Minggu, 25 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Gerakan Islam, Dakwah, dan Tajdid Perkuat Peran Muhammadiyah di Tengah Masyarakat

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Gerakan Islam, Dakwah, dan Tajdid Perkuat Peran Muhammadiyah di Tengah Masyarakat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kekuatan Muhammadiyah terletak pada keterpaduan gerakan Islam, dakwah, dan tajdid yang dijalankan melalui kerja kolektif. Ketiganya menjadi landasan bagi Persyarikatan untuk memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (22/10).

Talqis menjelaskan bahwa gerakan Islam menjadi landasan bagi berbagai aktivitas Muhammadiyah. Pelaksanaannya berpijak pada ajaran Islam dengan mempertimbangkan sumber keagamaan dan pendekatan keilmuan. Ia menyebut pendekatan bayani yang merujuk pada Al-Qur’an dan hadis, burhani yang bertumpu pada penalaran dan keilmuan, serta irfani yang mempertimbangkan dimensi batin dan penghayatan.

Melalui gerakan Islam, Muhammadiyah berupaya memperbaiki akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah masyarakat. Pembinaan tersebut dilakukan dengan mendampingi warga agar terus belajar dan memperbaiki praktik keberagamaannya.

“Ketika seseorang masuk Muhammadiyah, mari dibimbing, dibina, dan diajari,” ungkap Talqis.

Menurutnya, pembinaan keagamaan harus menjadi bagian dari proses dakwah. Orang yang belum memahami tata cara ibadah dengan baik perlu mendapatkan pendampingan, bukan dijauhkan dari lingkungan pembinaan.

Gerakan kedua adalah dakwah, yang diwujudkan melalui tabligh, pendidikan, advokasi, dan pelayanan kepada masyarakat. Dakwah perlu hadir dalam tindakan nyata yang menjawab kebutuhan umat.

Sementara itu, gerakan tajdid menjadi ruang bagi inovasi dan pembaruan dalam kehidupan keagamaan serta pengembangan organisasi. Talqis mencontohkan Fikih Air dan Fikih Kebencanaan yang dikembangkan Muhammadiyah sebagai bentuk respons terhadap persoalan kontemporer.

Ia secara khusus menyoroti pentingnya Fikih Air di tengah persoalan ketersediaan air. Produk pemikiran Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tersebut, menurutnya, perlu menjadi bahan pembelajaran agar masyarakat semakin memahami pentingnya menghemat dan menggunakan air secara bertanggung jawab.

Talqis kemudian menjelaskan bahwa ketiga gerakan tersebut membutuhkan dukungan banyak pihak. Muhammadiyah memiliki warga dengan latar belakang dan keahlian yang beragam, mulai dari dokter, guru, petani, mubalig, hingga pengusaha. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan ketika setiap orang mengambil peran sesuai kemampuan dan bidangnya.

Ia mengibaratkan organisasi sebagai bangunan yang tersusun atas berbagai material. Setiap unsur memiliki fungsi tersendiri untuk membuat bangunan berdiri kokoh. Demikian pula dalam Persyarikatan, kontribusi setiap anggota diperlukan untuk melengkapi kerja bersama.

“Pada bagian mana pun kita berada dalam satu bangunan itu, jangan meremehkan diri sendiri,” pesannya.

Menurut Talqis, kerja kolektif juga menjadi kunci keberlanjutan amal usaha Muhammadiyah. Bidang pendidikan, kesehatan, dan filantropi tidak mungkin berkembang apabila seluruh tanggung jawab dibebankan kepada satu orang. Keberlangsungannya memerlukan pembagian peran, tata kelola kelembagaan, dan kesediaan anggota untuk saling mendukung.

Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan dalam Muhammadiyah berorientasi pada pengabdian, bukan perebutan kekuasaan. Setiap anggota perlu mengambil bagian dalam menggerakkan Persyarikatan sekaligus mempertanggungjawabkan perannya.

Talqis mengakhiri uraiannya dengan mengingatkan bahwa berorganisasi harus membawa manfaat bagi peningkatan keimanan, pengetahuan keislaman, dan kualitas ibadah. Karena itu, kegiatan Persyarikatan perlu diarahkan pada kerja nyata yang memperkuat kehidupan umat dan keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan