Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muhammadiyah Targetkan Lahirnya Pengusaha Muslim Besar dari Persyarikatan

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Muhammadiyah Targetkan Lahirnya Pengusaha Muslim Besar dari Persyarikatan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Lembaga Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pimpinan Pusat (LP UMKM) PP Muhammadiyah, Tony Firmansyah, menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat sekaligus menciptakan keberlanjutan usaha untuk melahirkan pengusaha-pengusaha Muslim yang tangguh di masa depan.

Hal tersebut disampaikan Tony dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Tony, perubahan zaman yang berlangsung cepat, terutama dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI), menuntut umat Islam untuk mampu beradaptasi sekaligus memperkuat kapasitas ekonomi.

“Saya melihat perubahan zaman begitu cepat di 10 tahun belakangan ini, ditambah lagi di era kecerdasan buatan semuanya terasa mudah,” ujar Tony pada Jumat malam (25/9).

Dalam konteks tersebut, Tony merefleksikan kondisi umat Muslim dunia yang kini mencapai sekitar 1,8 miliar jiwa. Menurutnya, besarnya jumlah tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kekuatan ekonomi umat.

“Umat Muslim pada saat ini tidak seperti dulu. Kalau kita lihat eranya sahabat, para pengusaha Muslim di era sahabat itu meskipun mereka sedikit, tapi mereka betul-betul bersatu untuk bagaimana menegakkan agama,” ungkapnya.

Tony kemudian menyoroti kondisi ekonomi umat di Indonesia. Ia berharap gerakan ekonomi Muhammadiyah dapat menjadi salah satu kekuatan yang mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha Muslim baru yang mampu berkembang secara berkelanjutan.

Melalui komitmen dan gerakan ekonomi Muhammadiyah, Tony menargetkan dalam lima hingga 10 tahun mendatang akan lahir pengusaha-pengusaha Muslim besar dari lingkungan Persyarikatan.

Menjaga Bisnis agar Tidak Menjauhkan dari Nilai Agama

Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, Tony mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan penguatan iman dan ketakwaan.

Menurutnya, kesuksesan dalam berbisnis tidak semata-mata diukur dari besarnya kekayaan, tetapi juga dari kemampuan seorang pengusaha menjaga nilai-nilai agama dalam menjalankan usahanya.

“Kekayaan itu bisa bikin kita terlena. Yang saya lihat, bahkan jika seseorang semakin kaya itu ia semakin bertingkah. Jadi banyak sekali godaannya,” ujarnya.

Karena itu, Tony menilai para pengusaha Muslim perlu memiliki kesadaran untuk tetap menjalankan kewajiban agama dan menjaga ketakwaan di tengah kesibukan mengembangkan usaha.

Untuk membangun kemandirian ekonomi umat, Tony kemudian memaparkan lima strategi ekonomi Muhammadiyah yang dikembangkan LPUMKM.

Pertama, membangun basis data dan peta potensi ekonomi warga. Menurut Tony, langkah tersebut telah dilakukan LPUMKM melalui Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU). Hingga saat ini, jaringan tersebut telah menghimpun sekitar 3.000 pengusaha Muslim.

Kedua, mencetak pengusaha baru melalui pendampingan yang nyata. Strategi ini diarahkan pada proses inkubasi sekaligus peningkatan kelas pelaku usaha, sehingga usaha mikro dapat berkembang secara bertahap menjadi usaha yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Ketiga, menghubungkan UMKM dengan pasar yang lebih luas. Tony menyebut masih banyak pelaku usaha yang menghadapi kendala dalam memperoleh akses pasar, pengetahuan, maupun jaringan bisnis.

“Ini karena masih banyak pengusaha yang mengeluh untuk mendapatkan akses pasar, keterbatasan ilmu dan jaringan,” tutur Tony.

Untuk menjawab persoalan tersebut, LPUMKM tengah menyiapkan sejumlah inisiatif, salah satunya pengembangan aplikasi yang nantinya dapat memetakan dan menghubungkan para pengusaha berdasarkan jenis usaha serta tingkat omzetnya.

Keempat, membangun usaha produktif bersama melalui kolaborasi. Menurut Tony, kemandirian ekonomi tidak cukup dibangun melalui usaha individual, tetapi membutuhkan ekosistem usaha yang memungkinkan warga Muhammadiyah saling terhubung dan berkembang bersama.

Dalam hal ini, LPUMKM telah merancang konsep koperasi yang diharapkan dapat menjadi wadah penyediaan bahan pangan murah dan berkualitas, sekaligus mendukung terbentuknya ekosistem bisnis serta kemandirian pangan di lingkungan Muhammadiyah.

Kelima, mengembangkan dana sosial menjadi instrumen pemberdayaan. Strategi ini diarahkan untuk mengubah posisi masyarakat dari penerima bantuan menjadi pihak yang mampu mandiri secara ekonomi dan pada akhirnya ikut memberdayakan orang lain.

“Jadi pengusaha-pengusaha kita yang tadinya mikro kemudian naik menjadi menengah, menengah menjadi besar. Melalui sistem itu, kita harapkan nanti mereka dapat melakukan pemberdayaan. Merubah yang tadinya penerima zakat lalu ke depannya dapat menjadi pembayar zakat,” pungkasnya.

Bagi Tony, pembangunan ekonomi umat pada akhirnya bukan hanya tentang melahirkan pengusaha dengan skala usaha yang besar, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan keberhasilan ekonomi tersebut terus berputar dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan ikhtiar berkelanjutan tersebut, Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan generasi pengusaha Muslim yang tidak hanya tangguh menghadapi perubahan zaman, tetapi juga mampu menjadi penggerak pemberdayaan dan kemandirian ekonomi umat. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan