Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Krismuha di Kampus Muhammadiyah Bukan Fenomena Pinggiran

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Krismuha di Kampus Muhammadiyah Bukan Fenomena Pinggiran

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Fenomena Krismuha atau Kristen-Muhammadiyah bukan fenomena pinggiran, sebab mahasiswa baru di beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) di ‘pusat’ Muhammadiyah juga masih ada mahasiswa Krismuha.

Sebab, jika ada mahasiswa beragama selain Islam berkuliah di Universitas Muhammadiyah Papua, Unimuda Sorong, Maumere, Kupang, dan di kawasan-kawasan muslim minoritas itu sudah biasa; karena kerap kali kampus Muhammadiyah jadi pilihan– daripada tidak kuliah sama sekali.

Akan tetapi, fenomena Krismuha ini terjadi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Tercatat mahasiswa baru UMY Tahun Akademik 2026/2027 ada 56 mahasiswa baru yang beragama selain Islam, serta lebih dari 75 persen mahasiswa baru di UMY bukan berlatar belakang keluarga Muhammadiyah.

“Bahkan ada 56 non-muslim yang jadi mahasiswa baru, Katolik, Kristen, Budha, Hindu. Kita tidak mendorong mereka pindah agama tidak. Cuma mereka harus mengerti Islam, sebagai sebuah agama– mengetahuilah agama Islam itu rahmatan lil alamin,” ungkap Nurmandi Rektor UMY di sela-sela acara MATAF 2026 UMY pada Senin (7/9).

Masih dari kota yang sama, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) juga memiliki daya tarik tersendiri untuk mahasiswa selain dari agama Islam– atau lebih populer disebut sebagai Krismuha.

Dalam laporan yang diterima redaksi muhammadiyah.or.id, UNISA Yogyakarta untuk Tahun Akademik 2026/2027, selain jumlah mahasiswa barunya meningkat, kampus yang dikelola secara modern oleh perempuan berkemajuan ini juga menerima mahasiswa non muslim yang berjumlah 78 dari Hindu, Katolik, dan Kristen.

Situasi tak jauh beda juga dialami UAD, dari total mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 terdapat 35 mahasiswa yang beragama selain Islam. Mereka berasal dari keluarga Kristen, Katolik, dan Hindu. Jumlah ini diperkirakan masih bertambah, sebab sampai berita ini ditulis, penerimaan mahasiswa baru masih dibuka.

Ini bukan tentang angka, tapi soal rasa nyaman belajar di kampus Muhammadiyah bagi siapapun, sekaligus kenyataan bahwa Krismuha bukan fenomena pinggiran. Sebab di kota ‘pusat’ Muhammadiyah, PTMA masih diminati, padahal banyak pilihan kampus non-PTMA dengan berbagai tawaran.

Mayoritas Mahasiswa PTMA Bukan Dari Keluarga Muhammadiyah

Persyarikatan Muhammadiyah saat ini mengelola 165 PTMA yang tersebar di seluruh penjuru tanah air, serta satu di Malaysia yakni Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM) yang berdiri di negara bagian Perlis.

Ratusan layanan pendidikan tinggi yang disediakan Persyarikatan Muhammadiyah itu bersifat inklusif. Tidak hanya disediakan untuk warga Muhammadiyah, maupun umat Islam saja, tapi untuk semua anak bangsa sebagaimana yang diinginkan oleh pendahulu Muhammadiyah.

Sifat inklusi itu membuka peluang sama bagi seluruh putra-putri bangsa untuk mengakses pendidikan tinggi. Sehingga siapapun yang ingin berkembang dan mencari pencerahan diterima dengan tangan terbuka di kampus-kampus Muhammadiyah di manapun berada.

Potret itu terlihat jelas ketika Wakil Ketua Majelis Pustaka Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ismail Fahmi menyapa mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Di hadapan ribuan mahasiswa baru UMS dan UMM, Ismail Fahmi melemparkan pertanyaan tentang latar belakang keluarga para mahasiswa baru. Dan dari respon mahasiswa, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang dari keluarga Muhammadiyah jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding dari keluarga NU.

Dari tanggapan mahasiswa baru yang bersorak, Ismail Fahmi memperkirakan bahwa mahasiswa baru di UMS sebanyak 60 persen berasal dari keluarga NU, sementara mahasiswa baru di UMM diperkirakan sebanyak 90 persen mahasiswa barunya berasal dari keluarga NU.

Tinggalkan Balasan