Kamis, 1 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Qur’an Habit, Ikhtiar Membentuk Muslim Berkemajuan di Lingkungan Kantor PP Muhammadiyah

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Qur’an Habit, Ikhtiar Membentuk Muslim Berkemajuan di Lingkungan Kantor PP Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Membangun kebiasaan yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an menjadi salah satu ikhtiar penting dalam membentuk pribadi muslim berkemajuan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY, Syahdara Anisa Makruf, dalam Pengajian Bulanan Karyawan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bertajuk “Qur’an Habit, Menjadi Muslim Berkemajuan” yang digelar di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Rabu (9/9).

Syahdara menjelaskan, membangun sebuah kebiasaan bukan perkara sederhana. Setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola asuh keluarga, lingkungan, hingga hal-hal yang dilihat dan didengar dalam keseharian.

Karena itu, menurutnya, membangun kebiasaan yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an perlu dilakukan secara konsisten. Qur’an habit tidak hanya dimaknai sebagai rutinitas membaca Al-Qur’an, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu kebiasaan yang dapat dibangun adalah disiplin waktu melalui pelaksanaan salat lima waktu. Menurut Syahdara, kebiasaan salat tepat waktu dapat menjadi latihan untuk menghargai waktu sekaligus membentuk kedisiplinan yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan.

Pesan mengenai pentingnya waktu juga tercermin dalam Surah Al-‘Asr. Waktu merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia sehingga perlu dimanfaatkan untuk melakukan amal saleh dan berbagai kebaikan.

“Habit pertama dalam keluarga kami itu bukan mendidik kami jadi anak pintar, tapi pondasi utamanya adalah salat lima waktu dan tepat waktu,” ucap Anisa.

Selain membangun disiplin melalui salat, membaca Al-Qur’an juga perlu disertai dengan upaya memahami maknanya. Kebiasaan tersebut, kata Anisa, dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan ketenangan sekaligus kemampuan mengelola emosi.

Kemampuan mengelola emosi penting agar seseorang dapat menghadapi berbagai persoalan dengan lebih tenang dan mengambil keputusan secara bijak.

“Menumbuhkan sikap tenang dalam hidup kita dengan cara membaca Al-Qur’an dan maknanya,” ujar Anisa.

Nilai-nilai tersebut juga relevan diterapkan dalam kehidupan persyarikatan Muhammadiyah. Menurut Anisa, integritas dan loyalitas merupakan bagian dari kebiasaan yang perlu terus dibangun dalam menjalankan amanah persyarikatan.

Integritas dapat diwujudkan melalui kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, serta kemampuan mengelola emosi ketika menjalankan tugas dan peran masing-masing. Sementara itu, loyalitas kepada Muhammadiyah tidak sekadar ditunjukkan melalui keterlibatan dalam berbagai aktivitas, tetapi juga dengan menjaga nilai dan amanah persyarikatan.

“Integritas dan loyalitas ini menjadi salah satu habit yang harus kita perdalam untuk persyarikatan Muhammadiyah, bahwa loyal kepada Muhammadiyah itu berarti menjaga nilai dan amanah persyarikatan,” tegas Anisa.

Di lingkungan kerja, penerapan nilai-nilai Al-Qur’an juga dapat diwujudkan melalui budaya asertif. Sikap asertif berarti kemampuan menyampaikan pendapat, kebutuhan, maupun batasan secara tegas dan jelas tanpa menyakiti orang lain.

Dalam menjalankan pekerjaan, setiap individu perlu memahami batasan dan tanggung jawab sesuai dengan tugas dan fungsinya. Ketika menghadapi persoalan atau perbedaan pendapat, ketegasan tetap dapat disampaikan dengan cara yang baik dan menghargai orang lain.

Prinsip tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 83 agar manusia bertutur kata yang baik kepada sesama.

Kebiasaan lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan melakukan refleksi diri. Pribadi yang reflektif tidak hanya melihat kesalahan orang lain, tetapi juga mampu mengevaluasi dirinya sendiri.

Refleksi menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan, mengenali kekurangan, serta menentukan langkah perbaikan ke depan. Dengan demikian, seseorang tidak berhenti pada proses mengetahui nilai-nilai kebaikan, tetapi terus berupaya memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Qur’an habit merupakan upaya untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam perilaku. Disiplin, kemampuan mengelola emosi, integritas, sikap asertif, dan refleksi diri merupakan karakter yang dapat tumbuh ketika Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan. (Diva)

Tinggalkan Balasan