MUHAMMADIYAH.OR.ID YOGYAKARTA – Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah menggelar “Konsolidasi Nasional 2026 (monitoring dan evaluasi capaian program serta kegiatan) Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM/PDM Se-Indonesia” di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jl. Cik Ditiro No.23, Kota Yogyakarta pada (31/1).
Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief dalam amanahnya mengapresiasi kiprah program pemberdayaan yang dilakukan MPM. Dalam kalkulasi PP, MPM menjadi majelis dengan eksposur paling banyak bersama MDMC, dan Lazismu.
“Saya memimpikan dan mengharapkan bahwa MPM itu betul-betul menjadi sarana edukasi. Ya, edukasi bagaimana kalau kita bicara Islam Berkemajuan,” katanya.
Hilman juga mendorong MPM melangkah ke tahap berikutnya, yakni mengukur dampak program melalui perhitungan social return on investment dan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Hal itu bisa ditempuh dengan melibatkan generasi muda atau GenZ agar kerja lapangan didukung kerja cerdas berbasis teknologi. Menurutnya, dengan dokumen yang jelas, MPM berpeluang mendapat pengakuan dari lembaga nasional maupun internasional.
“Kalau disiapkan betul, sebelum atau pada Muktamar nanti, kita bisa mengajukan MPM kepada lembaga-lembaga nasional maupun internasional, pemerintah maupun sektor swasta, untuk mendapatkan pengakuan. Saya ingin eksposurnya kita tingkatkan, dan insya Allah saya bantu,” katanya.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, Nurul Yamin, menjelaskan bahwa forum ini tidak sekadar menjadi ruang monitoring, refleksi, dan evaluasi capaian program. Lebih dari itu, konsolidasi nasional ini menjadi wadah untuk memetakan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat, mengidentifikasi capaian, serta merumuskan langkah strategis bagi pengembangan program pada masa selanjutnya.
“Dari aktivitas organisasi Ini sekaligus juga akan dijadikan langkah-langkah strategis pada fase-fase berikutnya,” ungkap Yamin.
Peta Pemberdayaan MPM: Program Nasional dan Program Unggulan
Program Nasional dirancang untuk menjawab persoalan keumatan secara serentak dari tingkat pusat hingga cabang. Program Nasional ini mencakup empat pilar utama yaitu kelembagaan organisasi, pengembangan sumber daya manusia melalui Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat, petani dan pertanian yang berfokus kepada penguatan Jemaah Tani Muhammadiyah (Jatam), dan Masyarakat Nelayan dan Pesisir melalui Jamaah Nelayan Muhammadiyah (Jalamu).
Sementara dalam program unggulan dirancang berbasis komunitas untuk mengangkat potensi lokal, khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), masyarakat miskin kota, buruh, serta kelompok difabel.
Selain itu, MPM juga telah memperluas jangkauannya dan masuk kedalam sektor buruh migran. Saat ini MPM memiliki komunitas dampingan bernama Sahabat Migran Berkemajuan (Saranmu) yang kini telah merangkul 5.362 orang, mayoritas berada di Malaysia.
“Pendampingan dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir, tidak hanya menyentuh persoalan hukum tetapi juga spiritual keagamaan melalui forum Jendela Migran,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sekretaris MPM PP Muhammadiyah, Budi Nugroho menyampaikan MPM terus berupaya untuk mengakselerasi pelaksanaan program prioritas yang menjadi amanat Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo. Dalam hal ini, MPM akan terus berkomitmen memperluas basis umat di akar rumput melalui melalui berbagai gerakan dan dakwah jamaah baik secara kultural, maupun komunitas.
“Arah gerak inilah yang sejalan dengan visi pengembangan MPM periode 2022-2027 sebagaimana tertuang dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48, yaitu “Terwujudnya Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat yang Berkemajuan untuk Mewujudkan Kesejahteraan Buruh, Tani, Nelayan, dan Kelompok Dhuafa-Mustadh’afin Sebagai Perwujudan Islam Rahmatan Lil Alamin,” paparnya.
Sebagai informasi tambahan, dalam Konsolnas 2026 MPM PP Muhammadiyah sekaligus dibarengi dengan peluncuran logo dan theme song untuk Jambore Nasional Jamaah Tani Muhammadiyah (Jambore Jatam) Ke-2 yang akan digelar bulan Juli 2027 mendatang di Provinsi Lampung.






