Sabtu, 10 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Cegah Krisis Pengasuhan, Ayah Perlu Kembali Menjadi Teladan bagi Anak

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Cegah Krisis Pengasuhan, Ayah Perlu Kembali Menjadi Teladan bagi Anak

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Lailan Arqam, mengajak para ayah untuk memperkuat peran dalam pendidikan iman, pembentukan akhlak, dan perkembangan emosional anak. Menurutnya, kehadiran ayah dalam keluarga perlu diwujudkan melalui kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang terjaga.

Pesan tersebut disampaikan Lailan Arqam dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Jumat (9/10). Ia mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang ayah tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga mencakup pendampingan jiwa dan pembinaan keimanan anak.

Lailan mengajak para jemaah untuk sejenak merenungkan kehidupan keluarga, terutama ketika melihat anak-anak mereka tumbuh di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi digital. Ia mempertanyakan siapa yang sebenarnya membentuk karakter anak-anak saat ini, apakah keteladanan orang tua di rumah atau algoritma layar telepon genggam.

“Apakah mereka terbentuk dari kasih sayang dan keteladanan kita di rumah? Atau bahkan dari algoritma layar HP yang tak punya jiwa,” tuturnya.

Menurut Lailan, persoalan pengasuhan anak perlu mendapat perhatian serius. Ia menyoroti kondisi ketika ayah bekerja keras memenuhi kebutuhan fisik keluarga, tetapi kurang hadir secara emosional dan dalam memberikan bimbingan keagamaan. Akibatnya, rumah berisiko kehilangan perannya sebagai tempat pertama bagi anak untuk belajar nilai, iman, dan akhlak.

“Rumah kita hari ini berubah menjadi sekadar tempat istirahat, bukan lagi madrasah pertama, tempat tumbuh jiwa anak disemai,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Menurutnya, anak-anak membutuhkan kasih sayang, keteladanan, dan ruang dialog bersama ayahnya. Kebutuhan tersebut tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh pemenuhan materi.

Lailan kemudian mengajak jemaah melihat teladan pendidikan keluarga dalam Al-Qur’an, terutama dialog Luqman dengan anaknya. Dalam Surah Luqman ayat 13, Luqman memanggil anaknya dengan ungkapan penuh kasih, “Yā bunayya” yang berarti “Wahai anakku,” sebelum mengingatkannya agar tidak mempersekutukan Allah.

Ayat tersebut, menurutnya, memperlihatkan pentingnya komunikasi yang hangat dalam menanamkan tauhid kepada anak. Pendidikan keimanan perlu dibangun melalui hubungan yang dekat sehingga nasihat orang tua dapat diterima dan membekas dalam diri anak.

“Sadarlah, kapan kita terakhir duduk berdua dengan anak kita, menatap matanya dan menanamkan tauhid ke dalam lubuk jiwa yang perlu diisi dengan penuh kasih sayang,” ujarnya.

Lailan juga menyoroti kebiasaan anak menghabiskan waktu di depan layar digital. Ia menyebut anak-anak dapat menghabiskan lima hingga tujuh jam sehari di hadapan perangkat digital. Ketika hubungan dan komunikasi di rumah tidak terbangun dengan baik, anak berpotensi mencari pelarian melalui aktivitas di luar rumah maupun dunia digital.

Ia mengingatkan berbagai persoalan yang mengancam perkembangan anak dan remaja, mulai dari kecanduan judi daring, perundungan, hingga masalah kesehatan mental. Karena itu, pengasuhan dan pengawasan orang tua perlu berjalan beriringan dengan pendampingan emosional serta pendidikan agama.

Tanggung jawab tersebut, lanjutnya, ditegaskan dalam hadis Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang ayah bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya, termasuk pendidikan akhlak dan iman anak-anaknya.

Lailan juga mengingatkan bahwa konflik rumah tangga dan perceraian dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Karena itu, orang tua perlu menjaga keharmonisan keluarga dan memastikan anak memperoleh perlindungan emosional yang memadai.

Ia mengutip Surah an-Nisa ayat 9 yang mengingatkan orang beriman agar merasa khawatir apabila meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah. Ayat tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa orang tua perlu mempersiapkan generasi yang kuat, baik secara spiritual maupun dalam menjalani kehidupan.

Tinggalkan Balasan