Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Pelayanan EMT Ditarik, Muhammadiyah Siapkan Program Penguatan Penyintas Pasca Gempa Flores

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Pelayanan EMT Ditarik, Muhammadiyah Siapkan Program Penguatan Penyintas Pasca Gempa Flores

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MANGGARAI TIMUR — Muhammadiyah menarik Relawan Emergency Medical Team (EMT) Batch 2 dari wilayah terdampak Gempa Flores. Penarikan tersebut bukan berarti berakhirnya pelayanan kemanusiaan Muhammadiyah, melainkan menjadi awal bagi program penguatan penyintas pascabencana.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, saat mengunjungi Rumah Sakit Lapangan EMT Type 1 Fixed Muhammadiyah di Dampek, Manggarai Timur, pada Sabtu (20/9).

Menurut Agus, prinsip Muhammadiyah dalam pelayanan kemanusiaan adalah menolong tanpa syarat dan tidak meninggalkan masyarakat setelah memberikan bantuan. Karena itu, meskipun relawan EMT ditarik, pelayanan Muhammadiyah kepada masyarakat terdampak bencana akan terus dilanjutkan dalam berbagai bentuk.

“Walau ini nanti secara kelembagaan EMT Batch 2 akan segera ditarik, insyaallah kita akan berusaha tetap menjalin komunikasi,” tutur Agus.

Dokter spesialis neurologi tersebut menjelaskan, PP Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) tengah menyiapkan program penguatan masyarakat pascabencana. Salah satu program yang akan dikembangkan adalah Sekolah Tangguh Bencana.

“Sehingga nanti tentu dengan Pimpinan Persyarikatan akan membangun kegiatan-kegiatan tanggap bencana. Biasanya kita mulai dengan Sekolah Tanggap Bencana. Sehingga anak-anak itu menyadari bahwa kebencanaan itu menjadi tanggung jawab kita bersama,” imbuhnya.

Agus menegaskan, penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, program penguatan pascabencana akan diarahkan pada kerja sama dan kolaborasi lintas pihak, lintas sektor, bahkan lintas iman.

Muhammadiyah Bangun Kerja Sama Lintas Batas

Agus menyebut, kerja sama lintas pihak dalam penanganan bencana bukan hal baru bagi Muhammadiyah. Persyarikatan telah beberapa kali mengirimkan relawan dengan berbagai kompetensi ke sejumlah negara untuk memberikan bantuan kemanusiaan.

“Bahwa memang kebencanaan itu enggak bisa diatasi sendiri. Maka istilah kita, kebencanaan itu harus diatasi bareng-bareng sesuai dengan kompetensi masing-masing,” katanya.

Ia menyebut, Muhammadiyah pernah menerjunkan relawan ke Myanmar-Bangladesh, Turki, dan sejumlah negara lainnya sebagai bagian dari bantuan kemanusiaan Indonesia.

Menurut Agus, Muhammadiyah tidak akan menghindar dari tugas kemanusiaan, terlebih ketika negara membutuhkan kontribusi Persyarikatan dalam menghadapi bencana maupun persoalan kemanusiaan lainnya.

“Maka bagi Muhammadiyah, Bapak-Ibu, selama negara ini memanggil, maka kita terus hadir,” tegas Agus.

Kerja sama lintas iman juga disebut Agus bukan sesuatu yang baru bagi Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan, misalnya, Muhammadiyah sejak awal telah memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama.

Hal tersebut juga terlihat dalam pelayanan kemanusiaan di wilayah terdampak Gempa Flores. Muhammadiyah memastikan bantuan diberikan kepada seluruh penyintas tanpa membedakan keyakinan agama.

“Hubungan Muhammadiyah sebagai warga muslim dengan saudara-saudara kita dengan keyakinan agama lain, termasuk juga di Papua. Karena hubungannya dekat, sehingga teman-teman Kristiani sering menyebut: ‘Pak, kami ini Krismuha.’ Kok Krismuha? ‘Kami Kristen, tapi juga cinta Muhammadiyah,’” ungkapnya.

Karena itu, Agus mengajak para penyintas Gempa Flores untuk tidak berkecil hati maupun merasa tidak mendapatkan pelayanan karena perbedaan keyakinan dengan para relawan Muhammadiyah. Menurutnya, pelayanan kemanusiaan Muhammadiyah ditujukan bagi semua masyarakat yang membutuhkan.

“Semua akan dilayani Muhammadiyah dengan sepenuh hati,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan