Kamis, 15 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kesalehan Ritual Perlu Diiringi Kepedulian Sosial dan Keteladanan

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Kesalehan Ritual Perlu Diiringi Kepedulian Sosial dan Keteladanan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kesalehan seseorang perlu terlihat dalam perilakunya terhadap sesama. Rajin beribadah dan aktif mengikuti pengajian perlu berjalan seiring dengan kepedulian kepada tetangga, kesediaan membantu orang lain, serta sikap yang menjaga kenyamanan lingkungan.

Pesan tersebut mengemuka dalam kajian Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM) di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Kamis (08/10). Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto menjelaskan bahwa tauhid menjadi fondasi yang menghubungkan pengabdian kepada Allah dengan tanggung jawab sosial.

Menurutnya, manusia diciptakan untuk hidup bersama dan saling mengenal. Kehidupan bermasyarakat membuka ruang bagi tumbuhnya keadilan, kejujuran, gotong royong, dan sikap saling menolong.

Ia mengingatkan agar kesalehan ritual tidak berjalan sendiri tanpa diikuti kesalehan sosial. Seseorang mungkin rajin menghadiri pengajian, aktif dalam organisasi, dan fasih berbicara tentang Islam, tetapi perilakunya tetap perlu dievaluasi jika tidak memperhatikan hak orang lain.

“Kualitas tauhid seseorang tidak diukur seberapa panjang bacaan salatnya, tapi seberapa tetangganya merasakan aman terhadap kehadiran kita,” tuturnya.

Kesalehan Terlihat dari Sikap terhadap Tetangga

Talqis mencontohkan sejumlah perilaku sehari-hari yang dapat mengganggu kehidupan bersama, seperti tidak mengenal tetangga, memarkir kendaraan sembarangan hingga menghambat jalan, mendirikan bangunan di atas trotoar, membuat kebisingan, dan membuang sampah tanpa memperhatikan kebersihan lingkungan.

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan kepekaan seseorang terhadap kepentingan orang lain. Parkir kendaraan, misalnya, perlu mempertimbangkan akses pengguna jalan lainnya. Begitu pula penggunaan fasilitas umum harus memperhatikan hak masyarakat, termasuk pejalan kaki dan penyandang disabilitas.

Ia menegaskan bahwa pemahaman agama semestinya mendorong seseorang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Aktivitas keagamaan perlu berbuah pada perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai masjid menjadi ramai tapi tetangga menjauh,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa tetangga sering menjadi pihak yang pertama memberikan pertolongan ketika seseorang menghadapi keadaan darurat. Pengalaman menghadapi musibah, termasuk ketika ada anggota keluarga meninggal, memperlihatkan pentingnya hubungan sosial yang terawat.

Karena itu, menjaga silaturahmi, mengikuti kegiatan bersama, dan membantu tetangga yang membutuhkan merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.

Lima Tantangan Kehidupan Sosial

Dalam kajian tersebut, Talqis menyoroti lima persoalan yang dapat melemahkan kehidupan sosial, yakni individualisme, polarisasi, fitnah digital, krisis keluarga, dan krisis keteladanan.

Individualisme membuat seseorang lebih mementingkan diri sendiri dan keluarga hingga mengabaikan budaya gotong royong. Padahal, kehidupan bersama membutuhkan partisipasi warga, termasuk ketika ada tetangga yang mengalami musibah atau membutuhkan bantuan.

Persoalan berikutnya adalah polarisasi akibat perbedaan politik, organisasi, maupun mazhab. Perbedaan yang dibesar-besarkan dapat merusak persaudaraan dan menghalangi kerja sama dalam kebaikan.

Talqis mengingatkan agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk memutus hubungan antarsesama. Umat Islam perlu menjaga persaudaraan dan mengutamakan nilai agama dalam menyikapi perbedaan.

Ia juga menyoroti fitnah digital yang dapat merusak nama baik seseorang hanya melalui satu klik. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Persoalan keempat adalah krisis keluarga, terutama ketika pendidikan anak terlalu berorientasi pada kecerdasan kognitif dan prestasi akademik. Orang tua perlu memperhatikan pembentukan kejujuran, tanggung jawab, kecerdasan emosional, dan spiritual anak.

Adapun persoalan kelima adalah krisis keteladanan. Anak belajar dari tindakan orang tua yang dilihatnya setiap hari. Nasihat tentang kejujuran, ibadah, dan tanggung jawab akan lebih bermakna ketika orang tua memperlihatkan nilai-nilai tersebut melalui perilaku.

Talqis menegaskan bahwa tauhid harus tampak dalam tindakan sebelum dijelaskan melalui kata-kata. Dengan begitu, pendidikan agama di rumah tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi menjadi kebiasaan yang membentuk karakter anak.

Kepemimpinan sebagai Amanah untuk Melayani

Selain kehidupan keluarga dan masyarakat, tauhid juga menjadi dasar dalam menjalankan pekerjaan dan kepemimpinan. Talqis menjelaskan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan kesempatan untuk memperoleh pelayanan dari orang lain.

Ia mengutip Surah An-Nisa ayat 58 tentang perintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Prinsip tersebut berlaku bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun organisasi.

“Prinsipnya adalah bukan kesempatan untuk dilayani, melainkan kewajiban untuk melayani,” tegasnya.

Seorang pemimpin, menurutnya, perlu memastikan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya terpenuhi. Kepemimpinan menuntut kesediaan untuk memperhatikan persoalan, mendengarkan keluhan, dan melakukan perbaikan.

Talqis juga mengajak jamaah menguji keikhlasan melalui pertanyaan sederhana: apakah seseorang masih bersedia melakukan kebaikan ketika tidak ada yang melihat, memuji, atau memberikan apresiasi?

Pertanyaan tersebut penting karena amal kebaikan semestinya berangkat dari pengabdian kepada Allah, bukan bergantung pada pengakuan manusia.

Dalam bagian akhir kajian, Talqis menjelaskan bahwa tauhid harus menggerakkan perbaikan hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Keimanan yang kuat semestinya melahirkan pribadi yang ikhlas, amanah, sabar, jujur, dan berani menanggung risiko ketika memperjuangkan kebenaran.

Karakter tersebut kemudian perlu terwujud dalam kepedulian sosial, kesediaan membantu orang lain, menjaga persaudaraan, menghadirkan kasih sayang, serta berlaku adil.

Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan sarana untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam. Karena itu, identitas organisasi tidak boleh mengalahkan nilai-nilai agama yang menjadi dasar gerakannya.

“Jangan sampai kemudian fanatisme organisasi mengalahkan nilai agama,” pesannya.

Tinggalkan Balasan