Kamis, 8 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

HW Harus Jadi Kepanduan Berkemajuan yang Terbuka dan Solutif

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
HW Harus Jadi Kepanduan Berkemajuan yang Terbuka dan Solutif

MUHAMMADIYAH.OR.ID METRO – Di awal berdirinya hingga sekarang, Hizbul Wathan (HW) memiliki peranan penting dalam dinamika kehidupan bangsa dan bernegara. Patronnya adalah Jenderal Sudirman, Bapak Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang juga Bapak Pandu HW.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI) sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam memberikan Amanat di Pembukaan Tanwir ke-1 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) dengan tajuk Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan, di Universitas Muhammadiyah Metro pada Kamis (08/10).

Sebagaimana diketahui, Tanwir Kwartir Pusat (Kwarpus) Gerakan Kepanduan HW adalah forum permusyawaratan tertinggi kedua di bawah Muktamar yang diselenggarakan oleh Kwarpus untuk evaluasi dan membahas kebijakan strategis organisasi.

Dalam amanatnya, Mu’ti memandang persoalan masa kini dipenuhi banyak tantangan pada kehidupan bernegara, dua di antaranya adalah keterbukaan dan kecenderungan perilaku generasi bangsa. Sehingga menurutnya, hal itu perlu disikapi secara serius.

Secara khusus, mengutip dari berbagai buku dan jurnal, Mu’ti menyebut persoalan generasi lebih kepada generasi Z dan Alpha yang dipandang tidak memiliki mentalitas kuat, dan lantas mirip apa yang disebut generasi stroberi.

“Mereka mungkin, performanya kelihatan gagah, keren, kece. Tetapi begitu terkena sinar matahari langsung melempem, langsung layu dan loyo,” jelas Mu’ti.

Mu’ti menambahkan, hal tersebut didukung dengan adanya terbitan buku yang berjudul The Anxious Generation karya Jonathan Haidt. Maksud dari Anxious Generation, kata Mu’ti, adalah bagi mereka yang tidak memiliki sikap mental yang kuat, dan tidak berani menghadapi berbagai tantangan.

Menyikapi fenomena itu, Mu’ti beranggapan, kesehatan mental telah menjadi masalah serius yang dihadapi oleh generasi saat ini. Akibatnya, angka gangguan jiwa dan bunuh diri terus mengalami kenaikan.

Mu’ti membeberkan bahwa penyebab permasalahan itu adalah kurangnya nasionalisme Generasi Z dan Alpha. Hal ini terjadi karena adanya keterbukaan informasi yang membuat mereka lebih sering melihat dan terinspirasi oleh dunia luar ketimbang tanah air.

“Mereka lebih terekspos dan terinspirasi dengan dunia-dunia global, dan kadang-kadang hal itu meluruhkan cinta tanah air dan nasionalisme,” sebut Mu’ti.

Menanggapi hal itu, menurut Mu’ti prinsip dan motto HW yakni fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan, dirasa tepat untuk menghadapi persoalan yang terjadi.

“Bukan sekedar diulang di pidato-pidato saja,” ujar Mu’ti.

Selanjutnya, Mu’ti mengajak HW untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, sekaligus membangun generasi bangsa yang sehat, kuat, dan berjiwa nasionalisme.

“Kami ingin mengajak Ramanda, Ibunda, Rakanda dan Ayunda,” sebutnya.

Mu’ti meminta HW tidak semata-mata menjadi himpunan yang lebih banyak romantisme dan masa lalu yang kemudian hanya diisi oleh generasi tua. Melainkan juga, turut menumbuhkan semangat kepanduan di generasi muda sehingga menjadi kepanduan yang berkemajuan dan terbuka.

“HW yang lebih dekat dengan masyarakat dimanapun berada, dan menjadi kekuatan muda yang memberikan solusi nyata bagi persoalan generasi muda itu sendiri,” kata Mu’ti.

Mu’ti juga menyinggung Undang-Undang Pandu Hizbul Wathan. Menurutnya, jika sepuluh butir itu diterapkan oleh para pandu HW, maka tak pelak kemajuan bangsa dipastikan segera tiba.

Misalnya di butir terakhir, Suci dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan. Bagi Mu’ti, implementasi hal tersebut sangatlah berat, menurutnya, sekarang ini banyak yang melakukan sebaliknya seperti menyebarkan fitnah dan hoax.

“Pandu HW tidak boleh begitu, pikirannya harus bersih, tutur katanya qaulan kariman, qaulan layinan,” pungkas Mu’ti. (Alam)

Tinggalkan Balasan