Kamis, 29 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Irwan Akib: Nalar Matematika Ajarkan Makna Persatuan Indonesia

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Irwan Akib: Nalar Matematika Ajarkan Makna Persatuan Indonesia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib, mengajak masyarakat memaknai Sumpah Pemuda sebagai pelajaran tentang pentingnya merawat keberagaman dan meneguhkan persatuan bangsa.

Menurutnya, semangat tersebut dapat dipahami melalui nalar matematika yang mengajarkan keteraturan, logika, dan harmoni di tengah perbedaan.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Irwan Akib dalam tulisannya berjudul Nalar Matematika dalam Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10).

Irwan menjelaskan, matematika tidak semata-mata berkaitan dengan angka dan rumus, tetapi juga mengajarkan cara memahami pola, membangun logika, serta menemukan titik temu dari berbagai unsur yang berbeda.

Dalam konteks Sumpah Pemuda 1928, prinsip tersebut dapat dianalogikan melalui teori himpunan. Indonesia merupakan ruang bersama yang terdiri atas berbagai kelompok dengan karakteristik, budaya, dan identitas masing-masing.

Sumpah Pemuda, menurut Irwan, menjadi momentum ketika berbagai kelompok pemuda menemukan irisan kesadaran bersama. Mereka tidak menghapus identitas kedaerahan, tetapi menyatukan cita-cita dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.

“Persatuan sejati bukanlah hasil dari operasi reduksi yang menyeragamkan semua angka menjadi monoton, melainkan hasil dari operasi penjumlahan dan perkalian dari matriks-matriks yang berbeda, yang bekerja bersama menghasilkan sebuah determinan yang kuat,” tulis Irwan.

Ia menegaskan bahwa persatuan tidak seharusnya dimaknai sebagai penyeragaman. Sebaliknya, persatuan perlu dibangun dengan menghargai keunikan setiap unsur dan mengarahkan perbedaan tersebut untuk menghasilkan kemaslahatan bersama.

Irwan juga mengibaratkan nilai ke-Indonesia-an sebagai konstanta yang menjaga keseimbangan di tengah dinamika masyarakat. Sementara itu, keragaman adat, bahasa daerah, pilihan politik, dan budaya merupakan variabel yang terus bergerak.

Dalam pandangan tersebut, nilai kemanusiaan dan keindonesiaan harus tetap menjadi pijakan bersama, apa pun latar belakang daerah, pilihan politik, maupun komunitas yang diikuti seseorang.

Irwan menilai, semangat persatuan menghadapi tantangan baru di tengah perkembangan teknologi dan ruang komunikasi digital. Ruang publik yang semestinya menjadi sarana pertukaran gagasan dan pencerahan justru kerap diwarnai fanatisme kelompok dan polarisasi.

Fenomena tersebut terlihat dari kecenderungan masyarakat mengotakkan realitas ke dalam dua pilihan yang saling meniadakan, seperti benar atau salah, kelompok sendiri atau kelompok lain, serta kawan atau lawan.

Pola pikir hitam-putih semacam itu dinilai berbahaya bagi bangsa yang memiliki keragaman sosial dan budaya. Karena itu, masyarakat perlu mengembangkan cara berpikir yang terbuka terhadap nuansa, toleransi, dan perbedaan perspektif.

Menurut Irwan, nalar matematika dapat menjadi analogi untuk memahami bahwa realitas tidak selalu sesederhana dua pilihan yang berlawanan. Ada ruang di antara keduanya yang membutuhkan pertimbangan, dialog, dan kebijaksanaan.

Ia juga mengingatkan bahwa literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Literasi digital perlu disertai etika, kecerdasan emosional, dan tanggung jawab dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

“Setiap informasi yang diterima perlu disaring melalui proses tabayun dan dialog yang sejuk dengan mereka yang berbeda haluan,” tulisnya.

Dengan membiasakan verifikasi informasi dan memeriksa kebenaran suatu pernyataan sebelum menarik kesimpulan, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh hoaks maupun provokasi di ruang siber.

Lebih lanjut, Irwan menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak cukup berhenti pada seremoni tahunan atau slogan persatuan. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan melalui kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Generasi muda perlu didorong untuk membangun kolaborasi yang inklusif tanpa menjadikan perbedaan pilihan politik, asal daerah, maupun preferensi budaya sebagai penghalang kerja bersama.

Kolaborasi itu dapat diwujudkan melalui berbagai upaya, seperti memajukan pendidikan di daerah terpencil, menjaga kelestarian lingkungan, dan membangun kemandirian ekonomi kreatif.

Bahasa Indonesia juga perlu terus difungsikan sebagai sarana komunikasi yang mendamaikan dan mempersatukan masyarakat di tengah perbedaan.

Bagi Irwan, esensi Sumpah Pemuda terletak pada kemampuan bangsa menemukan harmoni dalam keberagaman. Perbedaan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan potensi yang perlu dikelola untuk mencapai tujuan bersama.

Ia mengibaratkan kebinekaan Indonesia sebagai sistem persamaan yang terdiri atas berbagai variabel. Keseimbangan sistem tersebut bergantung pada terjaganya keadilan, kesetaraan hak, dan persatuan.

Karena itu, tugas generasi muda adalah menjaga agar nilai-nilai tersebut tidak dirusak oleh fanatisme kelompok yang destruktif. Dengan demikian, semangat Sumpah Pemuda dapat terus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang berkemajuan.

Tinggalkan Balasan