Kamis, 8 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

HW Harus Bertransformasi agar Tetap Relevan bagi Generasi Muda

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
HW Harus Bertransformasi agar Tetap Relevan bagi Generasi Muda

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto mendorong Hizbul Wathan (HW) agar terus melakukan revitalisasi gerakan kepanduan yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan generasi muda.

Hal itu disampaikan Agung dalam kesempatan Sidang Tanwir I Hizbul Wathan yang digelar pada Kamis (8/10).

Agung memulai dengan refleksi perjalanan panjang HW yang telah didirikan oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan pada 1918. Ia menjelaskan perjalanan organisasi itu yang telah melewati asam garam dinamika zaman.

“Sidang tanwir ini tentunya akan mengevaluasi kinerja HW selama ini setelah kebangkitannya di tahun 1999. Dalam perjalanannya HW didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 1918, kemudian 1961 digabung dengan kepanduan pramuka dan kemudian dihidupkan kembali pada 1999,” jelas Agung dalam acara yang digelar di Universitas Muhammadiyah Metro.

Yang kedua, makna historis dibalik nama “Hizbul Wathan” sendiri mengandung makna perjuangan yang mendalam. Ia menjelaskan, nama tersebut terdiri dari dua kata yaitu Hizbun dan Al-Wathan.

Hizbun dapat dimaknai sebagai partai, tentara, atau pembela sedangkan Al-Wathan diartikan sebagai negeri atau tanah air. Maka dalam konteks itu, Agung menyebut Hizbul Wathan lebih tepat diartikan sebagai “Pembela Tanah Air”.

“Bisa dibayangkan ketika 1918 ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan HW, bagaimana jiwa nasionalis yang dimiliki Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang ingin agar anak-anak muda yang dibina oleh Muhammadiyah memiliki kecintaan yang luar biasa atas tanah dan air yang dimiliki,” tuturnya.

Berlandas dari situlah Agung menyebut semangat Ahmad Dahlan harus terus menjadi warisan penting bagi HW dalam memperkuat eksistensinya menghadapi perubahan zaman yang semakin cepat.

Selaras juga dengan tema Tanwir I HW kali ini “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan” arah untuk merevitalisasi gerakan harus dilakukan.

“Kalau HW hanya berkutat pada pembinaan-pembinaan yang sifatnya klasik, terbatas kepada latihan baris-berbaris, tali-temali, semaphore, mendirikan tenda, kalau sebatas hanya itu mungkin minat anak muda akan semakin menurun terhadap gerakan Hizbul Wathan,” sebut Agung.

Dengan keseriusan untuk merevitalisasi gerakan ini, Agung menjelang akhir penyampaian amanatnya menegaskan bahwa Hizbul Wathan sebagai gerakan pembela tanah air tidak boleh berhenti hanya sebatas slogan saja. Kecintaanya terhadap negeri harus terus diwujudkan melalui pembinaan dan gerakan-gerakan yang nyata.

Disisi lain, Ia juga turut menyoroti PR besar HW untuk memperluas cakupan organisasi. Sebagaimana diketahui HW saat ini masih belum hadir secara lengkap di seluruh provinsi di Indonesia.

Maka dari itu, ia turut berharap proses konsolidasi pasca-Tanwir hingga jelang Muktamar berikutnya dapat memperkuat struktur organisasi sehingga HW mampu hadir di 38 provinsi di seluruh Indonesia.

““Pembela Tanah Air tidak cukup dengan slogan NKRI harga mati, tetapi harus ada upaya-upaya serius bagaimana menumbuhkan rasa kecintaan kepada tanah air dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan