Kamis, 1 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Menempuh Studi di Irlandia Utara, Kader Muhammadiyah Bagikan Pengalaman Kuliah hingga Berorganisasi

Oleh ilham • • 5 Menit Min
Menempuh Studi di Irlandia Utara, Kader Muhammadiyah Bagikan Pengalaman Kuliah hingga Berorganisasi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, IRLANDIA UTARA—Menjadi kader Muhammadiyah tidak menghalangi seseorang untuk melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri. Hal itu dialami Irnawati Bahtiar, kader Muhammadiyah yang saat ini menempuh studi di Northern Ireland, Britania Raya.

Dalam program Diasporamu di TVMu pada Rabu (30/09), Irnawati menceritakan pengalaman menjalani pendidikan di lingkungan akademik yang berbeda dari Indonesia. Menurutnya, kuliah di luar negeri menghadirkan banyak hal baru, mulai dari perbedaan budaya, sistem pendidikan, lingkungan akademik, hingga kehidupan sebagai mahasiswa internasional.

Sebelum melanjutkan studi ke Northern Ireland, Irnawati telah menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Indonesia. Ia kemudian harus kembali beradaptasi dengan lingkungan multikultural ketika melanjutkan pendidikan di luar negeri.

“Karena memiliki banyak hal-hal baru yang kita temukan dan juga multikultural, tentu sangat banyak penyesuaian dan adaptasi yang perlu disesuaikan,” ujarnya.

Tantangan tersebut semakin kompleks karena Irnawati menjalani peran sebagai ibu sekaligus mahasiswa. Ia menyebut ketahanan mental dan fisik serta kemampuan mengatur waktu menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Di sini butuh ketahanan mental dan juga fisik serta manajemen waktu, kapan kita bisa memosisikan diri sebagai seorang ibu dan juga student,” katanya.

Beradaptasi dengan Empat Musim

Perbedaan cuaca menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Irnawati dan keluarganya. Jika Indonesia memiliki dua musim, Northern Ireland mengalami empat musim dengan suhu yang pada waktu tertentu dapat mencapai minus 10 derajat Celsius.

Sebelum berangkat, ia telah mencari informasi mengenai cuaca dan budaya setempat. Namun, menurutnya, informasi yang diperoleh sebelum keberangkatan tetap berbeda dengan pengalaman ketika menghadapinya secara langsung.

“Walaupun informasi yang diterima tentu hanya sebatas teoritis, namun di lapangan ketika merasakan langsung ada beberapa hal yang perlu persiapan yang sangat matang,” jelasnya.

Persiapan tersebut semakin penting karena Irnawati membawa anak-anaknya. Ia harus menyiapkan pakaian sesuai musim sekaligus menjaga ketahanan mental agar tetap dapat menjalankan aktivitas akademik dan penelitian.

Di tengah berbagai perbedaan tersebut, Irnawati justru menemukan sisi menarik dari kehidupan di Belfast, kota tempatnya tinggal. Ia menilai suasana kota tersebut relatif tenang dan ramah terhadap mahasiswa.

Menurutnya, Belfast memiliki suasana yang mengingatkannya pada Yogyakarta. Kota tersebut tidak terlalu padat dan ramai seperti sejumlah kota besar di kawasan Britania Raya.

“Kalau di Indonesia kita kenal slow living atau kota yang cukup adaptabel untuk student itu di Jogja. Kalau di Britannia Raya atau di UK itu di Belfast. Jadi Jogjanya Indonesia,” ujarnya.

Keramahan masyarakat setempat juga menjadi pengalaman yang berkesan baginya. Budaya menyapa di ruang publik membuatnya merasa memiliki kedekatan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.

“Jadi kita sebagai orang Indonesia sering menyapa orang itu cukup tersentuh secara emosional,” katanya.

Persiapan Studi Membutuhkan Waktu Panjang

Irnawati menjelaskan bahwa keputusan melanjutkan studi ke luar negeri membutuhkan persiapan yang panjang, terlebih karena ia berangkat bersama keluarga.

Berbagai dokumen harus dipersiapkan, mulai dari administrasi keluarga dan anak, dokumen pendidikan, hingga persyaratan kesehatan dan visa. Ia juga perlu mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris untuk memenuhi persyaratan kampus.

Sebelum berangkat, Irnawati merupakan dosen sekaligus sekretaris program studi di Indonesia. Karena itu, persiapan studi harus dilakukan di sela-sela kesibukannya bekerja.

Ia mengikuti kursus bahasa Inggris, mempersiapkan tes IELTS, mengurus berbagai dokumen dan terjemahan, serta mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa.

Menurutnya, persiapan menuju studi luar negeri dapat berlangsung hingga 18 bulan. Waktu tersebut digunakan untuk mempersiapkan kemampuan bahasa, dokumen, mencari kampus, hingga mendapatkan letter of acceptance (LoA).

“18 bulan itu mulai bisa persiapan bahasa, dokumen, pencarian kampus, dan lain-lain,” tuturnya.

Irnawati saat ini mendapatkan beasiswa pemerintah Indonesia melalui LPDP dan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama. Beasiswa tersebut mencakup biaya pendidikan dan sejumlah kebutuhan pendukung, termasuk biaya hidup serta tunjangan keluarga.

Namun, ia menyebut biaya hidup dan akomodasi menjadi salah satu kebutuhan yang cukup besar selama tinggal di Northern Ireland. Biaya sewa tempat tinggal, menurutnya, dapat mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.

Studi dan Peran sebagai Ibu

Di tengah kesibukan studi, Irnawati memilih untuk tidak bekerja paruh waktu. Ia lebih fokus mengurus anak sekaligus menyelesaikan riset.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa internasional memiliki ketentuan mengenai pekerjaan paruh waktu hingga 20 jam per minggu, sedangkan pasangan atau pendamping dapat memiliki ketentuan berbeda. Namun, bagi dirinya, membagi waktu antara keluarga dan studi menjadi prioritas.

“Kalau saya pribadi tidak bekerja. Fokus mengurus anak dan juga menyeimbangkan antara ngurus anak dan juga riset,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar. Anak-anak juga dapat melihat secara langsung perjuangan orang tuanya dalam menyelesaikan pendidikan.

Ia menilai seorang ibu yang melanjutkan pendidikan dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya melalui proses yang dijalani, termasuk berbagai tantangan dan naik-turun selama studi.

Aktif dalam Persyarikatan

Selain menjalani studi, Irnawati tetap terlibat dalam aktivitas Muhammadiyah di Britania Raya. Ia bergabung dalam kepengurusan PCIM Britania Raya periode 2026–2028.

Keterlibatannya dilakukan secara hybrid. Sejumlah rapat diikuti secara daring, sementara kegiatan tertentu dihadiri secara langsung. Salah satunya adalah pelantikan kepengurusan yang berlangsung di KBRI London.

Dari Northern Ireland, Irnawati juga menyebut terdapat sejumlah kader Muhammadiyah lain yang sedang menempuh pendidikan di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya merupakan dosen Muhammadiyah di Indonesia yang melanjutkan studi di Britania Raya.

Ia juga menyebut Queen’s University Belfast sebagai salah satu perguruan tinggi yang menjadi pilihan mahasiswa internasional. Kampus tersebut merupakan bagian dari Russell Group di Britania Raya. Sejumlah bidang yang banyak diminati mahasiswa antara lain kesehatan, keperawatan, farmasi, bisnis, teknik, ilmu sosial, dan pekerjaan sosial.

Di luar kegiatan akademik, Belfast memiliki sejumlah destinasi yang menarik. Salah satunya adalah Titanic Belfast, museum yang berkaitan dengan sejarah pembangunan kapal Titanic.

Mengajak Kader Berani Melanjutkan Studi

Bagi kader Muhammadiyah yang ingin melanjutkan studi ke Britania Raya, Irnawati menyarankan agar calon mahasiswa mengenali terlebih dahulu karakteristik negara dan kampus yang dituju.

Informasi mengenai persyaratan beasiswa, kehidupan mahasiswa, hingga pengalaman penerima beasiswa dapat diperoleh melalui berbagai kanal digital. Menurutnya, banyak penerima beasiswa yang membagikan pengalaman mereka melalui media sosial sehingga dapat menjadi referensi bagi calon mahasiswa.

“Yang paling mendasar adalah mengenali negara itu sendiri, kampus itu sendiri karena otomatis setiap negara dan kampus punya karakteristik masing-masing,” katanya.

Ia juga membuka kesempatan bagi kader Muhammadiyah yang ingin melanjutkan studi ke Britania Raya, khususnya Queen’s University Belfast, untuk bertukar informasi mengenai persiapan dan kehidupan mahasiswa di sana.

Menutup perbincangan, Irnawati berpesan kepada kader Muhammadiyah, terutama perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki anak, agar tetap berani mengejar pendidikan dan cita-cita.

“Semoga tidak putus asa dan tetap semangat menjalani hari-harinya dan tentunya menggapai mimpinya. Jangan pernah berhenti untuk tetap belajar,” pesannya.

Ia juga mengingatkan calon mahasiswa agar tidak menunggu segala sesuatu sempurna sebelum mulai mempersiapkan diri.

“Kita tidak perlu menunggu sempurna untuk persiapan itu. Hanya saja kita perlu keberanian untuk mencoba, tentunya dengan mempersiapkan mental dan juga wawasan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan