Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Tak Sekadar Pandai Memasak, Chef Makan Bergizi Muhammadiyah Harus Pahami Keamanan Pangan

Oleh timredaksi 3 Menit Min
Tak Sekadar Pandai Memasak, Chef Makan Bergizi Muhammadiyah Harus Pahami Keamanan Pangan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) menyelenggarakan Pelatihan dan Uji Kompetensi Sertifikasi Chef di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat penyelenggaraan SPPG, khususnya dalam aspek keamanan pangan, tata kelola, dan pengembangan ekosistem layanan pemenuhan gizi.

Badan Pembina Harian BPPGM, Siti Noordjannah Djohantini, mengatakan kegiatan peningkatan kapasitas seperti pelatihan dan sertifikasi merupakan bagian dari proses penguatan SPPG Muhammadiyah yang secara berkelanjutan dilakukan BPPGM dalam berbagai momentum dan tema.

“Kegiatan seperti ini yang dilakukan oleh BPPGM sangat sering dilakukan dalam berbagai momentum dan tema. Tidak mudah bagi kita memiliki SPPG sebesar ini kalau kita tidak berada dalam Persyarikatan Muhammadiyah, dengan sistem organisasi yang tertata dengan baik,” ujar Noordjannah pada Kamis (27/8).

Menurutnya, SPPG Muhammadiyah memiliki identitas dan karakter tersendiri karena dijalankan dalam lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Dalam penyelenggaraannya, Muhammadiyah tetap menjadikan regulasi pemerintah sebagai salah satu pijakan utama.

“Persyarikatan Muhammadiyah melalui BPPGM mengadakan SPPG mengikuti regulasi dari pemerintah atau mengikuti peraturan yang ada. Ini satu langkah yang sangat penting,” jelasnya.

Namun demikian, Siti menegaskan bahwa kepatuhan terhadap regulasi tetap harus berjalan seiring dengan nilai-nilai yang menjadi fondasi Persyarikatan. Apabila terdapat aturan yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip dan nilai yang dipegang Muhammadiyah, maka perlu disampaikan kritik dan masukan.

Selain regulasi, menurut Siti, prinsip amanah menjadi salah satu fondasi penting dalam pengelolaan SPPG. Berbagai kerja sama yang dilakukan Muhammadiyah dengan para mitra, menurutnya, terbangun atas dasar kepercayaan.

“Apa yang kita miliki sampai saat ini karena kepercayaan itu. SPPG Muhammadiyah tidak ada yang diberhentikan karena kita bisa menjaga amanah. Itu sangat penting dan harus dimiliki, baik oleh mitra maupun semua relawan yang bergabung pada SPPGM,” tuturnya.

Noordjannah menambahkan, prinsip amanah tersebut tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah. Setiap aktivitas yang dilakukan dalam penyelenggaraan SPPGM harus berorientasi pada nilai ajaran agama, termasuk dalam proses pengolahan makanan.

“Kita harus memasak dan menyajikan sesuatu yang aman dan thayyib atau baik,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ia menyoroti pentingnya tata kelola dalam menjalankan SPPGM. Menurutnya, penyelenggaraan layanan pemenuhan gizi dalam skala besar membutuhkan sistem yang resmi, tertata, dan memiliki identitas yang jelas.

“Bagaimana cara kita menjalankan SPPGM ini dengan sebuah tata kelola yang resmi, baik, dan bahkan punya identitas. Kalau tidak sesuai dengan tata kelola sistem yang ada, secara teoritik sudah dibangun dan akurat, lalu kita melakukan penyimpangan, tentu akan memengaruhi hasilnya,” katanya.

Dalam konteks tersebut, kompetensi chef atau juru masak menjadi bagian penting dalam memastikan proses pengolahan makanan berjalan sesuai standar. Tidak hanya menyangkut kemampuan teknis memasak, chef juga dituntut memahami keamanan pangan, kebersihan, kualitas bahan, serta penyajian makanan.

Noordjannah juga mengingatkan pentingnya memasak dengan hati dan rasa. Menurutnya, hal-hal sederhana dalam proses memasak dapat memengaruhi hasil makanan yang nantinya disajikan kepada penerima manfaat.

Ia berharap pelatihan dan sertifikasi tersebut dapat mendorong para juru masak untuk terus meningkatkan kompetensi sekaligus melahirkan inovasi baru dalam penyajian makanan, dengan tetap memperhatikan standar keamanan dan kualitas pangan.

Selain aspek teknis, Siti menegaskan bahwa penyelenggaraan SPPGM juga merupakan bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah. Karena itu, seluruh proses yang dilakukan harus dilandasi niat untuk memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

“Tidak ada secuil hal yang digerakkan oleh Persyarikatan ini tanpa niat untuk kepentingan dakwah. Kalau ada niat yang lain, biasanya akan terpental,” ungkapnya.

Menurut Noordjannah, kepercayaan yang diberikan berbagai lapisan masyarakat kepada Muhammadiyah tidak terlepas dari tata kelola Persyarikatan yang telah dibangun dan dijaga selama ini. Kepercayaan tersebut, harus terus dirawat dalam penyelenggaraan SPPGM.

“Kepercayaan yang besar dari berbagai lapisan masyarakat kepada Muhammadiyah lahir karena Muhammadiyah memiliki tata kelola yang baik. Hal ini perlu untuk terus dijaga,” pungkasnya. (Diva)

Tinggalkan Balasan