MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG – Lawan seteru agama pada masa kini dan bisa jadi sampai masa depan bukan beralihnya kembali manusia menyembah pohon maupun batu, tapi lebih kepada syirik modern yakni menduakan agama dengan teknologi.
Menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad meskipun antara agama dengan teknologi tidak saling bertentangan, akan tetapi manusia sebagai pengguna teknologi kerap kali menempatkannya lebih dari apapun.
Dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” pada Jumat (9/10), Dadang menyebut, manusia masa kini menduakan perintah agama dan Tuhan dengan teknologi yang canggih yang mereka gunakan.
Penyakit kronis yang menjangkiti manusia masa kini adalah terlalu lekatnya hidupnya dengan teknologi, sehingga meminggirkan fungsi dan peran agama. Di antara penyakit-penyakit itu seperti judol, dan seterusnya.
Panas-dingin hubungan agama dengan teknologi ini sebenarnya sudah dibaca secara tersirat dari pesan Kiai Ahmad Dahlan yang menyebut; Muhammadiyah sekarang ini lain dengan yang akan datang. Maka teruslah bersekolah– menuntut ilmu dan kembalilah ke Muhammadiyah.
Pesan supaya menjadi manusia berilmu, sambungnya, merupakan pandangan yang dimiliki oleh Kiai Dahlan supaya manusia tidak diperbudak teknologi. Pesan tersebut juga usaha untuk menjaga relevansi Muhammadiyah dengan perkembangan zaman.
“Itu optimisme beliau dan mengingatkan kepada kita supaya Muhammadiyah harus selalu eksis dari zaman ke zaman. Atau itu zaman seratus tahun yang lalu, atau zaman seratus tahun yang akan datang,” ungkap Dadang.
Selain eksis, yang perlu digaris bawahi dari keberadaan Muhammadiyah itu adalah harus memberikan manfaat kepada seluruh alam semesta. Hubungan antara kebermanfaat dan kekekalan itu disebut dalam Surat Ar Ra’d ayat 17.
Oleh karena itu, Dadang menekankan supaya jika gerakan keagamaan tetap ingin eksis harus dapat memberikan manfaat. Tidak hanya kepada dirinya sendiri, tapi juga memberikan manfaat bagi seluruh alam semesta.






