MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kecerdasan seorang muslim tidak cukup diukur dari keberhasilannya menjalani kehidupan dunia. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu, mengingat kematian, dan mempersiapkan kehidupan akhirat juga menjadi ukuran penting dalam menjalani kehidupan sebagai hamba Allah.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Asep Setiawan dalam kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (26/10).
Asep menjelaskan, manusia kerap mencurahkan banyak perhatian untuk meraih cita-cita duniawi, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga kepemilikan harta. Namun, kesibukan mengejar kehidupan dunia dapat membuat seseorang lupa mempersiapkan kematian yang pasti akan datang.
“Kadang kita terlalu sibuk menyiapkan hidup yang baik, tapi lupa menyiapkan mati yang baik,” ungkapnya.
Menurut Asep, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa orang yang cerdas ialah mereka yang mampu mengendalikan diri dan mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah kematian. Sebaliknya, orang yang lemah adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsu, tetapi menggantungkan harapan kepada Allah tanpa disertai persiapan amal.
Ia mengingatkan bahwa orientasi akhirat perlu mewarnai aktivitas sehari-hari. Bekerja, mencari nafkah, dan menjalankan tanggung jawab kehidupan tetap diperlukan, tetapi semua itu perlu diarahkan agar bernilai ibadah.
“Jangan sekadar orientasinya dunia. Maka insyaallah segala lelah kita akan menjadi lillah,” tuturnya.
Mengingat Kematian sebagai Nasihat
Asep juga mengajak jamaah membiasakan diri mengingat kematian. Menurutnya, kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dapat menjadi pengendali perilaku manusia.
Ia mencontohkan berbagai tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain, seperti korupsi dan kemaksiatan. Seseorang mungkin dapat lolos dari pengawasan manusia, tetapi tidak akan terlepas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Karena itu, mengingat kematian semestinya mendorong seseorang memperbaiki perilaku selama masih memiliki kesempatan hidup. Kesadaran tersebut perlu diwujudkan dalam kejujuran, ketaatan, dan kesungguhan menjauhi perbuatan yang dilarang agama.
Ia juga mengingatkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya. Allah telah membekali manusia dengan akal, hati, penglihatan, dan pendengaran untuk membedakan jalan yang benar dan yang menyimpang.
Pilihan-pilihan tersebut, lanjutnya, akan menentukan kualitas kehidupan seseorang sekaligus menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.
Istiqamah Menuju Husnul Khatimah
Dalam kajian tersebut, Asep turut menjelaskan pentingnya mempersiapkan husnul khatimah, yakni akhir kehidupan yang baik. Ia mengutip hadis tentang pentingnya memperhatikan akhir amal seseorang serta menjelaskan bahwa Allah dapat memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk melakukan amal saleh menjelang kematian.
Menurutnya, bertambahnya usia semestinya menjadi dorongan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki kualitas kehidupan beragama.
Ia menyayangkan apabila seseorang yang telah memasuki usia lanjut justru masih merasa berat untuk mendatangi masjid, menghadiri majelis ilmu, atau menjalankan amal kebaikan. Padahal, kesempatan untuk memperbaiki diri perlu dimanfaatkan selama hidup masih diberikan.
“Kalau sudah umur 50 tahun, umur 60 tahun atau 60 tahun ke atas kok masih jauh dari masjid, kok masih jauh untuk datang ke majelis ilmu, rasa-rasanya kok berat untuk beramal kebaikan. Lalu mau kapan lagi memperbaiki diri,” ujarnya.
Asep kemudian menerangkan sejumlah tanda husnul khatimah yang disebutkan dalam hadis. Salah satunya ialah kemampuan mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh pada akhir kehidupan. Ia mengingatkan keluarga yang mendampingi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar membimbingnya mengucapkan kalimat tauhid tersebut.
Ia juga mengajak jamaah membiasakan diri mengisi kehidupan dengan Al-Qur’an, salat, dan amal saleh. Menurutnya, kebiasaan yang terus dipelihara selama hidup perlu menjadi perhatian karena seseorang diharapkan mengakhiri kehidupannya dalam keadaan taat kepada Allah.
Selain itu, Asep menyebutkan hadis mengenai keutamaan seorang muslim yang meninggal pada malam Jumat atau hari Jumat. Ia menyampaikan hal tersebut sebagai salah satu tanda husnul khatimah yang dijelaskan dalam riwayat hadis.
Menutup pesannya, Asep mengajak jamaah memanfaatkan waktu yang masih tersedia untuk meningkatkan ketakwaan dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Baginya, mempersiapkan akhir kehidupan perlu dimulai sejak sekarang melalui kesungguhan beribadah, pengendalian hawa nafsu, dan konsistensi dalam beramal saleh.






