MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kehidupan dunia memiliki batas dan setiap manusia akan menghadapi hari akhir. Karena itu, umat Islam perlu menjaga ketaatan kepada Allah Swt dan tidak membiarkan kesibukan dunia melalaikan kewajiban agama, termasuk menyegerakan diri memenuhi panggilan salat Jumat.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Khaidir Sulaiman, dalam Mimbar Jumat TVMu pada Jumat (23/10).
Khaidir mengingatkan bahwa hari akhir merupakan kepastian yang waktu kedatangannya tidak diketahui manusia. Ketika hari itu tiba, manusia akan menghadapi keadaan yang sangat dahsyat. Setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan tidak lagi sempat memikirkan pertolongan bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Menurutnya, kesadaran tentang hari akhir seharusnya mendorong umat Islam untuk memperbaiki ketaatan sejak sekarang. Salah satu bentuknya ialah menyegerakan diri memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan salat Jumat.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9 yang memerintahkan orang-orang beriman agar segera mengingat Allah ketika diseru untuk melaksanakan salat Jumat dan meninggalkan aktivitas jual beli.
Khaidir menyoroti kebiasaan sebagian orang yang masih terlambat datang ke masjid, bahkan ketika khatib telah naik mimbar. Padahal, menurutnya, kesempatan untuk meninggalkan pekerjaan dan menuju masjid telah tersedia, termasuk melalui pengaturan waktu istirahat di sejumlah tempat kerja.
“Kalau kita tidak keluar menuju masjid, itu menandakan kita termasuk orang-orang yang lalai,” ujarnya.
Ia mengajak jemaah yang masih memiliki kebiasaan tersebut untuk bertobat, memohon ampun kepada Allah, dan berjanji memperbaiki diri. Baginya, pengakuan atas kelalaian perlu disertai perubahan perilaku agar kesalahan yang sama tidak terus berulang.
Khaidir juga mengingatkan bahaya ketika manusia terlalu terpikat pada kehidupan dunia hingga mengabaikan kewajiban kepada Allah. Pekerjaan dan penghasilan memang diperlukan untuk menjalani kehidupan, tetapi keduanya harus ditempatkan sebagai sarana untuk beribadah, bukan alasan untuk mengesampingkan perintah agama.
Ia membandingkan sikap manusia terhadap aturan duniawi dan panggilan Allah. Banyak orang takut terlambat masuk kantor karena khawatir mendapat sanksi, kehilangan penghasilan, atau menghadapi masalah dalam pekerjaan. Namun, ketika Allah memanggil melalui kewajiban ibadah, sebagian orang justru kurang memberikan perhatian.
Karena itu, Khaidir mengajak umat Islam memohon petunjuk agar menjadi hamba yang taat dan segera memenuhi panggilan-Nya.
Dalam khutbahnya, ia kemudian menjelaskan bahwa pada hari akhir manusia membutuhkan perlindungan Allah Swt. Ia merujuk hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Golongan pertama ialah pemimpin yang adil. Khaidir menjelaskan bahwa pemimpin dalam hadis tersebut mencakup orang yang memegang kekuasaan, baik kepala negara maupun penguasa yang menentukan kebijakan bagi masyarakat. Keadilan harus diterapkan dalam keputusan, kebijakan, dan perlakuan terhadap rakyat.
Mengutip penjelasan Imam Nawawi, ia menyampaikan bahwa keadilan pemimpin mencakup urusan dirinya, keluarga, dan rakyatnya. Pemimpin yang adil akan membawa kebaikan bagi kehidupan masyarakat, sedangkan kezaliman berpotensi menimbulkan kesusahan dan keresahan.
Golongan kedua ialah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Khaidir menjelaskan bahwa ibadah perlu menjadi orientasi hidup sejak usia muda hingga dewasa. Golongan ketiga ialah orang yang hatinya terpaut pada masjid, yakni mereka yang menjadikan masjid sebagai bagian penting dalam kehidupan dan kegiatan keagamaannya.
Golongan keempat ialah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Hubungan tersebut dibangun atas dasar keimanan dan diwujudkan melalui kegiatan yang membawa manfaat. Golongan kelima ialah orang yang mampu menolak ajakan berbuat maksiat meskipun mendapat godaan dari seseorang yang memiliki kecantikan dan kedudukan, seraya menegaskan bahwa dirinya takut kepada Allah.
Adapun golongan keenam ialah orang yang bersedekah dengan ikhlas. Khaidir mengajak umat Islam yang memiliki harta agar menggunakannya untuk membantu sesama, membahagiakan keluarga, memperhatikan lingkungan, dan mendukung kegiatan dakwah. Menurutnya, harta dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat dan memperkuat perjuangan di jalan Allah.
Golongan ketujuh ialah orang yang mengingat Allah ketika berada dalam kesendirian hingga meneteskan air mata. Khaidir menggambarkannya sebagai orang yang bangun pada malam hari untuk menunaikan salat tahajud dan berdoa dengan penuh penghayatan.
Khaidir berharap penjelasan tentang tujuh golongan tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menghadapi hari akhir melalui amal saleh dan ketaatan yang nyata.
Ia menegaskan bahwa kesadaran akan akhirat perlu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menyegerakan salat Jumat, menjalankan tanggung jawab dengan baik, berlaku adil, membantu sesama, hingga menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah.






