Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Tauhid Harus Melahirkan Kemandirian Ekonomi Umat

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Tauhid Harus Melahirkan Kemandirian Ekonomi Umat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Dewan Pakar LP UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Euis Amalia menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat sebagai bagian dari implementasi nilai keimanan.

Menurutnya, kemiskinan bukanlah takdir yang tidak dapat diubah, melainkan persoalan yang dapat diatasi melalui ikhtiar bersama.

“Kemandirian umat itu adalah bagian dari keimanan kita. Jadi, tauhid kita harus direfleksikan dari bagaimana kemampuan kita membuat kemandirian umat,” papar Euis.

Ia menjelaskan, upaya membangun kemandirian ekonomi tidak dapat dilakukan secara individual. Dibutuhkan ikhtiar kolektif melalui penguatan kelembagaan dan kolaborasi di antara berbagai elemen umat.

Euis juga mengaitkan kemandirian ekonomi dengan gagasan Islam Berkemajuan. Menurutnya, Islam Berkemajuan mendorong umat untuk membangun peradaban dengan tetap berlandaskan tauhid, Al-Qur’an, dan sunah, sekaligus menghidupkan semangat ijtihad dan tajdid.

“Islam Berkemajuan adalah Islam yang memberikan pencerahan, Islam yang membangun peradaban, Islam yang berkelanjutan, dan Islam yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Dalam konteks ekonomi, Euis menyebut terdapat lima prinsip ekonomi berkemajuan, yakni tauhid dan amanah, produktif bukan konsumtif, keadilan, kolaborasi, serta keberlanjutan.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi umat. Menurutnya, persoalan UMKM tidak hanya berkaitan dengan permodalan, tetapi juga legalitas, sertifikasi, kapasitas manajerial, kesenjangan digital, akses pasar, hingga rantai pasok.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia,” jelas Euis.

Dalam konteks Muhammadiyah, Euis melihat adanya potensi besar yang dapat dikembangkan melalui berbagai amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah, seperti perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, pesantren, hingga jaringan saudagar. Namun, potensi tersebut perlu diaktualisasikan melalui jejaring dan kolaborasi.

“Potensi ini perlu diaktualkan menjadi kekuatan ekonomi Muhammadiyah. Dan ini perlu berjejaring, tidak boleh sendiri-sendiri,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara lembaga keuangan syariah, zakat, wakaf, industri halal, serta UMKM dapat membentuk ekosistem ekonomi umat yang lebih kuat. Ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kemandirian ekonomi umat, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. (Andiva)

Tinggalkan Balasan