MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Perubahan pola pergaulan remaja di era digital dan global menuntut orang tua lebih aktif mendampingi tumbuh kembang anak. Akses terhadap media sosial, teknologi, dan lingkungan pergaulan yang semakin luas membuat anak dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, termasuk mengenai relasi dengan lawan jenis.
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, mengatakan orang tua perlu mengambil langkah lebih awal dalam memberikan pendidikan kepada anak. Menurutnya, pendidikan yang diberikan keluarga harus mampu membekali anak untuk memahami batas-batas pergaulan sejak dini.
“Orang tua memang harus kemudian beberapa langkah lebih maju daripada putra-putrinya,” ujar Talqis dalam podcast Indahnya Cahaya Islam pada Senin (31/8).
Talqis menyoroti pentingnya pendidikan seksual yang diberikan secara tepat oleh keluarga. Ia mengatakan, ketika anak tidak mendapatkan pendidikan seksual yang memadai dari orang tua, anak berpotensi mencari informasi sendiri dan bertemu dengan sumber yang tidak tepat.
“Maka kemudian ketika anak itu tidak mendapatkan pendidikan seks lebih dini kemudian dengan bahasa yang disampaikan orang tua pada anaknya, maka anaknya akan mencari tahu sendiri,” katanya.
Menurut Talqis, pendidikan tersebut perlu diberikan dengan bahasa yang sesuai sehingga anak memahami batas-batas dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Anak perlu mengetahui bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, ucapan yang pantas disampaikan, hingga perilaku yang diperbolehkan.
“Dia tahu mana bagian tubuh yang boleh dipegang, mana yang tidak boleh, mana ucapan yang boleh disampaikan pada lawan jenis, mana yang tidak boleh,” jelasnya.
Talqis menilai pendidikan mengenai pergaulan dan seksualitas tidak cukup diserahkan kepada institusi pendidikan. Keluarga juga perlu memiliki rancangan pendidikan sendiri sesuai dengan kebutuhan anak.
Dalam pandangannya, tantangan pergaulan remaja juga berkaitan dengan cara anak mendefinisikan kebahagiaan. Lingkungan pergaulan dan media digital dapat membentuk ukuran kebahagiaan yang belum tentu sesuai dengan nilai yang dianut keluarga.
Talqis menyebut orang tua perlu ikut membantu anak memahami makna kebahagiaan. “Orang tua ya harus masuk membantu mendefinisikan indeks kebahagiaan tadi,” ujarnya. Menurutnya, nilai-nilai Islam juga perlu menjadi bagian dalam proses tersebut.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan keluarga yang terlalu individualistis dapat mengurangi ruang interaksi antara orang tua dan anak. Ketika masing-masing anggota keluarga sibuk dengan perangkat digital, hubungan emosional dapat semakin renggang.
Karena itu, Talqis menggambarkan keluarga sebagai sebuah sekolah yang membutuhkan pengelolaan dan arah pendidikan yang jelas. “Kalau keluarga itu adalah sekolah, maka harus ada kepala sekolahnya,” katanya. Dalam pembagian peran tersebut, ayah dan ibu dapat saling melengkapi dalam menjalankan fungsi pendidikan keluarga.
Talqis juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan antara orang tua dan anak. Pengawasan terhadap penggunaan gawai, misalnya, menurutnya dapat ditempatkan dalam kerangka perlindungan anak, bukan semata-mata sebagai bentuk kecurigaan.
Ia mengatakan, anak dapat memberikan akses kepada orang tua sebagai bagian dari upaya memastikan tidak ada hal berbahaya dalam perangkat yang digunakan. Namun, pendekatan terhadap anak tetap perlu disesuaikan dengan usia dan perkembangan mereka.
Selain pengawasan, Talqis menilai keimanan harus menjadi fondasi utama dalam membentengi anak. Orang tua tidak boleh melepaskan tanggung jawab hanya karena kebutuhan material anak telah dipenuhi.
“Bagaimanapun orang tua juga tidak boleh lepas tangan dengan pergaulan dan juga perkembangan keilmuan dari sang anak,” katanya. Ia menilai orang tua juga perlu memahami perkembangan teknologi yang digunakan anak.
Talqis kemudian menyinggung persoalan fatherless yang menurutnya berkaitan dengan tidak hadirnya peran ayah dalam kehidupan anak. Ia menegaskan bahwa fatherless tidak selalu berarti anak tidak memiliki ayah, melainkan dapat terjadi ketika peran ayah dalam kehidupan anak tidak berjalan.
“Peran sang ayah tidak hadir,” ujarnya. Kondisi tersebut, menurut Talqis, perlu menjadi perhatian bersama karena kehadiran orang tua berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menyediakan waktu bersama anak. Menurut Talqis, orang tua membutuhkan quality time sekaligus quantity time. Waktu yang cukup memungkinkan komunikasi berkembang secara alami dan memberi kesempatan bagi anak untuk menyampaikan persoalan yang dihadapinya.
“Kadang-kadang di dalam setiap keluarga juga dinamikanya berbeda-beda,” ujarnya dalam pembahasan mengenai waktu bersama anak. Ia mencontohkan aktivitas sederhana seperti memasak, mengantar, atau menjemput anak dapat menjadi ruang munculnya percakapan dan curahan hati.
Talqis bahkan menyarankan agar kesempatan berkomunikasi dengan anak dirancang secara sadar. Menurutnya, orang tua tidak harus menunggu anak tiba-tiba membuka pembicaraan, tetapi dapat menciptakan situasi yang membuat anak merasa nyaman untuk bercerita.
“Bahkan kemudian by desain,” katanya. Ia mencontohkan perjalanan bersama anak dapat menjadi kesempatan yang sengaja diciptakan orang tua untuk membangun komunikasi.
Persoalan lain yang perlu diperhatikan orang tua adalah lingkungan pertemanan anak. Talqis mengatakan generasi saat ini dapat memiliki lingkaran pertemanan yang tidak selalu diketahui orang tua, termasuk melalui akun media sosial yang bersifat lebih tertutup.
“Dia memiliki circle yang kemudian kadang circle-nya tidak boleh diketahui oleh orang tua,” katanya. Ia juga menyinggung keberadaan second account di media sosial yang hanya diikuti oleh kelompok pertemanan tertentu.
Menurut Talqis, orang tua perlu mengetahui lingkungan pergaulan anak selama anak masih berada dalam pengawasan keluarga. “Karena teman dia adalah cerminan dari perilaku anak kita,” ujarnya. Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi agar anak bersedia menceritakan lingkungan pertemanannya.
Talqis juga menekankan pentingnya menempatkan anak sebagai prioritas dalam kehidupan keluarga. Kesibukan pekerjaan tidak seharusnya menghilangkan kesempatan orang tua untuk mendampingi anak.
“Misalkan kalau orang tua menganggap bahwa anaknya memang penting, maka pekerjaan itu menjadi second,” katanya. Menurutnya, keluarga perlu mendapatkan ruang yang memadai dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
Dalam berkomunikasi dengan remaja, Talqis menyarankan orang tua meninggalkan pola komunikasi berupa sindiran. Menurutnya, pesan kepada anak sebaiknya disampaikan secara langsung agar maksudnya dapat dipahami dengan jelas.
“Jangan main sindir-sindiran,” tegasnya. Ia menyarankan orang tua menyampaikan apa yang diinginkan secara langsung tanpa berbelit-belit. “Sampaikan aja apa yang kemudian kita inginkan,” katanya.
Namun, pola komunikasi tetap perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing anak. Talqis mengatakan setiap anak memiliki tingkat kepekaan yang berbeda. Pendampingan yang baik sejak awal, komunikasi yang sehat, dan hubungan yang hangat dapat membantu orang tua memahami karakter anak.
Pergaulan global juga menjadi perhatian tersendiri. Talqis melihat kemampuan generasi digital berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai negara sebagai hal positif. Namun, wawasan global tersebut perlu disertai pemahaman mengenai perbedaan budaya dan konsekuensi kehidupan lintas negara.
Ia mencontohkan anak-anak yang memiliki keinginan untuk menikah dengan orang dari negara lain. Menurutnya, keinginan tersebut perlu dibarengi pemahaman mengenai persoalan kewarganegaraan, budaya, serta kondisi keluarga ketika pasangan hidup di negara yang berbeda.






