Selasa, 13 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Menjaga Tradisi Keindonesiaan dan KeIslaman Sekaligus Mengambil Modernitas Amerika

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Menjaga Tradisi Keindonesiaan dan KeIslaman Sekaligus Mengambil Modernitas Amerika

MUHAMMADIYAH.OR.ID, AMERIKA SERIKAT – Dalam lanskap pergaulan global, identitas asal mempengaruhi gaya bergaul dengan dunia luar. Oleh karena itu perlu adanya pemilahan untuk digabungkan identitas lama dengan lingkungan baru.

Pesan itu disampaikan Sekretaris Lembaga Hubungan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah pada (13/10) dalam pengajian oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Amerika Serikat.

Sebagai pendidik mata kuliah psikologi, Yayah menjelaskan, bahwa tidak harus seseorang itu memilih salah satu identitas. Dalam konteks kader diaspora di Amerika Serikat, Yayah menyebut boleh untuk menjadi multi identitas.

“Kita sebetulnya tidak harus memilih salah satu. Kita bisa menggabungkan hal-hal yang baik dari dua atau lebih peradaban. Karena inti dari kita bergaul berada di dalam komunitas yang beragam adalah kita itu ber-fastabiqul khairat,” katanya.

Melihat dengan bingkai psikologi antar budaya, menurutnya kader diaspora di Amerika memiliki hak untuk mengambil nilai-nilai positif dari tradisi lintas peradaban. Tentu pilihan bijak yang tidak merusak diri, keluarga, dan masa depan, serta akidah.

Ambil yang Baik, Buang yang Buruk dari Barat

Tradisi yang berakar pada nilai Islam, serta kemodernan yang didapatkan selama di Amerika tidak bisa didikotomikan. Untuk urusan kemodernan, seperti alih teknologi bersih dan tepat guna yang sering dipakai di Amerika tidak bisa ditolak.

Tapi ketika menyangkut urusan nilai hidup seperti moral dan etika, baik yang akan berpengaruh pada jangka panjang seperti ekologi dan fitrah kemanusiaan, maupun jangka pendek; kader Muhammadiyah di Amerika harus tegas menolak.

“Kita bisa tegas memilih. Misalnya isu LGBTQ,….. Kita harus tegas dalam melihat persoalan dan menegakkan pembatas– firkah. Yang jelas semua agama mengatakan bahwa kodrat atau kecenderungan alamiah manusia yang diberi Tuhan adalah berpasangan dengan lain jenis,” tegas Yayah.

Isu LGBTQ di Barat, sambungnya, bukan isu yang baru. Sebab ini sudah diwacanakan sejak lama. Meski awalnya ditentang, namun kini diterima dan menjadi ancaman bagi kemanusiaan.

Oleh karena itu, dia mewanti-wanti dan berpesan untuk kader diaspora Muhammadiyah di AS dan di Barat supaya berhati-hati. Sebab promosi perilaku LGBTQ masif dilakukan melalui berbagai platform media.

Namun disaat bersamaan, kader di PCIM Amerika Serikat supaya jangan menempatkan diri seperti Separasi– yang memisahkan diri dengan menjauhi budaya baru, namun eksklusif mempertahankan budaya asal.

Tinggalkan Balasan