MUHAMMADIYAH.OR.ID, KUBU RAYA – Al Islam-Kemuhammadiyahan (AIK) bukan sebatas mata kuliah, tapi juga dapat dikembangkan menjadi basis penelitian. Sebab AIK tak sebatas akidah dan ibadah saja.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Achmad Jaenuri pada Rabu (14/10) dalam Pelantikan Wakil Rektor ITIKES Muhammadiyah Kalbar.
Prof. Jaenuri menjelaskan, karena luasnya AIK ini banyak peneliti-peneliti asing yang mengkaji tentang Islam termasuk Muhammadiyah. Mereka menemukan fakta-fakta yang selama ini jarang disadari warga Muhammadiyah.
“Bagaimana kita meneliti tentang statement yang ada di dalam Al Qur’an itu untuk membuktikan kebenaran itu. Ini justru dilakukan oleh orang lain itu,” ungkap Jaenuri.
“Jadi jangan kita kalau bicara tentang AIK itu kaya masalah akidah, ibadah dan akhlak gitu. Akhlak itu penting juga. Tapi kan juga harus merembet pada hal-hal yang kita klaim bahwa Islam itu agama yang sangat universal,” katanya.
Penelitian tentang AIK ini diharapkan dapat mematahkan argumentasi ilmuwan Barat sekuler yang menyebut, keberadaan agama ini hanya untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Padahal bagi Muhammadiyah, agama ini mengurusi banyak hal– tak sebatas ritual ibadah saja, tapi juga politik, ekonomi, budaya, sosial, dan seterusnya. Meskipun tidak detail, tapi agama sudah memberikan landasan pokok normanya.
Sebagai Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Jaenuri berpesan supaya untuk menguatkan AIK di sisi akademik, sekaligus untuk membangun jaringan guna memperkuat institusi.
Maka, pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) berkewajiban membangun komunikasi yang baik dengan pimpinan Muhammadiyah di sekitarnya, termasuk dengan Pusat.
Salah satu nilai yang diajarkan di Muhammadiyah menurut Jaenuri adalah pengambilan keputusan melalui musyawarah. Dia menekankan, bahwa setiap keputusan yang diambil tidak dilakukan oleh orang per orang, tapi kelembagaan.






