Kamis, 15 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kepemimpinan Transformasional Berkemajuan Pijakan Memimpin Persyarikatan Muhammadiyah

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Kepemimpinan Transformasional Berkemajuan Pijakan Memimpin Persyarikatan Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Teori kepemimpinan yang awalnya dari birokrasi maupun teknokrasi, termasuk juga teori kepemimpinan karismatik, kini muncul teori baru yakni kepemimpinan transformasional.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Rabu (14/10) di Unisa Yogyakarta menjelaskan, kepemimpinan transformasional memiliki karakter  menonjol, yakni dapat memengaruhi ekosistem untuk menuju ke arah perubahan.

Di Muhammadiyah, kepemimpinan transformasional ini digunakan dengan tambahan sentuhan khas atau memiliki distingsi yakni penambahan pada nilai yang berbasis pada keagamaan– atau disebut transformasional berkemajuan.

“Berbeda tentu dengan transformasional yang lain, ada value di situ, ada qimah di situ, ada nilai di situ, yakni nilai agama tentang benar-salah, baik-buruk, pantas-tidak pantas, dan memandang kehidupan ini sebagai sebuah keutuhan di dunia wal akhirat,” katanya.

Kepemimpinan transformasional berkemajuan oleh Haedar Nashir disebut sebagai Religious Transformational Leadership dapat dilihat salah satu fungsinya manakala dihadapkan untuk merespons kemajuan teknologi informasi.

Kemajuan teknologi termasuk dengan adanya Artificial Intelligence (AI) yang meminggirkan peran-peran manusia, kepemimpinan transformasional berkemajuan menjadi alternatif sebab tidak menolak sama sekali AI, namun juga tetap menjaga martabat kemanusiaan.

“Kita harus tetap punya kesadaran bahwa manusia itu punya potensi lebih dari apa yang kita bentuk, kita bangun, kita ciptakan sendiri. Jangan sampai kita itu menjadi manusia yang kehilangan kemandirian karena terlalu bergantung pada teknologi,” katanya.

“Maka lahir kepemimpinan hybrid, yakni memadukan antara human leadership dan AI leadership,” imbuhnya.

Menurut Haedar, kepemimpin hybrid ini menjadi solusi di tengah situasi yang mendorong manusia untuk dapat memberikan kebijaksanaan dan keputusan secara cepat. Akan tetapi, jangan sampai manusia yang justru menjadi ‘tawanan’ teknologi.

“Di situlah kepemimpinan berkemajuan itu akan menjadi punya peran ke depan,” tutur Haedar.

Kepemimpinan transformasional berkemajuan menuntut pemimpin untuk berorientasi pada yang bersifat keduniaan seperti inderawi, teknologi, birokrasi dan seterusnya, termasuk juga pada urusan kemanusiaan.

Namun secara beriringan, kepemimpinan transformasional berkemajuan juga harus memiliki kualitas pada cara penyelesaian masalah dengan cara-cara spiritual seperti pendekatan sebagaimana yang diputuskan dalam Manhaj Tarjih.

Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin di lingkungan keagamaan– termasuk di lingkungan Persyarikatan agar dapat menguasai dua dimensi tersebut dalam satu pandangan utuh, serta untuk terus meng-upgrade diri.

“Maka jangan merasa mudah untuk bisa memimpin, merasa sudah punya ilmu, bisa meng-override kan. Atau sudah merasa jadi pejabat, sudah merasa bisa memimpin Muhammadiyah,” ungkapnya.

Sebab menurutnya, memimpin di lingkungan Persyarikatan itu membutuhkan pengalaman panjang– yang membentuk wisdom. Karena pemimpin berkemajuan itu bukan sekadar organisasi ilmu, tapi juga hikmah, dan kearifan.

Haedar juga mengingatkan bahwa kepemimpinan di Persyarikatan ini harus memiliki dua sayap, yakni wiqoyah atau sikap selalu waspada dan tidak sembarangan baik dalam ucapan maupun tindakan.

Serta sikap muhasabah, yakni sikap selalu berpikir reflektif. Sebab ilmu itu selalu bertambah jika pemimpin itu sering reflektif, mengkaji, merenungkan, dan lain sebagainya.

“Dengan sikap wiqoyah dan muhasabah itu kita akan membawa ‘Aisyiyah, membawa Muhammadiyah, umat dan bangsa itu menjadi lebih baik, dan akhirnya memberikan selamat bagi kepentingan semesta,” tutup Haedar.

Tinggalkan Balasan