MUHAMMADIYAH.OR.ID, SIDOARJO – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci membangun kemajuan, persatuan, dan peradaban bangsa.
Hal tersebut disampaikan Haedar saat meresmikan gedung lantai 6 SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman Sidoarjo atau SD Mumtaz pada Sabtu (10/10).
Menurut Haedar, pendidikan merupakan ikhtiar jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
Ia berharap peresmian tersebut menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah.
“Insyaallah ini menjadi tonggak penting bagi usaha mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Haedar.
Muhammadiyah akan terus meningkatkan kualitas pendidikan mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga perguruan tinggi, termasuk melalui pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak Aisyiyah.
Haedar menjelaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya insani yang berkualitas, sebagaimana sejalan dengan amanat Pasal 31 UUD 1945 tentang pendidikan dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual dan memiliki keahlian, tetapi juga harus membentuk karakter dan akal budi agar generasi mendatang mampu membangun persatuan dan peradaban bangsa.
“Jadi, kalau kita ingin maju, bangun peradaban, juga bangun persatuan, ya kuncinya di pendidikan,” tegasnya.
Muhammadiyah Hadirkan Pendidikan untuk Semua
Haedar menekankan bahwa pendidikan harus terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.
Prinsip tersebut menjadi landasan Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua serta wilayah terdepan, terluar, dan terpencil.
Haedar menyadari bahwa upaya mencerdaskan bangsa masih membutuhkan proses panjang, terutama dalam meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter manusia.
“Saya yakin 30–50 tahun ke depan, kita harus jadi bangsa yang maju karena pendidikannya maju,” tuturnya.
Ia menilai pembangunan bangsa tidak dapat hanya bertumpu pada aktivitas politik, tetapi juga membutuhkan penguatan bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
“Politik penting, tentu menjadi porsinya partai politik, tapi kita terus membangun pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi, budaya, dan kecerdasan masyarakat,” ungkapnya.
Haedar meyakini bahwa keberhasilan pendidikan turut mendukung peningkatan kualitas kehidupan politik dan masyarakat sehingga energi kolektif bangsa perlu diarahkan pada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat secara luas.
Dalam kesempatan tersebut, Haedar mengingatkan pentingnya menyelesaikan persoalan secara konstruktif karena setiap bangsa menghadapi berbagai masalah yang membutuhkan mekanisme penyelesaian secara terbuka, demokratis, dan sesuai dengan porsinya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak membesar-besarkan persoalan kecil, sementara persoalan besar justru terabaikan.
Sikap kritis, menurutnya, perlu disertai upaya mencari solusi dan kemauan untuk menyelesaikan persoalan bersama.
“Sikap kritis bagus, tetapi mencari solusi atas masalah juga sama pentingnya,” kata Haedar.
Ia menilai keseimbangan antara sikap kritis dan pola pikir konstruktif diperlukan agar berbagai persoalan bangsa dapat ditangani dengan baik tanpa kehilangan daya kritis dalam melihat persoalan.
Haedar menambahkan bahwa masih banyak agenda yang perlu diperkuat dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kebudayaan, dan keagamaan yang membutuhkan kerja sama masyarakat bersama pemerintah.
Ia berharap pemerintah terus merawat semangat persatuan di tengah perbedaan orientasi politik dan pandangan dalam melihat persoalan bangsa agar Indonesia mampu mencapai kemajuan sekaligus membangun peradaban yang lebih baik. (taufik)






