MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURABAYA – Belajar dari Perang Uhud, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim ingatkan umat Islam untuk menjaga ketaatan, amanah, dan semangat perjuangan.
Hal itu disampaikan Kiai Saad Ibrahim pada Ahad (25/10) dalam Kajian Ahad Pagi Pencerahan yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya di kompleks SD Muhammadiyah 15 Wiyung, Surabaya.
Kiai Saad menjelaskan, Perang Uhud menjadi salah satu perang paling bersejarah dalam perjalanan Rasulullah Muhammad ketika menegakkan panji Islam. Dari peristiwa bersejarah itu, 1.000 pasukan muslim melawan 3.000 pasukan quraisy.
Peristiwa yang tak pernah dilupakan adalah tatkala barisan pemanah mengabaikan perintah Rasulullah karena tergiur harta perang tinggalan. Padahal sebentar lagi akan menang. Tapi karena keserakahan, pasukan muslim jadi tumbang.
Meski demikian, tidak kemudian Rasulullah dan para sahabat berpatah semangat akan kekalahan yang diderita mereka. Bagi muslimin, kekalahan tidak boleh menjadikan semangat padam, dan kemenangan tidak boleh membuat sombong.
“Kedua keadaan tersebut perlu dihadapi dengan iman, keteguhan, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri,” katanya.
Dalam Surat Ali Imran ayat 139 itu, katanya, dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa membangun pride harus berlandaskan iman. Sebab kebangaan berlandaskan iman tidak menjadikan diri merasa lebih baik dari yang lain.
Oleh karena itu, dia memandang warga Muhammadiyah perlu membangun kebangaan yang bersumber pada nilai-nilai iman dan diwujudkan dalam kerja nyata dan amal kebajikan yang manfaatnya dapat dirasakan semua.
“Kebangaan itu harus tampak dalam konsistensi menjalankan kebaikan, mengembangkan program, dan menjaga komitmen terhadap tujuan Persyarikatan,” katanya.
Bagi Muhammadiyah, kebangaan tidak boleh berhenti pada identitas simbolik. Sebab beri-Islam dan Bermuhammadiyah harus mewujud dalam iman, amanah, produktivitas, serta kontribusi nyata bagi umat dan kemanusiaan semesta.






