MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan bermasyarakat merupakan ruang untuk mengaktualisasikan tauhid sekaligus menguji kualitas ketakwaan seseorang. Di tengah keberagaman, cara seseorang berinteraksi, mengelola perbedaan, dan memberikan manfaat kepada sesama menjadi bagian penting dari pembuktian tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua MPKU Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Sukaca dalam Gerakan Subuh Mengaji pada Kamis (03/09). Dalam kajian tersebut, Agus mengulas pokok pikiran kedua Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang menegaskan bahwa hidup manusia adalah hidup bermasyarakat.
Agus menjelaskan, Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah memuat pokok-pokok pikiran yang menjadi dasar ideologi Muhammadiyah. Enam pokok pikiran tersebut mencakup tauhid, kehidupan bermasyarakat, Islam sebagai landasan hidup, kewajiban menegakkan ajaran Islam, ittiba kepada Nabi Muhammad SAW, serta perjuangan yang dilakukan melalui organisasi.
“Tauhid itu ruang aktualisasinya di masyarakat.”
Dari Kesalehan Individu Menuju Kesalehan Sosial
Agus mengingatkan agar kehidupan Islam tidak berkembang menjadi kehidupan yang individualistik. Menurutnya, seseorang perlu mengubah orientasi dalam berinteraksi dengan masyarakat, dari pertanyaan mengenai apa yang bisa diperoleh menjadi pertanyaan tentang apa yang dapat diberikan.
“Kalau kita islami fokusnya adalah apa yang bisa saya berikan kepada masyarakat.”
Orientasi tersebut akan mendorong seseorang mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan bersama. Keberadaan seseorang di tengah masyarakat diharapkan memberikan manfaat, sebagaimana prinsip yang disampaikan dalam hadis Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.
Agus juga menekankan pentingnya menggeser orientasi kehidupan sosial dari sekadar menuntut hak menuju kesadaran menjalankan kewajiban. Menurutnya, perubahan cara pandang tersebut dapat membentuk kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.
Dalam kerangka Muhammadiyah, kesalehan pribadi yang dibangun melalui ibadah harus memiliki keluaran berupa kesalehan sosial. Kesalehan individual menjadi titik awal untuk membangun masyarakat yang saleh.
“Jadi, masyarakatnya menjadi masyarakat saleh.”
Masyarakat saleh tersebut kemudian diarahkan pada cita-cita Muhammadiyah berupa terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Karena itu, nilai-nilai Islam perlu hadir dalam ruang publik melalui perilaku dan kontribusi nyata warga Muhammadiyah.
Agus menyebut keadilan, kejujuran, persaudaraan, gotong royong, dan tolong-menolong sebagai nilai penting yang perlu menjadi bagian dari karakter warga Muhammadiyah. Nilai tersebut harus dibentuk menjadi akhlak melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.
“Ini harusnya menjadi DNA-nya Muhammadiyah.”
Menurut Agus, nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam berbagai ruang pengabdian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, seperti pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta pelayanan bagi kelompok-kelompok khusus.
Pada bagian akhir, Agus mengajak warga Muhammadiyah melakukan muhasabah terhadap perannya di tengah masyarakat. Beberapa pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah keberadaan seseorang memberikan kebaikan bagi keluarga, memberikan manfaat bagi lingkungan, serta membuat orang lain merasa aman dan nyaman ketika berinteraksi.
Ia juga mengajak setiap orang mengevaluasi penggunaan ilmu, harta, tenaga, dan waktu sebagai amanah Allah untuk kepentingan bersama.
“kita hidup itu untuk Allah, hidup di tengah masyarakat dan memberikan manfaat bagi sesama.”
Bagi Agus, masyarakat merupakan medan untuk membuktikan pelaksanaan tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Kualitas ketakwaan seseorang akan tercermin dari kemampuannya mengelola keberagaman dan menjalankan amanah sosial dengan baik.
“Semakin tinggi output-nya menjadi takwa, semakin tinggi nilai kita.”






