Rabu, 30 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

UFGD Jajaki Kolaborasi dengan Muhammadiyah, Gagas Masjid Bernuansa Al-Aqsa di Indonesia

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
UFGD Jajaki Kolaborasi dengan Muhammadiyah, Gagas Masjid Bernuansa Al-Aqsa di Indonesia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA— Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) menerima kunjungan delegasi United Foundation for Global Development (UFGD) bersama Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A. K. Alsattari dan Wakil Duta Besar Palestina pada Kamis (3/9) di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penjajakan kerja sama sosial antara Muhammadiyah dan UFGD. Salah satu proyek yang diperkenalkan adalah rencana pembangunan masjid di Indonesia dengan bentuk yang terinspirasi dari Masjidil Aqsa di Palestina.

Ketua LHKI PP Muhammadiyah Imam Addaruqutni menyampaikan sambutan mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia menyampaikan antusiasme Muhammadiyah terhadap gagasan pembangunan masjid tersebut.

“Kami mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang hari ini berhalangan hadir menyambut Anda, menyampaikan antusiasme atas proyek pembangunan masjid yang serupa dengan Masjidil Aqsa di Indonesia,” ujar Imam.

Delegasi UFGD terdiri dari Abdullah Raed Shihda dan Barhum Daoud Mahmud, dua warga Palestina yang bermukim di Amerika Serikat. Kedatangan mereka ke Indonesia berlangsung atas undangan khusus Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A. K. Alsattari.

Dalam surat Kedutaan Besar Palestina di Jakarta kepada PP Muhammadiyah, kunjungan delegasi tersebut berkaitan dengan proyek sosial Al-Aqsa Mosque in Indonesia sekaligus upaya memperkuat kerja sama sosial dan kemanusiaan antara Palestina dan Indonesia.

Alsattari menyambut baik pertemuan UFGD dengan Muhammadiyah. Ia berharap hubungan tersebut dapat membuka ruang kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil yang bergerak dalam aksi sosial dengan Muhammadiyah.

“Saya sengaja mengundang UFGD ke Indonesia secara khususuntuk proyek ini, agar masyarakat Indonesia juga turut merasakan kontribusi dan kedermawanan timbal balik dari warga Palestina” ujarnya.

UFGD selama ini menjalankan berbagai program sosial dan kemanusiaan, terutama di sejumlah negara Afrika. Program tersebut mencakup pembangunan masjid dan penyediaan akses air berkelanjutan, termasuk di Nigeria dan Ghana.

Raed menjelaskan, gagasan pembangunan masjid menyerupai Masjidil Aqsa di Indonesia diharapkan tidak hanya menghadirkan sebuah bangunan, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan masyarakat Indonesia dengan Palestina.

“Harapan kami adalah bisa membantu orang-orang yang belum bisa ke Palestina untuk merasakan salat di masjid yang menyerupai Masjidil Aqsa dan menambah kerinduan serta kecintaan kepada Al-Aqsa,” ungkapnya.

Menurut Raed, Indonesia dipilih karena memiliki kedekatan yang kuat dengan Palestina. Ia menyinggung besarnya dukungan masyarakat Indonesia selama ini melalui berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk pembangunan rumah sakit dan sekolah bagi masyarakat Palestina.

“Kami tahu Indonesia banyak membantu warga kami di Palestina, seperti membangun rumah sakit dan sekolah. Kami ingin membalas kebaikan tersebut dengan membangun masjid yang mirip Masjidil Aqsa di Indonesia,” katanya.

UFGD juga telah memulai pembangunan sebuah masjid di wilayah Tangerang Utara yang diberi nama Masjid Hind Rajab. Organisasi tersebut akan menghimpun dukungan sponsor untuk membiayai pengembangan proyek sosial selanjutnya.

Barhum Daoud Mahmud menegaskan bahwa kedatangan UFGD ke Muhammadiyah bukan untuk meminta bantuan, melainkan memperluas koneksi dan memperkenalkan program sosial yang mereka jalankan.

“Kedatangan kami di sini bukan untuk meminta apa pun, tetapi kami hanya ingin menjalin koneksi, mengenalkan diri, dan mensyiarkan proyek-proyek kami. Organisasi kami belum besar, tetapi kami yakin dengan adanya pertemuan dengan Muhammadiyah ini bisa membantu kami menguatkan organisasi kami,” ujarnya.

Barhum menambahkan, meskipun digerakkan oleh warga Palestina, UFGD tidak membatasi kerja sosialnya hanya untuk Palestina.

“Bagi kami seluruh warga dunia, khususnya kaum Muslim, punya hak yang sama dalam mendapatkan bantuan. Kami berasal dari Palestina, tetapi fokus organisasi kami adalah membantu negara-negara miskin yang ada di Afrika,”pungkasnya. (taufik)

Tinggalkan Balasan