MUHAMMADIYAH.OR.ID, DEPOK — Zona nyaman menjadi salah satu ancaman terbesar bagi inovasi pendidikan. Di tengah semakin ketatnya persaingan dan munculnya berbagai model institusi pendidikan baru, termasuk Sekolah Garuda dan sekolah nasional terintegrasi, Muhammadiyah dituntut terus menjaga mutu sekaligus meningkatkan keunggulan sekolah dan madrasahnya.
Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Didik Suhardi, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sekolah/Madrasah Muhammadiyah di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPV BisPar), Jawa Barat, Senin (28/9).
Menurut Didik, predikat sekolah unggul tidak boleh membuat Muhammadiyah berhenti berinovasi. Justru, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk terus melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan.
“Ketika sudah menjadi sekolah unggul, tentu yang harus kita lakukan adalah kita tidak boleh masuk ke zona aman atau comfort zone,” ujar Didik.
Dalam kesempatan tersebut, Didik juga memaparkan perkembangan positif jumlah peserta didik di lingkungan pendidikan Muhammadiyah berdasarkan data Dapodik 2026. Jumlah peserta didik Muhammadiyah tercatat mencapai 1.123.083 siswa atau mengalami kenaikan sebesar 5,1 persen.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,14 persen. Didik menilai pertumbuhan tersebut menjadi indikator positif atas kerja keras seluruh pihak dalam mengembangkan pendidikan Muhammadiyah.
“Tahun ini kita bisa 5,1 persen. Artinya kerja keras dari Bapak Ibu, kerja keras dari kita semua, hasilnya bisa kita lihat sekarang ini,” tuturnya.
Pertumbuhan jumlah peserta didik tersebut juga diiringi dengan peningkatan prestasi akademik dan nonakademik. Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 9.720 peserta didik sekolah Muhammadiyah telah menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Sementara di tingkat internasional, sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah dipersiapkan untuk mengikuti International Mathematics and Science Olympiad (IMSO), yang diikuti peserta dari 23 negara.
“Saya berharap dari IMSO ini nanti ada prestasi-prestasi yang menggembirakan, mulai dari medali emas, medali perak, medali perunggu. Tentu kami mohon doa dari Bapak Ibu,” ungkap Didik.
Meski capaian tersebut menunjukkan perkembangan positif, Didik menegaskan bahwa penguatan mutu pendidikan tetap menjadi prioritas. Pengembangan kurikulum khas Muhammadiyah, seperti ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab), penyusunan buku MIPA dan IPS bilingual, digitalisasi pendidikan, serta peningkatan kompetensi guru berbasis teknologi perlu terus diperkuat.
Didik juga menyoroti pentingnya reformasi perbukuan sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, ketersediaan buku berkualitas dengan harga terjangkau dan akses yang merata menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses pembelajaran.
Karena itu, Muhammadiyah mendorong penerapan prinsip 3M dalam perbukuan, yakni Mutu, Murah, dan Merata. Buku-buku tersebut juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan kompetensi masa depan, termasuk penguatan bahasa Inggris dan pengenalan bahasa Mandarin.
“Prinsip perbukuan itu bermutu, murah, dan merata. Buku-buku kita susun dengan memangkas rabat berlebih agar harganya jauh lebih terjangkau bagi orang tua siswa, tanpa mengorbankan kualitas maupun dukungan operasional persyarikatan,” jelas Didik.
Melalui penguatan tata kelola, pengembangan buku bilingual, digitalisasi pembelajaran, serta peningkatan kapasitas guru, Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah diharapkan menjadi ruang konsolidasi untuk merumuskan langkah strategis pendidikan Muhammadiyah.
Dengan demikian, sekolah dan madrasah Muhammadiyah tidak hanya mampu mempertahankan mutu yang telah dicapai, tetapi juga terus berinovasi dan melahirkan prestasi baru di tingkat nasional maupun internasional. (Alam)






