MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mendorong para pelaku usaha Muhammadiyah untuk terus mengembangkan sektor bisnis, ekonomi kreatif, dan pariwisata sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi persyarikatan.
Hal itu disampaikan Muhadjir dalam forum Silaturahmi Nasional Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammadiyah, Ahad (25/10). Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya keberanian mengambil peluang usaha serta membangun kegiatan ekonomi yang berorientasi pada hasil konkret.
Mengutip pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang menyatakan bahwa “Pelaku Ekonomi Muhammadiyah tidak banyak pendapat, tapi justru fokus mencari pendapatan”, Muhadjir mengingatkan agar para pelaku ekonomi tidak berhenti pada diskusi dan gagasan, tetapi juga mampu mewujudkannya menjadi usaha yang produktif.
Dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata, Muhadjir menyoroti dua peluang strategis yang dapat dikembangkan Muhammadiyah, yakni bisnis haji dan umrah serta penguatan wisata sejarah Muhammadiyah.
Pertama, sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji itu mendorong pelaku usaha Muhammadiyah untuk mengambil peran lebih aktif dan mandiri dalam bisnis haji dan umrah.
“Bahkan LPEK sebenarnya bisa bekerja sama dengan Lembaga Haji dan Umrah (LHU) untuk menyewa jangka panjang, sekitar 20 tahun, atau membeli tower/hotel berkapasitas besar yang berjarak 300 hingga 500 meter dari Masjidil Haram,” ujar Muhadjir.
Menurutnya, peluang tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan bisnis Muhammadiyah di sektor penyelenggaraan layanan haji dan umrah. Dengan perencanaan serta kerja sama antarlembaga yang matang, Muhammadiyah berpeluang memperkuat keterlibatannya dalam menyediakan fasilitas bagi jemaah Indonesia di Tanah Suci.
Lebih lanjut, Muhadjir menyoroti potensi wisata sejarah Muhammadiyah di Yogyakarta. Sebagai kota kelahiran Muhammadiyah, Yogyakarta memiliki berbagai situs bersejarah yang perlu diselamatkan, dirawat, dan dikembangkan sebagai bagian dari warisan persyarikatan.
Ia menilai situs-situs bersejarah Muhammadiyah tidak hanya memiliki nilai historis bagi warga Muhammadiyah, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata edukasi bagi masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara.
“Jadikanlah Jogja ini sebagai wisata pendidikan. Itu juga bisa diwariskan ke generasi muda kita untuk menunjang mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, yaitu bisa kita buat studi wisata sejarah Muhammadiyah,” usulnya.
Dengan mengunjungi langsung tempat-tempat bersejarah, Muhadjir berharap pelajar Muhammadiyah dapat memahami perjalanan persyarikatan secara lebih kontekstual, utuh, serta tidak hanya melalui penjelasan verbal atau di kelas-kelas saja. Di sisi lain, pengembangan wisata sejarah juga dapat memperkenalkan perjalanan dan kontribusi Muhammadiyah kepada masyarakat yang lebih luas hingga ke mancanegara.
Di akhir, Muhadjir turut menekankan pentingnya penulisan sejarah dalam membentuk cara pandang suatu bangsa terhadap dirinya sendiri. Menurutnya, sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan cara generasi berikutnya memahami identitas bangsanya.
Karena itu, ia mendorong kader dan warga Muhammadiyah untuk aktif mendokumentasikan serta menuliskan sejarah persyarikatan dengan narasi yang baik, dan dengan pemahaman yang utuh terhadap nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah dari waktu ke waktu.
“Dulu, kita ini telah dimanipulasi sejarah kita dibikin oleh orang Belanda sehingga terkadang kita ini menjadi bangsa yang rendah diri. Ini karena sejarahnya juga dibikin lain, kita dituliskan sebagai bangsa yang kalahan,” jelasnya.
“Maka di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu, tulislah sejarah yang baik dan jadikanlah Muhammadiyah itu hebat,” pungkas Muhadjir. (Bhisma)






