Selasa, 29 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Tawa Pecah, Ketua PP Muhammadiyah Janji Bantu Mantan Warek UNISA Jogja jadi Menteri

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Tawa Pecah, Ketua PP Muhammadiyah Janji Bantu Mantan Warek UNISA Jogja jadi Menteri

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman menjanjikan mantan Wakil Rektor Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Taufiqur Rahman menjadi Menteri.

Tidak Sungkan janji tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Bidang Resiliensi, Kesehatan, dan Sosial ini pada Ahad (6/8) dalam Pengajian Akbar di Masjid Ali Husenain di Kasihan, Bantul.

“Ini saya sampaikan di sini, disaksikan orang banyak, kalau Pak Taufiqurh Rahman bersedia jadi menteri, insyaallah saya bisa bantu, asalkan yang penting saya dibantu jadi presiden,” kelakar dr. Agus disambut tawa jemaah.

Di setiap Dokter Spesialis Saraf ini mengisi pengajian akbar kerap melemparkan candaan yang terkadang ‘di tepi jurang’. Meskipun profesinya sebagai dokter, tapi dr. Agus terlihat cair ketika mengisi pengajian di tingkat Ranting maupun Cabang Muhammadiyah.

Gaya yang dibawakan dr. Agus ketika mengisi tausiyah, maupun dalam kesempatan lain bagaikan anomali di Muhammadiyah yang selama ini dikenal terlalu serius dalam pengajian, tapi itu tidak berlaku ketika dr. Agus yang menjadi penyaji materi.

Dalam pengajian itu, dr. Agus juga mengapresiasi qori’ yang menurutnya mampu menghadirkan suasana ‘adem’ dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an yang dibacakannya, terlebih usianya masih cukup muda.

Dia berharap, setiap masjid Muhammadiyah memiliki imam yang masih muda, energik, hafiz, serta memiliki suara yang enak didengarkan. Sehingga jemaah yang hadir tidak bosan, bahkan ingin datang lagi ke masjid tersebut.

“Kalau ada imam yang ngajinya baik begitu, itu jemaah pada berdatangan bahkan ada itu yang bertestimoni – senang di sini imamnya hafiz dan bagus. Kalau ada imam lagunya (bacaannya) bagus, nadanya indah, tajwidnya mumtas, itu jemaah bisa capek,” ungkapnya.

“Bahkan kalaupun tarawih sudah sampai satu jam itu, rasa-rasanya salat tarawih baru 60 menit,” seloroh dr. Agus.

Oleh karena itu, masjid Muhammadiyah supaya lebih memperhatikan psikologi jemaah untuk memilih imam. Selain memiliki tajwid dan bacaan yang bagus, yang paling penting menurutnya adalah pemilihan surat yang dibaca itu pendek.

Tinggalkan Balasan