MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto mengajak umat Islam membangun sikap optimis dengan senantiasa berprasangka baik kepada Allah. Menurutnya, optimisme diperlukan karena manusia memiliki keterbatasan dalam memahami makna dari setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya.
Hal itu disampaikan Mukhlis dalam kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Senin (31/08). Ia menjelaskan, optimisme dalam kehidupan seorang Muslim berkaitan erat dengan sikap husnuzan kepada Allah, termasuk ketika seseorang menghadapi takdir yang secara manusiawi dipandang sebagai sesuatu yang buruk.
“Optimis itu berarti sederhananya kita harus senantiasa berprasangka baik terhadap apa pun kejadian, termasuk takdir Allah SWT yang terjadi kepada kita, diri kita pribadi, keluarga, maupun masyarakat secara umum,” tuturnya.
Menurut Mukhlis, Al-Qur’an sendiri menggambarkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kelemahan. Salah satunya disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 28 bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Kelemahan tersebut dapat muncul dalam bentuk fisik maupun kondisi mental, termasuk kecenderungan mudah putus asa dan tidak sabar.
Namun, Al-Qur’an sekaligus memberikan jalan keluar dari kecenderungan tersebut. Mukhlis mengutip Surah Yusuf ayat 87 yang melarang manusia berputus asa dari rahmat Allah. Dua keterangan tersebut, menurutnya, tidak bertentangan, melainkan menunjukkan bahwa Al-Qur’an menjelaskan kondisi manusia sekaligus memberikan solusi atas kelemahannya.
“Allah menginformasikan secara utuh tentang manusia. Manusia memiliki sifat dan tabiat, termasuk mudah putus asa. Tetapi Allah juga menginformasikan solusinya,” jelasnya.
Mukhlis menjelaskan bahwa manusia memiliki dua potensi sebagaimana disebutkan dalam Surah Asy-Syams ayat 8, yakni kecenderungan kepada kefasikan dan ketakwaan. Karena itu, manusia dapat melakukan kebaikan, tetapi juga memiliki kemungkinan melakukan keburukan.
Kondisi tersebut membuat manusia perlu mengenali dirinya dan memahami kecenderungan yang ada dalam dirinya. Menurut Mukhlis, Al-Qur’an memberikan informasi mengenai karakter manusia sekaligus petunjuk untuk menghadapinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai persoalan dapat membuat seseorang mudah berpikiran negatif. Masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, hingga persoalan sosial dan politik sering kali membuat seseorang melihat kehidupannya secara pesimistis.
Padahal, kata Mukhlis, manusia kerap menilai sebuah peristiwa hanya berdasarkan apa yang terlihat saat itu. Padahal, sesuatu yang dianggap buruk dapat menyimpan kebaikan yang belum terlihat.
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 216 yang menjelaskan bahwa manusia dapat membenci sesuatu yang sebenarnya baik baginya dan menyukai sesuatu yang sebenarnya buruk baginya.
“Manusia itu kadang melihat sesuatu dari sudut pandang matanya saja. Sekilas menganggap sesuatu yang ia benci itu suatu keburukan. Padahal nanti ada kebaikan di baliknya,” ujarnya.
Karena itu, Mukhlis mengajak umat Islam melihat setiap peristiwa dengan “kacamata hikmah”. Dengan cara pandang tersebut, seseorang dapat menjaga prasangka baik kepada Allah meskipun sedang menghadapi keadaan yang sulit.
Ia mencontohkan penyakit. Seseorang yang sakit secara langsung akan melihat penyakit sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Namun, penyakit dapat menjadi ujian sekaligus sarana penghapus dosa.
Contoh lain adalah erupsi Gunung Merapi. Abu vulkanik dapat merusak kebun dan menyebabkan petani kehilangan hasil panen. Namun, setelah beberapa waktu, abu vulkanik dapat membuat tanah menjadi lebih subur.
“Abu vulkanik itu bagi kita melihatnya suatu keburukan bisa jadi itu adalah kebaikan,” katanya.
Menurut Mukhlis, kemampuan menemukan hikmah tidak selalu muncul secara spontan. Hal tersebut membutuhkan latihan secara terus-menerus. Seseorang perlu membiasakan diri bertanya tentang kebaikan dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap peristiwa yang dialaminya.
Mukhlis juga mengingatkan bahwa bentuk ujian setiap orang berbeda. Ada yang diuji melalui anak, pasangan, kesehatan, maupun harta. Karena itu, seseorang perlu belajar memahami ujian yang diterimanya tanpa terus-menerus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Ia menyarankan jamaah mempelajari Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari sebagai salah satu bacaan untuk memperdalam pemahaman tentang hikmah kehidupan.
Pada akhirnya, Mukhlis menegaskan bahwa seorang Muslim perlu terus melatih diri untuk husnuzan kepada Allah. Sikap tersebut bukan berarti menganggap semua persoalan mudah, melainkan meyakini bahwa manusia tidak selalu mampu melihat keseluruhan hikmah dari sebuah takdir.
“Semoga kita semua senantiasa dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang optimis, berprasangka baik kepada Allah SWT, selalu husnuzan kepada Allah, dan belajar terus-menerus untuk mengambil hikmah kebaikan dari setiap kejadian di dalam kehidupan ini,” pungkasnya.






