup, menjalankan pekerjaan, dan mendidik dirinya sendiri.

Hal itu disampaikan Syahrul dalam pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Ahad (18/10). Ia menjelaskan bahwa syukur memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam dan berkaitan dengan cara manusia memaknai nikmat maupun musibah yang dihadapinya.

Syahrul mengutip firman Allah dalam QS Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Ia menyoroti pesan ayat tersebut bahwa syukur berkaitan erat dengan kemampuan seseorang menerima dan menghargai apa yang dimilikinya. Menurutnya, orang yang tidak bersyukur cenderung terus merasa kekurangan, sekalipun telah memiliki banyak hal dalam hidupnya.

“Rasa cukup itu tidak pernah diukur dengan kuantitas, tidak pernah bisa diukur dengan isi tas. Dia diukur dengan hati yang salim,” jelasnya.

Untuk memperkuat penjelasannya, Syahrul memaparkan penelitian psikolog Robert Emmons tentang rasa syukur atau gratitude. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan mengungkapkan rasa syukur dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan seseorang, terutama dalam menghadapi tekanan dan persoalan.

Syahrul mencontohkan bahwa seseorang dapat melatih syukur dengan menemukan hal yang masih patut disyukuri ketika mengalami musibah. Ketika mengalami kecelakaan, misalnya, seseorang dapat bersyukur karena kerusakan hanya terjadi pada kendaraan dan dirinya selamat.

Menurutnya, kebiasaan tersebut membantu seseorang mengembangkan sudut pandang yang lebih positif dalam menghadapi kesulitan. Ia menekankan bahwa bersyukur bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan membangun kekuatan diri agar mampu menghadapinya dengan lebih baik.

Syukur dan Ketahanan Mental

Syahrul menilai kebiasaan bersyukur penting di tengah persoalan kesehatan mental yang dihadapi masyarakat, termasuk kecenderungan sebagian anak muda melukai diri sendiri ketika mengalami tekanan. Ia menceritakan pengalamannya menjumpai siswa yang melukai tangannya karena kecewa menghadapi persoalan hidup.

Menurutnya, rasa syukur dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk membangun ketahanan mental. Dengan menyadari nikmat yang masih dimiliki dan menempatkan persoalan secara proporsional, seseorang diharapkan lebih mampu menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.

Ia mengibaratkan persoalan hidup seperti garam yang dilarutkan dalam air. Segenggam garam yang dimasukkan ke dalam segelas air akan terasa sangat asin. Namun, ketika garam yang sama dimasukkan ke dalam sumur, rasa asinnya tidak lagi terasa kuat.

“Masalah itu tergantung wadahnya. Hati kita itu bagaimana menetralisir masalah,” ujarnya.

Syahrul juga mengingatkan bahwa kenikmatan yang tampak besar belum tentu membawa kebaikan apabila membuat seseorang jauh dari Allah. Sebaliknya, musibah dapat menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ia menjelaskan bahwa kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Karena itu, umat Islam perlu membangun kesiapan diri dalam menghadapi keadaan yang berubah-ubah, baik ketika memperoleh kelapangan maupun ketika mengalami kesulitan.

Syukur, lanjutnya, juga harus tampak dalam aktivitas sehari-hari. Bekerja, mencari nafkah, mengasuh anak, dan melayani keluarga dapat menjadi bentuk rasa syukur apabila dilakukan dengan niat yang baik.

Ia mengutip firman Allah dalam QS Saba ayat 13:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

“Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).”

Menurut Syahrul, ayat tersebut menunjukkan hubungan antara rasa syukur dan tindakan nyata. Syukur tidak cukup diucapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui pekerjaan dan tanggung jawab yang dijalankan dengan baik.

Mendidik Diri secara Menyeluruh

Lebih lanjut, Syahrul mengajak umat Islam membiasakan diri mendidik dan memperbaiki diri sebelum sibuk menasihati orang lain. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki unsur jasmani dan rohani yang perlu dikembangkan secara seimbang.

Dalam pemaparannya, unsur rohani mencakup akal, kalbu, nafsu, dan ruh. Masing-masing memerlukan pendekatan pendidikan yang sesuai agar seseorang tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik, matang dalam berpikir, serta baik dalam perilaku.

Ia mencontohkan bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang memiliki integritas. Orang yang menguasai banyak ilmu tetap dapat menggunakan pengetahuannya untuk menipu atau merugikan orang lain apabila tidak memiliki adab dan akhlak yang baik.

“Harusnya kampus-kampus itu membuat penilaian pada pendidikan akhlak. Karena kenapa? Kalau orang akhlaknya baik, diisi ilmu apa pun insyaallah baik,” tuturnya.

Syahrul juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan jasmani. Menurutnya, tubuh perlu mendapatkan asupan makanan yang cukup, istirahat, olahraga, dan kebersihan yang memadai. Kesehatan fisik menjadi salah satu penunjang agar seseorang dapat menjalankan ibadah secara optimal.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan tubuh. Hal itu sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-A’raf ayat 31:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”

Tinggalkan Balasan