MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, menekankan pentingnya kesiapan dalam penyelenggaraan ibadah haji di tengah perkembangan teknologi informasi, dinamika geopolitik, dan berbagai persoalan khas yang dihadapi jamaah.
Hal tersebut disampaikan Kiai Saad pada Jumat (23/10) dalam pembukaan Rakernas III dan Mudzakarah Nasional Perhajian III Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) PP Muhammadiyah di Hotel Gren Alia Tugu Tani, Jakarta Pusat.
Menurut Kiai Saad, ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang memerlukan perhatian besar dalam pelaksanaannya karena menghadapi beragam tantangan. Perkembangan teknologi informasi, situasi geopolitik, serta berbagai persoalan khusus dalam penyelenggaraan haji menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
“Untuk perkembangan ibadah-ibadah itu dalam konteks pelaksanaannya, yang paling memerlukan banyak perhatian itu adalah ibadah haji,” ungkapnya.
Karena itu, Kiai Saad memandang Mudzakarah Nasional Perhajian sebagai ruang untuk mengevaluasi sekaligus memproyeksikan penyelenggaraan haji Muhammadiyah agar semakin baik. Upaya tersebut perlu didasarkan pada pengetahuan dan perkembangan terbaru sehingga berbagai tantangan dapat diantisipasi secara tepat.
“Mudzakarah-mudzakarah seperti ini adalah bagian-bagian untuk kita memproyeksikan pelaksanaan ibadah haji di tangan Muhammadiyah itu semakin baik,” jelasnya.
Meski demikian, pengembangan penyelenggaraan haji tetap harus berpedoman pada tuntunan manasik. Kiai Saad menjelaskan bahwa ketika muncul persoalan atau kesulitan dalam pelaksanaannya, syariat memberikan ruang kemudahan yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Selain kesiapan teknis tersebut, pembekalan jamaah juga perlu memperhatikan kesiapan mental dan perilaku selama berada di Tanah Suci. Kepadatan jamaah, perbedaan latar belakang, serta situasi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
Tantangan lainnya, dinamika geopolitik juga menuntut kehati-hatian dalam mempersiapkan penyelenggaraan haji. Kiai Saad mengingatkan bahwa berbagai upaya perlu dilakukan dengan tetap menyadari posisi jamaah sebagai tamu Allah yang harus menjaga sikap selama menjalankan ibadah.
“Tadi intinya sudah saya sampaikan tadi situ, dengan perkembangan geopolitik kayak begini ini kita harus hati-hati. Tapi di atas semuanya itu tentu sekali lagi, berserah diri kita kepada Allah sebagai tamu Allah itu menjadi hal yang penting,” tuturnya.
Sejalan dengan itu, Kiai Saad menegaskan bahwa berbagai ikhtiar dalam mempersiapkan penyelenggaraan haji perlu disertai sikap tawakal kepada Allah SWT. “Karena itu, di samping ikhtiar ada tawakal,” tegasnya.
Dalam konteks penerapan prinsip kemaslahatan, Kiai Saad juga menyoroti persoalan penyembelihan dam dalam ibadah haji. Menurutnya, penyembelihan dam di Indonesia dapat dipandang lebih maslahat dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat di Tanah Air dibandingkan dengan Arab Saudi.
“Jadi ketika kita menggunakan prinsip kemaslahatan itu hampir pasti siapa pun menyimpulkan lebih bermaslahah kalau kemudian itu disembelih di Indonesia sendiri,” ujarnya.
Peningkatan kualitas penyelenggaraan haji membutuhkan kesiapan menghadapi perkembangan zaman, kepatuhan terhadap tuntunan manasik, serta pertimbangan kemaslahatan dalam menyikapi persoalan yang muncul. Seluruh ikhtiar tersebut perlu dijalankan dengan kehati-hatian dan disertai tawakal kepada Allah SWT. (Taufik)






