MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Ibadah haji perlu dipahami sebagai proses pendidikan spiritual yang membentuk ketakwaan, memperkuat tauhid, dan mendorong perubahan perilaku setelah jemaah kembali ke tanah air. Penghayatan terhadap manasik menjadi bekal penting agar perjalanan ke Tanah Suci menghasilkan pribadi yang lebih baik.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fahmi Salim dalam Kajian Ahad TVMU pada Ahad (17/10). Ia menjelaskan, ibadah haji memiliki dimensi pendidikan yang luas karena mempertemukan tuntunan syariat, perjalanan sejarah kenabian, dan latihan pengendalian diri.
Menurut Fahmi, manasik haji perlu dipelajari secara menyeluruh. Pemahaman terhadap tata cara ibadah harus disertai penghayatan atas makna spiritual di balik setiap rangkaian pelaksanaannya.
Ia mengingatkan bahwa ibadah haji merupakan ibadah mahdah yang tata caranya harus mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Saw. Jemaah perlu memahami pelaksanaan manasik berdasarkan sunah, bukan membuat ketentuan ibadah sendiri.
Namun, pemahaman fikih saja belum cukup untuk menangkap seluruh pesan haji. Fahmi menilai penghayatan terhadap nilai-nilai manasik menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter seorang muslim.
“Yang paling penting itu adalah penghayatannya, bukan variasi-variasi doanya,” ujarnya.
Fahmi menjelaskan, salah satu pesan utama ibadah haji adalah penguatan tauhid melalui napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya. Ia menggambarkan kawasan Makkah, Arafah, dan Mina sebagai ruang pembelajaran terbuka yang menyimpan jejak perjuangan penegakan tauhid.
Dalam rangkaian ibadah tersebut, jemaah diajak mengingat kembali keteguhan Nabi Ibrahim dalam menyembah Allah Swt. dan menolak kemusyrikan. Pengalaman itu diharapkan membentuk karakter muslim yang lurus dalam akidah, patuh kepada Allah, serta mampu menghadapi ujian kehidupan.
Fahmi menegaskan bahwa identitas sebagai pengikut Nabi Ibrahim tidak ditentukan oleh garis keturunan biologis. Yang perlu diteladani ialah sifat dan karakter beliau, terutama keteguhan tauhid, kepatuhan kepada Allah, kesediaan berkorban, dan keteladanan dalam memimpin.
Ia juga memandang haji sebagai madrasah pembentukan akhlak. Perjalanan ibadah yang melibatkan mobilitas fisik tinggi, perjumpaan dengan jemaah dari berbagai bangsa, serta situasi yang menuntut kesabaran menjadi latihan nyata untuk mengendalikan hawa nafsu.
Menurutnya, pengalaman tersebut semestinya menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan setelah jemaah pulang. Predikat haji tidak berhenti pada selesainya rangkaian manasik, tetapi perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, kehidupan keluarga, dan kontribusi sosial.
Fahmi menghubungkan pendidikan haji dengan sejarah kebangkitan umat Islam di Indonesia. Ia mencontohkan tokoh-tokoh pergerakan nasional yang memiliki pengalaman berhaji dan turut berperan dalam membangun kesadaran kebangsaan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan spiritual dapat memberikan bekal bagi keterlibatan seseorang dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kajian itu, Fahmi juga menjelaskan gagasannya melalui buku tentang haji yang diluncurkan di Perpustakaan Nasional pada 28 September. Buku tersebut membahas tiga tema utama, yakni manasik untuk ketakwaan, manasik untuk kebangkitan, serta refleksi perjalanan haji sebagai madrasah akhlak, laboratorium persatuan umat, dan model perdamaian global.
Ia menekankan bahwa persiapan haji perlu dilakukan secara menyeluruh, mencakup kesiapan finansial, fisik, dan spiritual. Calon jemaah juga harus memastikan bahwa biaya yang digunakan berasal dari harta yang halal serta tetap memperhatikan tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan.
Bagi Fahmi, keberhasilan ibadah haji dapat dilihat dari kualitas ketakwaan yang tumbuh dalam diri jemaah. Pendidikan selama di Tanah Suci diharapkan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan setelah kembali ke tanah air.






